jurnalistik.co.id – Kepolisian Metropolitan (Met) mengakui “considerable distress” yang dialami komedian dan kampanye asal Irlandia, Graham Linehan, terkait penangkapannya di Heathrow pada September 2025. Met juga menyampaikan permintaan maaf, sekaligus menyatakan bahwa sebuah penyelesaian telah tercapai dalam perkara tersebut.
Menurut laporan yang diberitakan, penyelesaian itu dilaporkan bernilai £25.000. Linehan, yang kini tinggal di Arizona, menanggapi kabar tersebut melalui sebuah video dengan mengatakan uang itu akan “very handy” sambil menambahkan bahwa ia selama ini “fighting against this madness”.
Permintaan maaf yang diperbarui
Dalam pernyataan juru bicara Met, mereka “recognise the considerable distress caused to Mr Linehan, and have offered our sincere apologies”. Met sebelumnya sudah menyampaikan permintaan maaf kepada Linehan pada bulan Mei, dan kemudian menyampaikan permintaan maaf kedua sekaligus penyelesaian tersebut.
Penangkapan Linehan terjadi saat ia kembali dari Arizona. Lima petugas bersenjata dari Heathrow menahannya dengan dugaan bahwa unggahannya di media sosial X memenuhi kriteria tindakan yang “inciting hatred” berdasarkan Public Order Act.
Dibawa ke rumah sakit setelah pemeriksaan tekanan darah
Usai penahanan, Linehan dibawa ke rumah sakit. Polisi menyatakan bahwa perhatian petugas muncul karena kondisi kesehatannya, khususnya setelah mereka mengukur tekanan darah Linehan.
Pada saat itu, Met menyampaikan bahwa kondisi Linehan “neither life-threatening nor life-changing”. Ia juga dibebaskan dengan jaminan “pending further investigation”.
Polisi kemudian memastikan bahwa insiden yang menjadi dasar penangkapan Linehan ditindaklanjuti sebagai “a non-crime hate incident”. Keterangan ini turut memunculkan beragam reaksi dari politisi dan tokoh publik, serta memicu perdebatan mengenai penegakan hukum dan kebebasan berekspresi.
Perubahan kebijakan Met untuk kategori non-kejahatan
Satu bulan setelah penangkapan, tepatnya pada Oktober 2025, Met mengumumkan bahwa mereka tidak lagi menyelidiki kasus “non-crime hate incidents”. Alasannya, menurut keterangan Met, agar para petugas bisa “focus on matters that meet the threshold for criminal investigations”.
Berita Terkait
Dalam pengumuman yang sama, Met juga menyatakan bahwa mereka menghentikan penyelidikan terhadap Linehan. “Non-crime hate incidents” sendiri digambarkan sebagai dugaan tindakan yang dipandang didorong permusuhan atau prasangka terhadap kelompok orang dengan karakteristik tertentu, seperti ras atau identitas transgender, dan dicatat untuk tujuan pengumpulan data namun tidak memenuhi unsur tindak pidana.
Linehan menyebut tidak menyesal dan menjelaskan tiga unggahan
Dalam wawancara dengan BBC News pada September 2025, Linehan menyatakan: “I don’t regret anything I’ve tweeted – sometimes I’ve tweeted a bit more out of anger, because of the frustration that no-one’s paying attention to this issue.”
Linehan juga menyebut bahwa ia ditangkap atas tiga postingan di akun X-nya. Unggahan pertama berisi pernyataan: “If a trans-identified male is in a female-only space, he is committing a violent, abusive act. Make a scene, call the cops and if all else fails, punch him in the balls.”
Unggahan kedua, menurut laporan, berupa gambar dari sudut udara yang menunjukkan sekelompok pengunjuk rasa di sebuah pusat kota. Ia lalu memberi keterangan “a photo you can smell”.
Sementara unggahan ketiga memuat pandangannya, termasuk kalimat “I hate them”, yang merujuk pada “misogynists and homophobes”, disertai sebuah “expletive”.
Peran Free Speech Union dan pernyataan Lord Toby Young
Perkara perdata yang diajukan Linehan mendapat dukungan dari organisasi advokasi Free Speech Union. Kelompok tersebut menyatakan mereka menyambut permintaan maaf kedua dan penyelesaian, namun menilai Linehan seharusnya tidak ditangkap sejak awal.
Dalam pernyataan, general secretary Lord Toby Young menyebut ini adalah “our third case in which we’ve helped a member of ours secure substantial compensation for wrongful arrest”. Ia juga menambahkan: “I hope the message gets through to the police that merely offending or upsetting someone is not, by itself, a criminal offence”.
Lord Toby Young menilai penghentian penyelidikan terhadap “non-crime hate incidents” merupakan “a positive development”. Ia lalu menyampaikan harapannya agar kebijakan tersebut tidak berhenti di sana dengan kalimat: “I hope they’ll go further and stop arresting people for tweets. They really shouldn’t be wasting their time on social media spats when so many crimes are going unsolved.”
Laporan itu turut menyebut bahwa kabar penyelesaian ini hadir dua bulan setelah kasus terpisah, ketika keyakinan Linehan atas perkara yang berkaitan dengan “damaging a transgender activist’s mobile phone” dibatalkan.












