Bisnis & Ekonomi

SIG/SMGR Pangkas Utang Berbunga Sekitar Rp3,3 T hingga Semester I 2026

×

SIG/SMGR Pangkas Utang Berbunga Sekitar Rp3,3 T hingga Semester I 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: SIG Pangkas Utang Berbunga Rp3,3 T hingga Semester I 2026 - Market

jurnalistik.co.id – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) melaporkan adanya penurunan pada utang berbunga yang dibukukan perseroan menjelang semester I 2026. Langkah ini, menurut manajemen, berjalan seiring penguatan arus kas dan upaya menjaga struktur keuangan.

Dalam keterangannya, Direktur Keuangan dan Risk Management SMGR, Sigit Prastowo, menyebut perseroan memangkas utang berbunga sekitar Rp3,3 triliun hingga semester I 2026. Ia menyampaikan penyesuaian tersebut tercermin pada nilai utang berbunga yang berada pada tingkat yang lebih rendah.

Sigit menjelaskan, utang berbunga SMGR tercatat turun menjadi Rp8,07 triliun pada semester I 2026. Angka itu dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih berada di Rp11,4 triliun.

Pernyataan tersebut disampaikan Sigit pada Selasa (8/9/2026). Dengan perbandingan yang disebutkan perseroan, penurunan utang berbunga terjadi dalam rentang semester I 2025 menuju semester I 2026.

Manajemen juga merinci dampak penurunan utang tersebut pada indikator permodalan. Rasio utang terhadap ekuitas SMGR tercatat sebesar 0,18 kali pada semester I 2026.

Selain itu, rasio utang terhadap EBITDA berada di level 1,77 kali. Sigit menyampaikan bahwa metrik-metrik tersebut menjadi bagian dari gambaran kondisi struktur keuangan perseroan pada periode berjalan.

Lebih lanjut, perseroan menilai kemampuan dalam membayar bunga ikut membaik. Hal ini tercermin dari rasio EBITDA terhadap beban bunga yang meningkat menjadi 6,7 kali, dari 4,9 kali pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Sigit, kombinasi penurunan utang berbunga dan perbaikan indikator kemampuan pembayaran bunga turut mendukung posisi keuangan yang dinilai tetap terjaga. Ia menekankan bahwa perseroan melihat kondisi leverage yang semakin sehat sejalan dengan arus kas yang lebih kuat.

Penguatan posisi keuangan SMGR juga didukung kinerja arus kas dari aktivitas operasi. Pada semester I 2026, arus kas aktivitas operasi perseroan mencapai Rp2,53 triliun, lebih tinggi dibandingkan Rp1,9 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan capaian tersebut, manajemen menyatakan bahwa perseroan memelihara struktur keuangan melalui kombinasi penurunan utang berbunga dan penguatan arus kas. Sigit menyimpulkan bahwa posisi keuangan SIG (SMGR) tetap terjaga solid, ditopang oleh arus kas yang kuat serta tingkat leverage yang dinilai lebih sehat.

Perubahan yang ditunjukkan perseroan pada semester I 2026 tidak hanya berhenti pada penurunan nominal utang berbunga. Manajemen juga mengaitkannya dengan membaiknya kemampuan memenuhi kewajiban bunga, sehingga beban pembayaran bunga yang harus ditanggung perusahaan tampak lebih ringan dibandingkan periode sebelumnya. Dengan kata lain, penyesuaian struktur pembiayaan berjalan bersamaan dengan peningkatan metrik yang menggambarkan efektivitas arus pendapatan dan kapasitas kinerja untuk menyerap biaya bunga.

Dari sisi struktur permodalan, rasio utang terhadap ekuitas yang berada di 0,18 kali menjadi sinyal bahwa komposisi pembiayaan relatif lebih terkendali dibandingkan kondisi setahun sebelumnya. Perseroan juga mencatat rasio utang terhadap EBITDA berada pada 1,77 kali, yang memperlihatkan hubungan antara posisi utang dan kemampuan menghasilkan laba operasional sebelum beban non-kas. Keberlanjutan perbaikan leverage tersebut kemudian diperkuat oleh perhitungan EBITDA terhadap beban bunga yang meningkat menjadi 6,7 kali, dari 4,9 kali pada periode yang sama sebelumnya.

Selain indikator leverage dan beban bunga, perseroan menempatkan penguatan arus kas sebagai penopang utama. Pada semester I 2026, arus kas aktivitas operasi tercatat mencapai Rp2,53 triliun, lebih tinggi dari Rp1,9 triliun pada semester I 2025. Kenaikan ini dinilai memberi ruang bagi perseroan untuk menjaga ritme kebutuhan pendanaan serta mempertahankan struktur keuangan yang dinilai tetap solid. Dengan kombinasi penurunan utang berbunga dan peningkatan arus kas operasi, manajemen menyimpulkan kondisi keuangan perusahaan berada pada jalur yang lebih sehat serta terjaga hingga periode berjalan.