Internasional

Bukan Diet Mediterania: Alex Armitage Makan Khusus dari Shetland Selama September

×

Bukan Diet Mediterania: Alex Armitage Makan Khusus dari Shetland Selama September

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Forget the Mediterranean diet, I'm eating only food from Shetland for a month

jurnalistik.co.id – Dr Alex Armitage, konsultan dokter anak sekaligus anggota dewan dari Scottish Greens, menjalani tantangan yang jauh dari gaya makan populer. Selama bulan September, ia memilih untuk hanya mengonsumsi makanan yang diproduksi di Shetland.

Program ini menjadi bagian dari Shetland Food Month. Pertanyaannya sederhana namun berat: apakah seseorang benar-benar bisa bertahan hanya dengan pasokan pangan lokal di kepulauan tersebut, tanpa mengambil dari luar?

Armitage menjelaskan bahwa ia sudah mulai mempersiapkan bahan sejak awal. Ia sempat pergi dengan kayak untuk menangkap ikan, lalu juga mencari makanan di alam seperti jamur dan berbagai buah beri. Ia bahkan menikmati sayuran dari croft milik tetangganya.

Gagasan tantangan ini berangkat dari pengamatannya terhadap pola hidup masyarakat Shetland. Ia mengatakan pernah tumbuh di London, dan mendengar cerita masa kecil neneknya di Shetland, yang membuatnya penasaran bagaimana orang-orang di wilayah itu bisa bertahan. Shetland sendiri letaknya lebih dari 100 mil di utara daratan utama Skotlandia.

Dalam kondisi normal, penduduk tetap bergantung pada pengiriman bahan pangan yang datang melalui feri Northlink dari Aberdeen. Namun, Armitage mengaku khawatir cuaca yang kian sering bergeser—terutama laut yang makin bergejolak—dapat membuat kepulauan tertahan lebih lama. Ia mempertanyakan apa yang terjadi bila feri tidak tiba selama seminggu, sementara rak-rak supermarket mulai kosong.

“Jika kami punya satu minggu feri tak datang ke Shetland dan Tesco kehabisan makanan, apa yang terjadi kalau hal itu berlangsung lebih lama, lalu kami benar-benar harus bertahan dengan kemampuan sendiri di sini?” ungkapnya. Ia menilai pertanyaan itu membawanya pada sebuah “eksperimen pemikiran” untuk membuktikan apakah orang dapat bertahan hanya dengan hasil Shetland.

Untuk urusan menu harian, Armitage mengaku menyukai rutinitas sarapan besar. Ia menyebut ia memulai pagi dengan telur, ikan, dan sayuran yang “digerakkan” oleh mentega Shetland. Pada kesempatan tertentu, ia mengatakan ia membuat Eggs Florentine dari telur yang didonasikan, sekaligus menyiapkan stok herring dalam jumlah besar untuk digoreng—ikan yang menurutnya sangat tradisional untuk Shetland.

Mayoritas bahan makanan yang ia konsumsi berasal dari donasi. Meski demikian, ia tetap membeli susu dan krim Shetland dari toko lokal. Ia juga menggunakan bulan tantangan ini untuk menggali lebih dalam cerita-cerita di balik makanan Shetland, bukan hanya daftar bahan yang tersedia.

Di luar pengambilan ikan, ia menekankan bahwa ia juga mencari bahan dari lokasi-lokasi tertentu. Misalnya, ia menyebut jamur yang ia dapat dari Burra, lalu blackberry yang ia petik dari salah satu jalur di Lerwick. Ia juga kembali menegaskan bahwa ia menggunakan kayak untuk aktivitas memancingnya.

Soal karbohidrat, Armitage menyoroti peran kentang Shetland. Ia menyebut “tatties” di sana melimpah dan mudah ditemui, serta menyatakan itu menjadi sumber karbohidrat favoritnya tanpa keraguan. Di sisi lain, ia merasa sumber karbohidrat lain menjadi sangat sulit ketika seluruh pilihan harus berasal dari Shetland.

Tentunya ada pula hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya diproduksi dalam iklim Shetland yang dingin. Saat ditanya bagian apa yang paling ia rindukan dari kebiasaan sebelumnya selama tantangan sebulan itu, ia menjawab dengan jujur: kafein.

Armitage mengatakan ia sudah melewati fase penarikan kafein, tetapi prosesnya tidak mudah. Menurutnya, masa tersulit berlangsung sekitar tiga hari, ketika ia merasakan sakit kepala terus-menerus dan keadaan itu “tidak menyenangkan”.

Ini bukan kali pertama. Ia menjelaskan bahwa ini tahun ketiga ia menjalani tantangan serupa: makan hanya dari produksi Shetland selama satu bulan. Baginya, kegiatan ini sekaligus hiburan—dan pada saat yang sama menjadi pengingat penting tentang rapuhnya ketahanan pangan di kepulauan.

Dalam eksekusinya, ia sempat menggambarkan suasana hidangan lokal seperti jamuan dengan boiled tatties, bawang, tomat, dan ketumbar, yang dipadukan mentega Shetland serta jamur liar. Ia juga menyebut whipped cream dari Shetland Dairy, yang disajikan bersama raspberry lokal dan madu.