Internasional

Isle of Skye: keluhan campervan dengan kutipan “I see tourists pee in front of my house”

×

Isle of Skye: keluhan campervan dengan kutipan “I see tourists pee in front of my house”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 'I see tourists pee in front of my house': The campervan problem on the Isle of Skye

jurnalistik.co.id – HIGHLANDS, ISLE OF SKYE — Isle of Skye di Kepulauan Highlands menjadi tujuan favorit ribuan pelancong dengan campervan saat musim liburan. Di sisi lain, sejumlah keluhan dari warga pulau menunjukkan bahwa sebagian kunjungan juga menghadirkan masalah serius, mulai dari sampah hingga limbah toilet.

Lebih dari 30.000 perjalanan menggunakan campervan dan motorhome dilakukan ke Skotlandia Highlands setiap tahun, dan banyak di antaranya menyambangi Isle of Skye. Bagi penduduk setempat, wisatawan berperan penting bagi roda ekonomi daerah.

Namun, laporan BBC menyebut ada tantangan yang turut mengiringi arus kedatangan tersebut. Aktivitas wisata yang tidak bertanggung jawab dinilai meninggalkan sampah, bahkan membuang limbah sanitasi di lanskap yang indah.

Julia Dawber, warga yang rumahnya menghadap hamparan garis pantai di Isle of Skye, mengatakan tempatnya dapat menjadi area parkir bagi banyak kendaraan. Ia menyebut “as many as nine campervans can park up near the shore at any one time” dan pemandangan itu membuatnya bisa melihat aktivitas pengunjung.

Menurut Julia, perilaku sebagian wisatawan membuatnya merasa terganggu karena tidak menjaga jarak saat melakukan kebutuhan. Ia menuturkan, “When I’m having dinner people are coming out and going for a pee – I can see it,” serta menambahkan, “There’s tissue sometimes left. It’s just absolutely disgusting.”

Julia juga menyatakan, situasi tersebut terjadi meski area tersebut tidak memiliki fasilitas toilet. Ia menjelaskan, “I know that there’s no toilet facilities here but there are trees and there are rocks and you could easily be discreet, but some of the people are just choosing to be brazen and they’re just doing it right by the road.”

Di sudut pandang lain, Danielle Stewart memotret manfaat campervan secara langsung bagi dirinya sendiri. Ia mengatakan kebebasan perjalanan itu menjadi bagian dari daya tarik van life: “It’s freedom – you can wake up in beautiful places. That’s the best thing for sure,”

Danielle menambahkan bahwa pengalaman perjalanan selama musim dingin memperlihatkan perbedaan ketersediaan fasilitas di berbagai negara. Ia mengungkap, “Over last winter I went to Spain and Portugal for three months and that was great – it’s a very different van life in Europe though, because they have facilities.”

Fasilitas terbatas di beberapa titik

BBC juga menyoroti bahwa fasilitas seperti toilet umum dan titik pembuangan limbah menjadi persoalan di sejumlah bagian Skye. Pulau ini dihuni hanya sedikit lebih dari 10.000 penduduk, dengan kawasan perkotaan yang minim, sementara lanskap didominasi pegunungan yang dramatis, garis pantai yang terjal, dan lahan pertanian kecil (crofts).

Danielle, yang kerap bepergian menggunakan campervan baik untuk pekerjaan maupun waktu luang, menyebut Skye sebagai salah satu destinasi rutin. Meski demikian, ia menekankan pentingnya wisata yang tetap menghormati ruang dan lingkungan sekitar.

Salah satu dampak yang dikeluhkan juga datang dari aktivitas pembuangan limbah di lahan. Crofter Calum Beaton mengaku menemukan limbah kimia dari toilet dibuang ke tempat sampah rumahnya, sementara kotoran manusia juga ia temukan di tanah yang ia kelola.

Calum menilai pelaku berasal dari pengunjung yang berhenti semalam di pinggir jalan dengan campervan maupun mobil. Ia menceritakan kejadian yang ia lihat langsung: “I remember a day last year, another lad was with me and waste and paper had been left there and he had taken sheep in and the next thing we noticed that the dog was covered in it,”

Ia melanjutkan, “The dog had to be cleaned before being put back in the van.” Cerita itu menggambarkan bagaimana pencemaran tidak berhenti pada titik buang, tetapi bisa berimbas ke hewan dan aktivitas keseharian di area setempat.

Meski demikian, tidak semua warga memandang situasi dengan nada yang sama. Sarah MacKinnon, pemilik Mrs Mack’s takeaway di Torrin, wilayah timur daya barat Skye, mengatakan mayoritas pengunjung bertindak bertanggung jawab.

Ia menuturkan ada perubahan jumlah pelanggan dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun tetap menilai kondisi umum relatif terjaga. “We’ve been at this for six years now, so it’s definitely a little bit quieter this year,” katanya, lalu menambahkan, “I must say that this place is clean and tidy.”

Sarah menyebut pengalaman konkret yang ia lihat di tempat usahanya. “We had 16 campers up there, young teenagers, last night. There’s no mess. I would say on the whole, 95% of people are pretty good.” Ia menekankan bahwa mayoritas pengunjung, setidaknya menurut pengamatannya, menjaga kebersihan.

“Leave no trace” dan batas hak akses

Akses dan tanggung jawab pengunjung di pedalaman Skotlandia dirangkum dalam Scottish Outdoor Access Code yang menekankan prinsip “leave no trace”. NatureScot menjelaskan kode ini disusun berdasarkan tiga gagasan: menghormati kepentingan pihak lain, merawat lingkungan, serta mengambil tanggung jawab atas tindakan sendiri.

Dalam kerangka hak akses, wild camping dipahami sebagai aktivitas dengan jumlah orang yang kecil menggunakan tenda ringan. Saat meninggalkan lokasi, pengunjung diharapkan meninggalkan “no trace” agar jejak keberadaan di bentang alam tidak merusak lingkungan.

Namun, NatureScot menegaskan bahwa kode tersebut tidak memberi hak untuk memarkir mobil atau menginap semalam dengan campervan maupun motorhome di tepi jalan. Perbedaan antara “akses bertanggung jawab” dan “menetap di pinggir jalan” menjadi titik yang ditekankan dalam keluhan warga.

Bagi pasangan Beate dan Heiner Delbach, gagasan menghormati lingkungan lokal dianggap sebagai hal yang wajar. Beate mengatakan, “It’s very important for us because we want to respect nature and it’s also the respect for other people.” Ia menambahkan, “I think for us it’s normal.”

Dalam laporan tersebut, tampak jelas bahwa diskusi bukan semata tentang wisata campervan, melainkan tentang cara mengakses yang sesuai dengan prinsip tanggung jawab. Dari sudut pandang warga, tantangan terbesar muncul saat kebersihan dan batas perilaku tidak dijaga, sementara di sisi lain ada pengunjung yang dinilai sudah mengikuti etika berkunjung dengan baik.

Sejalan dengan itu, pesan yang ingin disampaikan tetap sama: wisata ke alam yang indah seharusnya tidak meninggalkan dampak, terutama ketika fasilitas terbatas dan lanskap menjadi ruang bersama bagi penduduk setempat dan para pelancong.