jurnalistik.co.id – Sir James Cleverly menyatakan ia tidak akan menggunakan perbandingan “Gestapo” seperti yang diutarakan Kemi Badenoch saat menanggapi kritik terhadap Bridget Phillipson.
Pernyataan itu muncul setelah Badenoch melontarkan sindiran yang memicu kecaman luas di tengah perdebatan politik terkait kebijakan pendidikan.
Dalam wawancara di program BBC Sunday with Laura Kuenssberg, Cleverly diminta menjawab apakah ia sendiri akan memakai kalimat bernada serupa. Ia menegaskan, “No, I probably wouldn’t have done.”
Menurut Cleverly, jawaban itu penting untuk membedakan substansi kritik dan pilihan bahasa yang dipakai ketika menyerang lawan politik.
Badenoch, yang dinilai tidak meminta maaf atas komentarnya, menyatakan tindakan Phillipson mencerminkan sikap yang tidak layak dipimpin sebagai perdana menteri. Pada kesempatan lain, Badenoch juga menyerang Phillipson dengan menyebutnya sebagai “spiteful class warrior”.
Cleverly kemudian mengarahkan diskusi pada inti kebijakan yang dipersoalkan. Ia mengemukakan bahwa isu yang ia soroti tidak berangkat dari kebutuhan merekrut guru, melainkan dari cara pemerintah menghadirkan tekanan pada pihak yang membiayai sekolah swasta menggunakan uang sendiri.
Dalam kerangka itu, Cleverly menyebut agenda yang dijalankan Badenoch tidak sama dengan tujuan kebijakan soal perekrutan tenaga pengajar. Ia juga menegaskan bahwa ia tidak memilih bentuk kalimat yang sama ketika menilai masalah tersebut.
Ketika ditanya apakah bahasa Badenoch dinilai pantas dalam pertukaran antarparpol, Cleverly menyatakan bahwa istilah tersebut tidak akan menjadi pilihan formulasi yang ia pakai. Namun ia menambahkan bahwa penjelasan Badenoch bisa dipahami melalui klaim bahwa kebijakan pemerintah bersifat balas dendam dan terkait perang kelas.
Cleverly juga menyinggung respons politik yang menurutnya tidak seimbang. Ia menyebut ada kecenderungan pihak tertentu mengecam lawan atas isu rasisme, tetapi tidak diikuti perlakuan yang sama ketika muncul kritik yang keras dari pihak Konservatif.
Ia mencontohkan dinamika ketika Badenoch dikritik karena dianggap menggunakan bahasa “vindictive”, sementara pihak Labour dinilai tidak membuat respons setara atas tuduhan yang disampaikan terhadap anggota parlemen Konservatif.
Selain itu, Cleverly menekankan pentingnya “saling mengoreksi” dalam demokrasi yang sehat. Ia berpendapat bahwa bila politik terlalu menekankan suasana yang serba kalem, pemilih bisa menganggap para politisi tidak benar-benar saling menuntut pertanggungjawaban.
Dalam pandangan Cleverly, ketegasan perlu ditunjukkan terutama saat pejabat negara dinilai menjalankan kebijakan bukan demi kepentingan publik, melainkan untuk memuaskan dorongan politik partai. Ia mengatakan kritik yang tajam tetap dapat dibenarkan jika menyasar tindakan kebijakan yang dianggap keliru.
Di sisi Labour, sikap yang lebih tegas disampaikan oleh Anna Turley. Ia menyatakan para juru bicara bayangan Labour tidak akan membela komentar yang dinilai “tak dapat dipertahankan” dan menganggap ucapan Badenoch sangat buruk serta tidak pantas.
Polemik bahasa “Gestapo” juga terhubung dengan rentetan saling serang yang lebih luas antara pihak Konservatif dan Labour. Bridget Phillipson dinilai menyinggung komentar yang sebelumnya disampaikan Nick Timothy, sekaligus menyuarakan agar Timothy disingkirkan.
Timothy membantah tuduhan bahwa ucapannya mengarah pada rasisme. Ia menolak anggapan tersebut setelah menggambarkan pertemuan keagamaan Muslim di pusat London pada bulan Maret dengan istilah yang menurutnya tidak mengandung maksud rasis.
Dengan demikian, perdebatan tidak berhenti pada materi kebijakan pendidikan, tetapi melebar pada cara politisi menyusun kritik dan mempertahankan argumen. Clevery menutup dengan memperjelas batas yang ia pilih sendiri, yakni ia menganggap substansi kritik bisa dipersoalkan, sementara bentuk sindiran ala Badenoch tidak akan ia gunakan.
Kontestasi itu terus menekan isu pendidikan sekaligus membentuk pertanyaan yang lebih luas: seberapa keras pertukaran politik bisa dilakukan tanpa melewati garis yang dipandang merendahkan.









