Teknologi

Christopher Nolan, Sutradara The Odyssey: AI seperti “Kuda Troya” Transparan dari Kaca

×

Christopher Nolan, Sutradara The Odyssey: AI seperti “Kuda Troya” Transparan dari Kaca

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sutradara Film "The Odyssey" Christopher Nolan Sebut AI Bak "Kuda Troya Transparan"

jurnalistik.co.id – Christopher Nolan, sutradara film peraih Oscar yang dikenal lewat karya-karya berpengaruh, kembali mengangkat perbincangan soal kecerdasan buatan (AI). Dalam wawancara yang membahas film terbarunya, The Odyssey, Nolan memakai analogi yang merujuk pada mitologi Yunani.

Ia mengibaratkan AI sebagai “Kuda Troya” atau Trojan Horse yang justru transparan. Perumpamaan itu muncul saat Nolan berbincang dengan YouTuber asal Perancis, Hugo Travers (HugoDécrypte), dalam sesi yang total berdurasi sekitar 30 menit.

Percakapan tersebut berangkat dari kisah Kuda Troya yang menjadi bagian penting dalam mitologi Yunani kuno sekaligus terkait dengan elemen cerita dalam film The Odyssey. Dalam kisah itu, strategi Kuda Troya digunakan pihak Yunani untuk memasuki Troya dan memenangkan perang yang berlangsung selama 10 tahun.

Travers lantas mengaitkan alur legenda tersebut dengan perkembangan AI yang tengah hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ia menanyakan apakah AI bisa berfungsi seperti “hadiah” yang diterima masyarakat, namun pada akhirnya berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Nolan menilai analogi Kuda Troya kurang tepat bila disematkan pada AI. Ia berargumen dengan cara pandang yang berbeda, sembari memberi penekanan bahwa AI sudah diketahui banyak orang sejak awal.

“Saya rasa AI adalah Kuda Troya yang semua orang sudah tahu ada orang Yunani di dalamnya,” ujar Nolan sambil tertawa. Menurutnya, yang membuat situasinya terasa lain adalah cara AI dipahami publik—tidak benar-benar tersembunyi di balik selubung yang tak terlihat.

Nolan kemudian melanjutkan dengan keterangan yang lebih spesifik mengenai bentuk analoginya. “Ini kuda yang transparan, terbuat dari kaca. Semua orang bisa melihat apa yang ada di dalamnya,” lanjut filmmaker kelahiran London tahun 1970 itu.

Bagian penting dari penjelasan Nolan bukan sekadar perumpamaan, melainkan cara ia melihat perkembangan teknologi yang berjalan sangat cepat. Ia menyoroti adanya jarak yang nyata antara laju kemajuan AI dengan penerimaan sosial yang justru tidak sejalan.

Dalam pandangan Nolan, yang menarik adalah pertumbuhan AI yang cepat sekaligus penolakan luas yang muncul di publik. “Saya belum pernah melihat teknologi yang berkembang secepat ini tetapi pada saat yang sama ditolak publik sedemikian besar,” kata Nolan.

Ia juga menyebut kelompok tertentu yang cenderung lebih skeptis terhadap AI. Menurut Nolan, generasi muda menjadi pihak yang paling skeptis terhadap kecerdasan buatan.

Dengan memakai kerangka “Kuda Troya” tetapi mengubahnya menjadi “kuda transparan”, Nolan seolah menegaskan bahwa kekhawatiran publik tidak lahir dari ketidaktahuan. Sebaliknya, respons sosial justru hadir karena banyak orang dapat melihat potensi, manfaat, sekaligus risiko yang mengikuti teknologi tersebut.

Melalui pembahasan di The Odyssey dan mitologi Kuda Troya, wawancara itu mengarahkan diskusi pada satu pertanyaan yang lebih besar. Bagaimana sebuah teknologi yang terbuka justru bisa memicu penolakan, dan mengapa skeptisisme—khususnya di kalangan yang lebih muda—tumbuh bersamaan dengan akselerasi perkembangan AI.

Dalam dialog itu, Nolan tidak hanya menanggapi pertanyaan soal “hadiah” yang berpotensi berubah menjadi ancaman. Ia menggeser penekanannya pada cara publik memandang teknologi, terutama ketika sebuah gagasan sudah sejak awal dikenali banyak orang.

Ia juga menekankan bahwa analogi Kuda Troya tidak dipakai untuk menyiratkan sesuatu yang benar-benar tertutup. Yang ia maksud justru situasi ketika teknologi terlihat jelas—sehingga orang bisa menilai isi dan dampaknya, alih-alih sekadar menerima sesuatu tanpa pemahaman.

Menurut Nolan, kecepatan perkembangan AI membuat jarak antara percepatan teknologi dan cara masyarakat merespons menjadi semakin nyata. Publik mungkin menangkap manfaatnya, tetapi penilaian risiko ikut terbentuk bersamaan, bahkan ketika perkembangannya terus berlari.

Keraguan yang muncul pun, dalam pandangannya, paling terasa di kalangan yang lebih muda. Dengan kerangka yang sama seperti legenda, ia menunjukkan bahwa penolakan tidak harus muncul dari ketertutupan, melainkan dari kesadaran—ketika potensi dan bahaya teknologi sama-sama bisa dilihat.