Daerah

Lewati Lumpur & Sungai Deras, Wawa Gen Z Bangun Akses Sekolah untuk Anak di Daerah 3T

×

Lewati Lumpur & Sungai Deras, Wawa Gen Z Bangun Akses Sekolah untuk Anak di Daerah 3T

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Menembus Lumpur dan Sungai Deras, Kisah Influencer Gen Z Bangun Sekolah untuk Anak-anak di Pelosok Negeri

jurnalistik.co.id – Azzahra Putri Santi, influencer Gen Z yang akrab disapa Wawa, memilih mengisi masa mudanya dengan mendatangi wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia. Baginya, kunjungan itu bukan perjalanan wisata, melainkan cara untuk memastikan akses pendidikan anak-anak sudah layak dan bisa dijangkau.

Di balik konten edukatif yang ia bagikan di media sosial, Wawa menyimpan rangkaian pengalaman di lapangan—mulai dari lumpur, sungai deras, hingga jalan yang berbatu. Dengan cara itu, ia bersama Yayasan Seribu Satu Cita berupaya memberi semangat sekaligus bantuan nyata bagi anak-anak yang selama ini kesulitan mengakses sekolah.

Perempuan asal Riau berusia 24 tahun ini menjelaskan bahwa ia mendirikan Yayasan Seribu Satu Cita sejak 2019. Sejak awal, fokusnya adalah menghadirkan peluang pendidikan yang lebih merata bagi anak-anak di pelosok, setara dengan kondisi yang biasanya lebih mudah didapatkan di kota besar.

Kunjungan yang diubah menjadi gerak sosial

Wawa menuturkan bahwa kunjungan ke wilayah 3T ia jadikan konten di Instagram, namun tujuannya tidak berhenti pada publikasi. Ia ingin menggugah kesadaran masyarakat dan membuka ruang kolaborasi dari kalangan yang lebih muda.

“Pertama, kami meningkatkan kesadaran (awareness) masyarakat melalui konten di media sosial. Kami mengajak relawan muda untuk bersuara. Kedua, kami memberikan bantuan fisik,” ungkap Wawa ketika ditemui Kompas.com di kawasan Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (15/7/2026).

Baginya, perhatian publik perlu diterjemahkan menjadi dukungan konkret. Lewat konten, ia mengajak relawan muda terlibat agar pesan tentang pendidikan tidak hanya berhenti sebagai wacana, melainkan juga berwujud dalam program yang dibutuhkan sekolah-sekolah di wilayah 3T.

Wawa juga menegaskan bahwa bantuan yang ia dorong tidak hanya berupa dukungan moral. Ia menyebut adanya dukungan fisik yang disalurkan untuk menjaga keberlangsungan pendidikan di berbagai wilayah 3T.

Perbaikan ruang belajar dan edukasi hak pendidikan

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya terjadi saat Wawa berkunjung ke Ciwidey, Bandung, Jawa Barat. Walau bukan kawasan 3T, ia memilih datang karena mendengar ada sekolah yang kekurangan ruang kelas.

Di sekolah tersebut, sebagian murid terpaksa belajar di musala. Saat para siswa sedang berlangsung belajar, musala itu justru roboh, sehingga kondisi belajar semakin tidak aman dan tidak memungkinkan.

Melihat situasi tersebut, Wawa bersama yayasannya menjalankan penggalangan dana melalui kampanye di media sosial. Dana diarahkan untuk merenovasi musala yang roboh sekaligus menambah ruang kelas agar anak-anak bisa kembali belajar dengan lebih nyaman.

Selain menata ulang fasilitas, Wawa juga mengajak masyarakat sekitar memahami hak anak untuk memperoleh pendidikan. Ia menekankan bahwa tidak semua orang tua di berbagai daerah mendukung anak-anaknya tetap melanjutkan sekolah.

Ia menyebut kasus di Pangalengan, Jawa Barat, ketika anak-anak yang baru lulus SD dan hendak masuk SMP terpaksa harus dinikahkan karena keluarganya memiliki sangkut paut dengan utang. Dalam kondisi seperti itu, Wawa hadir agar kesempatan menempuh pendidikan tidak hilang begitu saja.

Membangun sekolah di Riau dan memperbaiki akses menuju kelas

Upaya Wawa tidak berhenti pada perbaikan di tempat lain. Ia juga tengah membangun sekolah di kawasan 3T di Riau, daerah asalnya.

Wawa menceritakan bahwa di sana awalnya hanya ada tiga kelas. Karena keterbatasan ruang, sebagian siswa harus belajar di teras sekolah, dengan kondisi yang ia nilai tidak kondusif—banyak debu dari truk sawit, panas matahari, serta suara bising dari sekitar.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Wawa dibantu oleh sejumlah brand dan komunitas yang bekerja sama dengannya membangun kelas baru dari nol. Ia menyebut progres pembangunannya sudah mencapai 90 persen dan dijadwalkan diresmikan bulan depan.

Di beberapa daerah lain, Wawa juga memperhatikan aspek yang sering luput: akses jalan menuju sekolah. Ia mencontohkan upaya perbaikan ketika ada jembatan menuju sekolah yang sudah rapuh, di mana Yayasan Seribu Satu Cita melakukan penggalangan dana untuk memperbaikinya.

Baginya, perbaikan akses jalan membantu anak-anak berangkat sekolah dengan lebih aman dan nyaman. Ia melihat pendidikan tidak hanya soal gedung kelas, tetapi juga soal bagaimana anak bisa sampai ke sekolah tanpa hambatan besar.

Dengan rangkaian langkah tersebut, Wawa berharap anak-anak di pelosok Indonesia bisa mengakses pendidikan secara lebih merata dan mudah. Ia ingin peluang belajar tidak lagi sangat dipengaruhi jarak dari kota besar.

Rencana besar dan harapan untuk sistem yang lebih fleksibel

Wawa menyatakan bahwa ia tidak berniat berhenti pada satu program. Ia ingin perjuangannya menyentuh banyak provinsi agar sekolah-sekolah di berbagai daerah memiliki kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan setempat.

“Mimpi besar kami adalah membangun sekolah di seluruh provinsi di Indonesia dengan kurikulum yang disesuaikan ( customized ) dengan kebutuhan daerah masing-masing,” ungkap Wawa.

Ia menilai kebutuhan anak-anak di setiap daerah tidak sama. Karena itu, sistem pendidikan perlu lebih adaptif agar tidak terlalu kaku, serta lebih bisa diterima oleh anak-anak yang hidup dalam konteks sosial dan geografis yang berbeda.

Wawa juga menyebut bahwa bersama teman-temannya ia tengah melakukan berbagai riset agar kompetensi guru di setiap daerah dapat lebih merata. Ia mengaitkan langkah itu dengan pengalaman pribadinya ketika harus merantau untuk berkuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), setelah berasal dari Riau.

Menurutnya, kesenjangan pendidikan terasa cukup tajam dalam pengalaman tersebut. Dari situlah ia ingin riset dan perbaikan yang dijalankan tidak hanya menyasar fasilitas, tetapi juga kemampuan pengajar agar kualitas pendidikan bisa meningkat secara lebih berkelanjutan.

Selain rencana internal, Wawa juga menyampaikan harapannya terhadap pemerintah, meski bagian rincian sarannya tidak tercantum lengkap dalam informasi yang ia tuliskan pada naskah sumber.