jurnalistik.co.id – Seorang remaja asal Sudan, Chan Mathok Atak (19), yang dituduh membahayakan 165 migran di sebuah kapal di Selat Inggris, membantah seluruh dakwaan tersebut.
Atak, yang akan menjalani proses persidangan terkait dugaan itu, menegaskan bahwa ia tidak mengemudikan kapal yang disebut menjadi upaya penyeberangan dengan rekor.
Penolakan saat sidang awal
Chan Mathok Atak tampil di Pengadilan Magistrat Margate. Di persidangan tersebut, ia menggunakan bantuan juru bahasa bahasa Arab ketika ditanya bagaimana ia hendak mengajukan pleidoi.
Saat ditanyakan, Atak menyatakan tidak pernah mengemudikan dinghy yang dimaksud dalam dakwaan.
Setelah pembantahan itu, ia ditahan, dan dijadwalkan kembali ke Pengadilan Canterbury Crown Court pada 24 Agustus mendatang.
Jaksa penuntut, Lucie Fish, menyampaikan bahwa pada hari Kamis, sebuah perahu rigid hulled inflatable berangkat dari pantai Prancis menuju Dover dengan membawa para migran.
Menurut keterangan penuntut, kapal tersebut kemudian dicegat oleh Border Force, dan Atak diduga merupakan salah satu dari dua orang yang mengendalikan kecepatan serta arah perjalanan.
Jaksa juga menggambarkan kondisi perahu yang dinilai tidak layak, termasuk bahwa kapal tersebut terlihat bermasalah dalam kualitas, padat penumpang, serta “tampak seperti sedang mengempis” setelah penindakan/intersepsi.
Gambar yang menunjukkan Border Security Command menunda dinghy ke Dover disebut memperlihatkan ukuran kapal yang dinilai setara dengan bus standar, dengan panjang sekitar 13 meter (42 kaki).
Dalam persidangan, pengadilan juga mendengar bahwa otoritas Prancis telah memulangkan jenazah seorang pria yang mengalami cedera di bagian kepala.
Namun, tidak ada penjelasan di ruang sidang mengenai apakah kematian tersebut berkaitan dengan upaya penyeberangan dinghy yang menorehkan rekor.
Seorang juru bicara National Crime Agency menyatakan bahwa pihaknya menyadari insiden pada Kamis, 23 Juli, ketika seorang individu meninggal di perairan Prancis.
Berita Terkait
Menurut juru bicara itu, mitra Prancis memimpin penyelidikan terkait keadaan kematian tersebut.
Dakwaan “membahayakan di laut” dan konteks kebijakan
“Endangerment at sea” atau membahayakan di laut merupakan tindak pidana baru yang dibentuk oleh pemerintah untuk menindak pihak-pihak yang diduga mengarahkan kapal-kapal kecil menyeberang Selat Inggris.
Aturan ini dibuat di bawah pemerintahan yang dipimpin Sir Keir Starmer.
Pada bulan Juni, dua orang pria menjadi pihak pertama yang dijatuhi hukuman untuk kejahatan tersebut, masing-masing menerima vonis lebih dari dua tahun.
Atak menghadapi dakwaan yang berkaitan dengan upaya penyeberangan yang berangkat dari Prancis pada Kamis pekan lalu. Dalam dakwaan, penyeberangan itu disebut sebagai upaya yang menetapkan rekor kedatangan, yakni membawa 165 migran dalam satu kapal.
Catatan sebelumnya untuk kedatangan terbanyak dalam satu kapal tercatat 128 orang.
Data Home Office menunjukkan bahwa jumlah kedatangan secara keseluruhan pada tahun ini turun sekitar 45% dibandingkan 2025, tetapi jumlah migran per kapal justru meningkat.
Dengan demikian, meski total kedatangan menurun, kepadatan penumpang pada setiap upaya penyeberangan menjadi lebih tinggi menurut angka yang dirujuk dalam persidangan.
Sidang yang membahas pembantahan Atak ini menandai tahapan awal menuju proses persidangan selanjutnya. Jadwal berikutnya, sebagaimana ditetapkan, akan berlangsung pada 24 Agustus di Canterbury Crown Court.
Dalam sidang awal itu, majelis juga menerima bahwa proses pemeriksaan harus dibantu juru bahasa, sehingga pertanyaan-pertanyaan kepada Atak dapat dipahami dalam bahasa Arab. Setelah pernyataan penyangkalan yang ia sampaikan, pengadilan memutuskan untuk menahan Atak dan meneruskan perkara ke tahap persidangan berikutnya.
Pihak penuntut menempatkan Atak dalam alur dugaan pengendalian, dengan menyatakan bahwa ada dua orang yang diduga mengatur kecepatan dan arah selama keberangkatan dari Prancis menuju Dover. Dalam uraian yang disampaikan di persidangan, kondisi kapal pun digambarkan tidak layak, termasuk dugaan masalah kualitas, kepadatan penumpang, serta gambaran bahwa kapal tampak bermasalah setelah intersepsi.
Di sisi lain, dakwaan “membahayakan di laut” dipandang sebagai bagian dari kebijakan penegakan terhadap pihak-pihak yang diduga mengarahkan kapal-kapal kecil menyeberang Selat Inggris. Pemerintah yang dipimpin Sir Keir Starmer membentuk tindak pidana tersebut, dan pada Juni dua pria telah menerima vonis lebih dari dua tahun. Mengikuti konteks data yang dibahas di persidangan, meski jumlah kedatangan secara keseluruhan turun sekitar 45% dibanding 2025, kepadatan migran dalam setiap upaya penyeberangan justru meningkat, termasuk pada keberangkatan yang disebut membawa 165 migran.








