Olahraga

Retak Stres di Kaki Kanan, Emma Raducanu Mundur dari Wimbledon 2026

×

Retak Stres di Kaki Kanan, Emma Raducanu Mundur dari Wimbledon 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Wimbledon 2026: Emma Raducanu pulls out through injury

jurnalistik.co.id – Emma Raducanu dipastikan absen dari Wimbledon 2026. Petenis peringkat 23 tahun itu mundur menjelang Grand Slam kandang setelah hasil pemindaian terakhir mengarah pada retak stres di kaki kanan bagian bawah.

Raducanu menyampaikan keputusan tersebut pada Minggu malam, tak lama setelah pukul 22:00 BST. Keputusan itu ia umumkan sekitar tujuh jam setelah sebelumnya mengatakan kepada jurnalis bahwa ia berniat tampil.

Dengan status unggulan 30, Raducanu sedianya memulai kampanye pada Senin dengan menghadapi Antonia Ruzic dari Kroasia di Court One. Namun, jadwal tersebut harus berubah karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk dipaksakan.

“I’ve done everything possible to try to get to the start line but after a final scan tonight the niggle I’ve been managing has developed into a stress fracture,” kata Raducanu. “I’ve been medically advised to stop pushing through.”

Dalam beberapa hari terakhir, kekhawatiran mengenai kebugaran Raducanu terus meningkat. Pada Rabu, ia terlihat menggunakan pelindung sepatu (protective boot), lalu pada Kamis dan Jumat ia tidak dapat berlatih akibat kondisi yang dipercaya terkait masalah tulang kering.

Raducanu, yang merupakan juara US Open 2021, kembali ke lapangan pada Sabtu untuk menguji sejauh mana ia bisa bergerak. Ia memakai strapping di bagian kaki kanan bawah sebelum memulai sesi yang berlangsung dengan intensitas ringan selama satu jam bersama timnya.

Upaya pengujian itu kemudian harus dipotong lebih cepat pada sesi latihan berikutnya. Raducanu mengakhiri sesi latihan melawan Anna Kalinskaya setelah menyelesaikan satu set, dengan waktu tersisa 10 menit.

Menjelang hari Minggu, ada tanda-tanda kemajuan pada sesi latihan paginya. Raducanu tampak sedikit lebih mantap saat berupaya memukul bola bersama Alexis Canter, terutama ketika ia mendorong menggunakan kaki kanan pada sisi forehand.

Meski begitu, pengujian pergerakannya tidak seketat saat ia menghadapi Kalinskaya. Perbedaan tingkat tantangan itulah yang membuat evaluasi kondisi tetap menjadi faktor utama.

Dengan mundurnya Raducanu, fokus kini bergeser pada bagaimana pengaturan undian dan persiapan petenis lain akan menyesuaikan diri menjelang bergulirnya turnamen. Bagi Raducanu sendiri, keputusan menghentikan tekanan setelah nasihat medis menjadi langkah yang diambil demi mencegah cedera yang berpotensi memburuk.

Raducanu menjelaskan bahwa prosesnya tidak dimulai dari satu keputusan mendadak, melainkan dari serangkaian pemindaian yang terus memperbarui gambaran kondisi kakinya. Setelah pengawasan terakhir malam itu, ia menyimpulkan bahwa rasa ganjalan yang sempat ia kelola sebelumnya sudah berubah menjadi cedera retak stres. Karena itu, nasihat medis yang diterimanya menuntut penghentian segala dorongan berlebihan agar tidak memicu perburukan.

Sepanjang pekan, pendekatan latihan pun terlihat makin menyesuaikan batas tubuhnya. Ia sempat memakai pelindung sepatu untuk membantu kenyamanan saat bergerak, lalu dalam beberapa sesi berikutnya tidak bisa mempertahankan rutinitas latihan seperti rencana semula. Bahkan ketika kembali mencoba bergerak di lapangan, intensitas tetap dijaga agar evaluasi yang dilakukan bersama timnya benar-benar mencerminkan seberapa jauh ia bisa menahan beban tanpa memaksakan titik yang sedang bermasalah.

Uji coba yang ia lakukan juga menunjukkan bahwa respons tubuhnya tidak selalu konsisten terhadap tingkat tantangan. Pada latihan-latihan yang dirancang lebih terukur, ia tampak mampu bekerja sama untuk mengasah ritme pukulan, termasuk upaya mendorong tenaga dengan kaki kanan pada fase tertentu. Namun ketika pengujian dikemas lebih menantang, sesi harus lebih cepat dihentikan, menandakan bahwa perbedaan intensitas latihan menjadi penentu utama dalam menilai kelayakan kondisinya menjelang turnamen.

Dengan status Raducanu yang mundur, penyesuaian kebutuhan peserta lain menjadi bagian dari dampak langsung keputusan tersebut. Pengaturan undian dan rencana pertandingan yang semula mengacu pada keberadaan dirinya akan berubah, sehingga lawan-lawan serta tim pendukung perlu menata ulang fokus persiapan. Bagi Raducanu sendiri, langkah mundur dari tekanan awal menjadi bentuk pencegahan: ia memilih menghentikan dorongan setelah arahan medis, demi menjaga agar cedera yang berpotensi memburuk tidak berkembang lebih jauh.