jurnalistik.co.id – Perubahan regulasi MotoGP mulai musim depan memunculkan pro-kontra soal kecepatan catatan waktu. Mulai 2027, kelas utama akan memakai mesin 850 cc sebagai pengganti 1.000 cc, sekaligus mengubah sejumlah aspek lain pada paket motor.
Komposisi aturan baru itu, menurut penilaian awal, berpotensi membuat putaran lebih lambat dibanding motor saat ini. Alasannya, kombinasi tenaga yang lebih kecil, penghapusan ride height device yang dipakai sejak akhir 2019, serta pembatasan pengembangan aerodinamika dengan menyusutkan perangkat di bagian depan.
Di atas kertas, ketiganya dapat memengaruhi kemampuan motor mempertahankan akselerasi dan stabilitas saat melaju kencang. Namun, pengaruh tersebut tidak diyakini akan seragam di semua sirkuit MotoGP.
Pandangan itu disampaikan Marc Marquez. Pebalap Ducati Lenovo tersebut menilai tidak semua lintasan membutuhkan tenaga sebesar yang tersedia pada mesin 1.000 cc untuk merebut waktu terbaik.
Menurut Marquez, karakter Sachsenring tidak bisa disamakan dengan mayoritas sirkuit lain di kalender. Lintasan di Jerman memiliki trek lurus yang relatif pendek dan lebih banyak didominasi tikungan, sehingga pebalap menghabiskan waktu lebih lama dalam posisi motor miring (lean angle).
Dalam kondisi seperti itu, faktor dominannya bergeser dari sekadar kekuatan mesin menuju kemampuan motor dan kendali saat mengeksekusi rangkaian tikungan. Dengan kata lain, tenaga besar tidak selalu menjadi penentu utama untuk membuka performa.
Marquez juga menyoroti target pribadinya di Sachsenring. Ia menyebut sirkuit tersebut ingin dipertahankan sebagai tempat memegang rekor lap, sambil tetap berharap targetnya dapat dijangkau saat regulasi 850 cc mulai berlaku.
Ia mengaitkan optimisme itu dengan bukti performa yang pernah ditunjukkan pebalap lain di sesi latihan. “Tahun lalu dia (Di Giannantonio) mencatat putaran yang luar biasa pada sesi practice,” ujar Marquez, mengutip laporan dari Crash, pada Rabu (15/7/2026).
Berita Terkait
Lebih jauh, Marquez menyatakan keyakinannya pada kemampuan motor 850 cc untuk mencapai target waktu tertentu. “Ini memang salah satu sirkuit yang ingin saya pegang rekor lapnya. Namun, saya yakin dengan motor 850 cc nanti kami masih bisa mencatat waktu 1 menit 18 detik di sini,” katanya.
Komitmen tersebut bukan tanpa landasan, karena Marquez baru saja memecahkan rekor lap Sachsenring pada MotoGP Jerman melalui sesi kualifikasi akhir pekan lalu. Ia menilai pencapaian itu masih bisa berkembang lagi ketika regulasi baru mulai diterapkan pada musim depan.
Penilaian serupa datang dari Pedro Acosta. Pebalap Spanyol tersebut akan menjadi rekan setim Marquez di Ducati Lenovo mulai musim depan dan turut mendukung gagasan bahwa perubahan mesin tidak otomatis mengunci nasib rekor di setiap lintasan.
Acosta menempatkan fokus pada faktor yang sering menentukan konsistensi performa: ban. Ia menilai perkembangan teknologi ban akan menjadi elemen penting dalam menentukan kemampuan motor MotoGP pada 2027, terutama dalam hal daya cengkeram dan ketahanan pada berbagai kondisi lintasan.
Acosta juga mengingatkan bahwa meskipun mesin saat ini berkapasitas 1.000 cc, penggunaan tenaga tidak selalu maksimal di semua sirkuit. “Memang benar, dengan motor 1.000 cc saat ini kami tidak menggunakan seluruh tenaga yang tersedia, seperti yang bisa kami gunakan di Silverstone (Inggris),” ujarnya.
Pernyataan tersebut selaras dengan perubahan aturan yang ikut menata ulang cara motor dipakai. Dengan berkurangnya elemen yang memengaruhi karakter aerodinamika dan hilangnya ride height device, pembacaan grip, pengereman, dan cara keluar dari tikungan diperkirakan akan menjadi penentu besar performa, sehingga efek penurunan tenaga bisa terasa berbeda antar-sirkuit.
Di sisi penyediaan ban, Pirelli juga disebut akan menjadi pemasok ban tunggal mulai 2027. Kombinasi kebijakan tersebut membuat diskusi tentang rekor lap semakin bergeser dari sekadar angka kapasitas mesin menuju paket teknis yang menyentuh ban dan karakter lintasan.
Dengan demikian, optimisme Marquez dan dukungan Acosta bermuara pada satu kesimpulan: regulasi 850 cc memang berpotensi mengubah kecepatan rata-rata, tetapi peluang rekor lap tetap terbuka—terutama di sirkuit yang menuntut keberanian dan presisi pada tikungan lebih dari sekadar tenaga lurus.












