Internasional

Putin Akui Kekurangan Bahan Bakar Imbas Serangan Ukraina, Namun Tegaskan Bukan Krisis

×

Putin Akui Kekurangan Bahan Bakar Imbas Serangan Ukraina, Namun Tegaskan Bukan Krisis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Putin makes rare admission of fuel shortages caused by Ukrainian strikes

jurnalistik.co.id – Presiden Vladimir Putin akhirnya mengakui adanya masalah pasokan bahan bakar yang berkaitan dengan serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia. Namun, dalam pernyataannya ia menegaskan bahwa situasi tersebut tidak berada pada tingkat krisis.

Dalam perbincangan dengan pejabat senior serta eksekutif minyak, Putin menyampaikan bahwa dampak serangan udara dan drone Ukraina telah terasa langsung di berbagai sektor. Ia menyebut masih ada gangguan yang berkaitan dengan distribusi bahan bakar, baik bagi masyarakat maupun pelaku usaha.

Putin mengatakan, “You’re well aware that problems persist for both motorists and businesses,” yang ia lanjutkan dengan penjelasan soal kondisi di lapangan. Ia menambahkan, “Unfortunately, there are still queues at petrol stations, and finding the right grade of petrol isn’t always easy.”

Ia juga menyinggung kesulitan yang dihadapi industri pertanian. Menurut Putin, panen “depended on” terpenuhinya jadwal ketersediaan bahan bakar, sehingga ketepatan pasokan menjadi penentu kelancaran kerja sektor pangan.

Sejumlah pembatasan dilaporkan tengah diberlakukan di wilayah-wilayah Rusia. Menurut media Rusia independen Mediazona, 56 Russian regions kini menerapkan pembatasan bahan bakar.

Dalam wawancara terpisah dengan televisi pemerintah Rusia, Putin berbicara lebih terbuka mengenai kaitan serangan Ukraina dengan kondisi pasokan. Ia mengakui bahwa serangan itu “obviously creating problems”, sembari menyatakan, “We are currently seeing a certain shortage,” tetapi menegaskan, “but it’s not critical.”

Putin juga menjanjikan langkah perlindungan yang ditujukan untuk menjaga infrastruktur energi Rusia tetap beroperasi. Ia menyatakan akan meningkatkan produksi pertahanan udara, dan mempercepat proses perbaikan fasilitas pengolahan minyak (refineries) yang disebut terkena serangan Ukraina.

Berkaitan dengan wilayah Krimea, Putin mengatakan hanya tersisa “a few days’ supply”. Meski demikian, ia menyatakan “confident” bahwa pasokan tambahan akan segera didatangkan.

Pengakuan Putin dinilai jarang dilakukan dengan tingkat keterbukaan seperti ini, terutama karena dampak serangan terhadap sektor energi telah lama terlihat. Di lapangan, disebut adanya antrean di SPBU, pengaturan jatah yang meluas, dan sejumlah kilang yang terkena dampak. Di Krimea sendiri, ada larangan bagi warga untuk mengisi tangki sehingga prioritas dapat diberikan bagi kendaraan militer.

Pengakuan itu juga dianggap signifikan karena posisi simbolis Krimea bagi banyak warga Rusia. Sejak Moskow memulai pendudukan Krimea pada 2014, wilayah tersebut dikembangkan menjadi pangkalan militer dan titik strategis untuk mengendalikan Laut Hitam, serta digunakan untuk melancarkan invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada 2022.

Dalam wawancara televisi tersebut, Putin memberi petunjuk mengenai alasan ia memilih untuk mengakui masalah pasokan secara lebih langsung. Ia berargumen bahwa Ukraina berusaha “divide Russian society, weaken its support for the war and increase support for negotiations.”

Ia menegaskan sikapnya, “We won’t give them that chance,” seraya menambahkan bahwa serangan jarak jauh Ukraina memiliki “absolutely no impact on the situation at the front line”. Pernyataan ini ditantang oleh otoritas di Kyiv.

Kyiv menyatakan serangan jarak jauh dirancang bukan hanya untuk membawa perang lebih dekat kepada masyarakat biasa, tetapi juga untuk memaksa para komandan militer mengalihkan sumber daya dari garis depan. Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina juga disebut terus meningkatkan kepercayaan diri, dengan melakukan serangan mendalam ke St Petersburg dan Moskow.

Selain itu, Ukraina dikatakan makin gencar menyerang Krimea serta secara terbuka berupaya menimbulkan korban maksimum di garis depan. Menanggapi itu, Kremlin pada Senin menyatakan rencana Rusia tidak berubah.

Menurut Kremlin, tujuan tetap sama, yaitu memaksa pasukan Ukraina meninggalkan empat wilayah timur-selatan yang diklaim Moskow sebagai bagian dari wilayahnya, sementara Kyiv menolak klaim tersebut. Juru bicara Dmitry Peskov menyatakan, “Our position is well known,”.

Dalam konteks kemungkinan pembatasan permusuhan dan pembicaraan, Putin mengatakan Ukraina menawarkan untuk “limit hostilities and begin talks”. Ia menolak tawaran tersebut dengan menyebutnya sebagai upaya Kyiv untuk membeli waktu guna menyusun kembali kekuatan dan persenjataan.

Putin berujar, “It is clear why this proposal is being made, because our counter-strikes deep into Ukrainian territory are much stronger, have greater impact and are, frankly, more destructive,”. Ia juga mengklaim serangan Kyiv terhadap Rusia ditujukan untuk menjadi “salvation” bagi tentara Ukraina.

Namun, Putin menambahkan klaim bahwa tentara Ukraina berada dalam kondisi “catastrophically” depleted. Ia menutup dengan pernyataan, “But saving the Kyiv regime is not part of our plans.”