Olahraga

Commonwealth Games 2026: Adam Ramsay-Peaty “nothing makes sense” setelah lagi-lagi meraih perunggu

×

Commonwealth Games 2026: Adam Ramsay-Peaty “nothing makes sense” setelah lagi-lagi meraih perunggu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Commonwealth Games 2026: Adam Ramsay-Peaty says 'nothing makes sense' after another bronze

jurnalistik.co.id – Adam Ramsay-Peaty kembali harus menerima kenyataan pahit di Commonwealth Games 2026. Petenjuannya di nomor renang gaya dada berubah menjadi lagi-lagi medali perunggu, dan ia mengaku tidak memahami apa yang sedang terjadi dengan performanya.

Setelah pada Sabtu meraih perunggu di nomor 100 meter, Ramsay-Peaty kini kembali berada di posisi ketiga saat bertanding di nomor 50 meter di Glasgow. Kali ini, peraih medali emas berasal dari Australia, Sam Williamson, yang mencatat kemenangan sekaligus meraih emas keduanya di ajang tersebut.

Ramsay-Peaty, perenang berusia 31 tahun dan merupakan juara Olimpiade tiga kali, tidak sanggup mengikuti ritme Williamson. Williamson membukukan 26,50 detik untuk meraih kemenangan, sementara Ramsay-Peaty menyelesaikan lomba dengan catatan 26,94 detik, tertinggal 0,44 detik.

Menjelang perlombaan ini, Ramsay-Peaty sempat menunjukkan ia berupaya memanfaatkan dinamika jarak yang lebih pendek. Ia juga sebelumnya mengaitkan nomor 50 meter sebagai peluang terbaiknya untuk meraih medali ketika Olimpiade Los Angeles 2028, mengingat usianya.

Namun, di akhir perlombaan, suasana yang ia rasakan lebih bercampur daripada sekadar mengecewakan. Ia menyatakan “nothing makes sense” setelah lagi-lagi harus puas dengan perunggu, sembari menilai bahwa hasil tidak sejalan dengan kerja keras yang sudah ia jalani.

“I am working way too hard,” kata Ramsay-Peaty kepada BBC Sport. “If those results were how much I am working then they would be a lot better.”

Ia menambahkan bahwa ia perlu melakukan evaluasi dan penyesuaian agar arah latihan tidak melenceng dari target. “I need to look at that and adjust course because we are sailing in some rough seas right now and it is not sustainable.”

Menurutnya, kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan berjalan terus-menerus tanpa perbaikan. “I have come back from worse and we will see where we end up.”

Di nomor 50 meter ini, Ramsay-Peaty juga mempertahankan statusnya sebagai unggulan di gaya dada, meski hasil yang ia harapkan tidak muncul. Ia dikenal sebagai perenang gaya dada terbaik sepanjang masa—ia menjalani delapan tahun tanpa terkalahkan di nomor 100 meter dan juga memegang rekor dunia pada nomor tersebut serta nomor 50 meter.

Ia datang ke Commonwealth Games dengan bekal yang kuat: Ramsay-Peaty merupakan juara bertahan Commonwealth di nomor 50 meter. Menurut narasi yang ia bangun sejak lama, ia juga memilih untuk tetap berkompetisi karena nomor 50 meter turut masuk dalam jadwal Olimpiade 2028.

Setelah meraih perunggu di 100 meter pada Sabtu, Ramsay-Peaty sempat terlihat sangat emosional. Ia menangis setelah kekalahan di hari itu, dan kali ini ia mengaku lebih tenang dalam respons, meski tetap tidak menemukan jawaban atas fluktuasi performanya.

“It is quite disappointing in terms of the time, and, as we know, times equal medals,” ujarnya. “I felt I could have been a little quicker, but I need to look at it and see where it is going on because nothing makes sense this week to be honest.”

Ucapan tersebut menggambarkan bahwa baginya masalahnya bukan hanya soal medali, melainkan soal hubungan antara usaha dan keluaran di kolam. Ramsay-Peaty menilai bahwa apa yang terjadi minggu ini terasa tidak masuk akal, terutama karena ia tetap berada dalam kondisi latihan yang intens.

Di balik kompetisi, Ramsay-Peaty juga menjalani perubahan lingkungan pelatihan. Ia pernah dididik di bawah arahan Mel Marshall, yang pindah ke Australia pada 2024. Perpindahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pembentukan kembali performa menjelang target-target besar berikutnya.

Setelah Olimpiade Paris 2024, Ramsay-Peaty memulai latihan di Repton, Derbyshire. Akan tetapi, ia kemudian kembali ke London dan berlatih di bawah bimbingan Lisa Bates, menandai bahwa fase persiapan menghadapi pergeseran dari satu setting ke setting lain.

Ia menyampaikan kepuasannya terhadap tempat latihan yang kini ia jalani. “I am very, very happy, couldn’t be happier with where I am training now,” tuturnya. Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa kerja keras yang dilakukan harus benar-benar diarahkan ke tujuan yang tepat.

“It is hard work, but we need to make sure that hard work is going in the right place,” lanjut Ramsay-Peaty. Ia menekankan bahwa proses semacam ini tidak bisa dinilai secara instan, karena perubahan performa membutuhkan waktu.

“These things don’t happen in three months; they happen in two years and we need to make sure we keep investing.” Dengan kata lain, ia melihat Commonwealth Games sebagai titik evaluasi, bukan sebagai pembuktian akhir bahwa strategi latihan sudah atau belum berjalan.

Di Glasgow, medali yang ia peroleh memang masih berada pada level tertinggi, tetapi pengulangannya—sekali lagi perunggu—menciptakan pertanyaan besar tentang apa yang sedang menghambat eksekusinya. Sementara Sam Williamson menunjukkan konsistensi dengan meraih emas melalui 26,50 detik, Ramsay-Peaty masih berusaha menemukan pola yang membuat dirinya bisa kembali mendekati performa puncak yang pernah ia bangun selama bertahun-tahun.