Bisnis & Ekonomi

Suahasil: Spread SBN RI vs US Treasury 10 Tahun Menyempit, Tinggal 188 bps

×

Suahasil: Spread SBN RI vs US Treasury 10 Tahun Menyempit, Tinggal 188 bps

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Suahasil Klaim Spread SBN RI & AS Hanya 188 Bps: Inflow Terjaga - Market

jurnalistik.co.id – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menyebut selisih imbal hasil atau spread Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia terhadap obligasi Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun terus menyempit.

Menurut Menteri Keuangan Suahasil Nazara, hingga per 7 Oktober 2026, spread antara keduanya berada di kisaran 188 basis points (bps).

Suahasil menyampaikan hal itu dalam Investor Daily Summit (IDS) di Jakarta pada Kamis (8/10/2026). Ia menautkan penyempitan spread dengan indikator yang dianggap penting untuk daya tarik aset Indonesia bagi investor global.

“Dengan kita punya spread yang lebih kecil, kita tadi seperti saya sampaikan di depan telah mampu menjaga capital inflow saat ini, termasuk melalui SBN,” ujar Suahasil dalam kesempatan tersebut.

Spread SBN–UST dan sinyal bagi investor

Dalam penjelasannya, Suahasil menekankan bahwa makin sempitnya gap persentase imbal hasil SBN RI dibandingkan US Treasury tenor 10 tahun dipandang sebagai sinyal yang relevan saat investor mempertimbangkan alokasi dan minat terhadap aset Indonesia.

Ia mengaitkan sinyal tersebut dengan kemampuan untuk mempertahankan arus masuk modal (capital inflow) yang, menurut keterangannya, turut didukung oleh instrumen berbasis SBN.

Dengan demikian, narasi pemerintah berfokus pada kondisi spread yang lebih rendah sebagai bagian dari upaya menjaga kepercayaan pasar dan keterkelolaan daya tarik pendanaan.

Suahasil juga menempatkan indikator ini sebagai referensi dalam membaca posisi Indonesia di mata investor global. Ketika spread dipersempit, ia menyebutnya sebagai faktor yang memengaruhi persepsi investor terhadap daya tarik aset yang ditawarkan.

Perbandingan dengan beberapa negara

Lebih lanjut, Suahasil menyebut posisi spread RI yang berada di level 188 bps tersebut juga lebih rendah dibanding sejumlah negara pembanding.

Ia mencantumkan bahwa India tercatat 196 bps, Filipina 240 bps, Afrika Selatan 379 bps, Meksiko 409 bps, serta Brasil 765 bps.

Menurut kerangka penjelasan yang disampaikan, rentang spread yang lebih besar pada sejumlah negara pembanding diposisikan sebagai latar yang menegaskan bahwa Indonesia berada pada level yang lebih sempit pada periode yang dimaksud.

Perbedaan level spread antarnegara itu kemudian dipakai sebagai konteks untuk menilai posisi relatif Indonesia dalam menarik capital inflow melalui pasar obligasi.

Dengan angka pada 7 Oktober 2026 yang disebut sebesar 188 bps, pemerintah menggarisbawahi bahwa penyempitan spread masih terus berlangsung dan menjadi salah satu indikator yang dipantau.

Dalam kesempatan IDS, Suahasil menyampaikan bahwa menjaga capital inflow menjadi tujuan yang terkait langsung dengan kondisi spread yang lebih kecil, khususnya melalui peran SBN sebagai instrumen yang mendukung arus modal.

Sejalan dengan itu, pembahasan berakhir pada pesan bahwa pergerakan spread SBN RI versus US Treasury tenor 10 tahun dipandang sebagai salah satu sinyal penting untuk menilai daya tarik Indonesia di tengah pertimbangan investor global.

Dalam presentasinya di Investor Daily Summit, Suahasil Nazara menempatkan perkembangan spread itu sebagai bagian dari bacaan pasar yang sederhana namun dianggap informatif. Ia menggambarkan bahwa ketika selisih imbal hasil SBN RI terhadap US Treasury tenor 10 tahun mengecil, kondisi tersebut dapat terbaca sebagai sinyal yang membantu investor menilai posisi relatif imbal hasil aset Indonesia dibanding patokan global.

Pemerintah, menurut penuturannya, juga mengaitkan pembacaan indikator tersebut dengan upaya mempertahankan minat investor melalui arus masuk modal yang saat ini tetap dijaga. Dalam kerangka penjelasan itu, SBN diposisikan sebagai instrumen yang menopang dinamika tersebut, sehingga spread yang lebih sempit tidak hanya menjadi angka pembanding, tetapi juga menjadi rujukan untuk memotret daya tarik pendanaan Indonesia di hadapan pelaku pasar internasional.