jurnalistik.co.id – Duel babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Brasil dan Jepang akan menjadi laga penentu untuk memperebutkan tiket ke babak 16 besar. Pertandingan ini digelar di Stadion Houston, TX, Amerika Serikat.
Laga Brasil vs Jepang berlangsung pada Senin (29/6/2026) waktu setempat, atau pada Selasa pukul 00.00 WIB. Bagi kedua tim, hasil pertandingan membawa konsekuensi langsung karena ini menjadi tahap gugur.
Secara klasemen fase grup, Brasil melaju ke babak gugur sebagai juara Grup C dengan catatan yang impresif. Sementara itu, Jepang menyelesaikan kompetisi Grup F sebagai runner-up setelah menampilkan performa yang dinilai solid selama penyisihan.
Jelang pertandingan, pelatih Brasil Carlo Ancelotti mempercayakan posisi ujung tombak kepada Matheus Cunha. Keputusan ini membuat Cunha memulai laga dari awal.
Di lini depan Brasil, Matheus Cunha akan mendapat dukungan dari Vinicius Junior serta Rayan Vitor Simplicio Rocha yang ditempatkan dari sisi sayap. Paket serangan ini menjadi penopang utama permainan Brasil sejak menit awal.
Untuk menjaga keseimbangan di lini tengah, Ancelotti menurunkan trio Casemiro, Bruno Guimaraes, dan Lucas Paqueta. Kombinasi tersebut diposisikan agar kerja penguasaan bola dan transisi tim tetap terjaga.
Sementara itu, Alisson Becker dipilih sebagai penjaga gawang utama. Di belakang, Brasil menampilkan Danilo, Marquinhos (C), Gabriel Magalhaes, serta Douglas Santos.
Neymar kembali menjadi bagian dari skuad, tetapi untuk laga ini ia memulai pertandingan dari bangku cadangan. Status serupa juga pernah ia jalani saat Brasil menghadapi Skotlandia pada fase grup.
Susunan pemain Brasil (4-3-3) menempatkan Alisson sebagai kiper. Danilo, Marquinhos (C), Gabriel Magalhaes, dan Douglas Santos mengisi lini pertahanan, sebelum Casemiro, Bruno Guimaraes, serta Lucas Paqueta menjalankan tugas di tengah.
Di sisi Jepang, pelatih Hajime Moriyasu mengusung skema 3-4-2-1. Dengan formasi tersebut, Jepang menyiapkan susunan yang menyeimbangkan pertahanan berlapis dan dukungan untuk lini serang.
Jepang menurunkan Dion Suzuki sebagai penjaga gawang. Di barisan bek, Moriyasu mempercayakan Shogo Taniguchi, Hiroki Ito, dan Takehiro Tomiyasu untuk menjadi tumpuan utama pertahanan.
Peran di lini berikutnya diisi oleh kombinasi Doan (C), Sano, Kamada, dan Nakamura. Di formasi 3-4-2-1, keempat pemain ini diposisikan untuk menghubungkan permainan dari belakang menuju area serangan.
Untuk bagian depan, Ayase Ueda menjadi ujung tombak yang diharapkan mampu membongkar pertahanan Brasil. Ueda mendapat sokongan dari Daizen Maeda serta Junya Ito, yang berperan sebagai penopang serangan dari posisi yang lebih menyerang.
Susunan pemain Jepang (3-4-2-1) menempatkan Suzuki sebagai kiper, dengan Tomiyasu, Taniguchi, serta Ito sebagai tiga bek. Lalu Doan (C), Sano, Kamada, dan Nakamura mengisi area tengah, sebelum Ito, Maeda, dan Ueda membentuk trio yang bergerak di lini depan.
Dengan formasi dan komposisi yang dipilih masing-masing pelatih, laga Brasil vs Jepang menjadi panggung bagi keputusan taktis yang menentukan sejak awal. Bagi Brasil, penempatan Matheus Cunha sebagai starter menegaskan fokus pada opsi lini depan yang siap tampil sejak menit pertama.
Sementara bagi Jepang, skema 3-4-2-1 memberi kerangka untuk merapatkan pertahanan dan tetap menyediakan opsi serangan melalui Ueda serta dukungan Maeda dan Junya Ito. Pada akhirnya, dua susunan pemain ini akan menjadi dasar perlawanan dalam pertandingan yang mempertaruhkan satu tempat menuju babak 16 besar.
Di menit-menit awal, Brasil memiliki momentum taktis melalui struktur 4-3-3 yang menempatkan Cunha di peran terdepan dengan dukungan Vinicius Junior serta sayap yang menjalankan fungsi lebar. Pola ini memberi ruang bagi transisi cepat dari lini tengah menuju area pertahanan Jepang, tanpa mengubah karakter permainan sejak peluit pertama.
Bagi Jepang, rancangan 3-4-2-1 berfokus pada menjaga jarak antarlini lewat duet Doan dan Sano yang terkoneksi dengan Kamada serta Nakamura. Dari pola tersebut, bola diarahkan untuk memberi kesempatan kepada Ueda, Maeda, dan Junya Ito bergerak lebih agresif, sehingga Brasil harus bekerja lebih rapat ketika mencoba membangun tekanan dari sisi tengah.












