Bisnis & Ekonomi

Rupiah Hari Ini Cenderung Terkonsolidasi Saat Minyak Turun, Yield UST Tetap Tinggi

×

Rupiah Hari Ini Cenderung Terkonsolidasi Saat Minyak Turun, Yield UST Tetap Tinggi

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak dengan kecenderungan terkonsolidasi di pasar spot. Pada saat yang sama, pasar NDF juga menunjukkan respons yang lebih defensif.

Berdasarkan pemantauan pada pagi hari, rupiah masih bisa menguat tipis. Rupiah tercatat naik 0,06% dan berada di level Rp17.924/US$ pada pukul 06.40 WIB.

Lonjakan rupiah tersebut tidak terjadi secara agresif, melainkan lebih terlihat sebagai upaya mempertahankan posisi. Sinyal defensif dari pasar Non-Deliverable Forward (NDF) menambah gambaran bahwa ruang pergerakan diperkirakan akan terbatas.

Dari sisi komoditas, harga minyak mentah brent disebut kembali melandai. Brent berada di kisaran US$98/barel setelah terpangkas 0,92%.

Meski minyak menunjukkan pelemahan, penguatan rupiah tetap tidak bebas dari penahan. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) terhadap enam mata uang utama masih bertahan di 101,45, sehingga tekanan terhadap rupiah tetap terasa.

Perhatian pasar juga tertuju pada rilis data inflasi AS yang berkaitan dengan Price Consumer Expenditure (PCE). Angka PCE yang dirilis disebut lebih rendah dari perkiraan pasar.

PCE tahunan tercatat 3%, lebih rendah dibanding survei 3,3%. Sementara itu, PCE bulanan berada di 0,2%, juga lebih rendah dari ekspektasi 0,3%.

Reaksi pasar kemudian terlihat pada penyesuaian ekspektasi terhadap langkah suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober. Pelaku pasar memangkas sebagian ekspektasi kenaikan suku bunga setelah data PCE keluar.

Namun, peluang kenaikan tetap masih diperhitungkan oleh pasar. Pelaku pasar masih memperkirakan adanya kesempatan kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sebesar 36%.

Persentase peluang tersebut turun dibandingkan estimasi sebelum rilis data PCE. Sebelumnya, peluang kenaikan FFR diperkirakan sebesar 50% sebelum data PCE diumumkan pada malam waktu Indonesia.

Dengan kondisi tersebut, dinamika pasar tampak berjalan dalam dua arah yang saling menyeimbangkan. Minyak yang melandai menjadi salah satu faktor pendukung, sementara penguatan rupiah tetap tertahan oleh tekanan lain.

Dalam konteks yang sama, yield UST yang masih tinggi disebut menjadi salah satu pertimbangan utama. Tekanan inflasi yang relatif masih menjadi sorotan membuat rupiah sulit bergerak jauh, sehingga konsolidasi cenderung lebih dominan.

Secara keseluruhan, pasar saat ini memosisikan rupiah pada jalur yang lebih bertahan. Rupiah diproyeksikan mempertahankan arah terkonsolidasi, dengan pergerakan yang dipengaruhi oleh kombinasi faktor minyak, indikator dolar, serta hasil pembacaan terhadap data PCE dan ekspektasi kebijakan The Fed.

Kenaikan tipis rupiah pada pagi hari pada dasarnya lebih menggambarkan respons jangka pendek ketimbang perubahan tren yang besar. Pergerakan di pasar spot yang cenderung terkonsolidasi, lalu diikuti respons Non-Deliverable Forward (NDF) yang lebih defensif, memberi sinyal bahwa pelaku pasar memilih pendekatan menjaga posisi. Akibatnya, potensi penguatan tambahan lebih dibatasi oleh kecenderungan pasar yang tetap menilai ruang pergerakan relatif sempit.

Dari sisi eksternal, pelemahan harga minyak mentah Brent tetap menjadi penopang sentimen. Namun, penguatan yang muncul tidak berjalan tanpa hambatan, karena tekanan dari penguatan dolar belum sepenuhnya mereda. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama masih bertahan di 101,45, sehingga faktor dolar tetap menjadi rem bagi rupiah. Di saat yang sama, yield obligasi UST yang masih dinilai tinggi ikut menambah pertimbangan, karena fokus pasar pada tekanan inflasi membuat kondisi pendanaan relatif tetap ketat.

Setelah rilis data inflasi AS yang terkait Price Consumer Expenditure (PCE), pasar melakukan penyesuaian ekspektasi kebijakan The Fed untuk Oktober. PCE tahunan tercatat 3%, lebih rendah dari survei 3,3%, dan PCE bulanan berada di 0,2% dibanding ekspektasi 0,3%. Dengan pembacaan yang lebih rendah dari perkiraan, pelaku pasar memang memangkas sebagian ekspektasi kenaikan suku bunga, tetapi peluang kenaikan tetap dihitung, yakni sebesar 36% untuk kenaikan Fed Fund Rate (FFR), turun dari 50% sebelum rilis PCE. Pada titik ini, kombinasi penyesuaian ekspektasi dan faktor dolar serta minyak membuat arah pasar berjalan saling menyeimbangkan.