Entertainment

Bill Oddie: Alam Jadi Pelarian dari Pergolakan Kesehatan Mental

×

Bill Oddie: Alam Jadi Pelarian dari Pergolakan Kesehatan Mental

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bill Oddie: Comedian who found nature a welcome refuge from mental illness

jurnalistik.co.id – Bill Oddie dikenal sebagai sosok yang mampu memadukan komedi dengan perhatian mendalam pada alam. Ia meninggal dunia pada usia 85 tahun, tetapi jejaknya tetap terasa—dari panggung televisi hingga kisah-kisah konservasi yang ia perjuangkan.

Ketika banyak orang mengenal Oddie lewat lawakan dan program televisi, kecintaannya pada burung justru tumbuh lebih dulu. Selama hidupnya, pengamatan terhadap satwa liar menjadi semacam rutinitas sekaligus tempat pulang.

Dari Footlights ke “Goodies”

Oddie lahir di dekat Rochdale, Lancashire, pada 7 Juli 1941. Ia datang dari keluarga dengan akar pekerja pabrik, sementara ayahnya, Harry, kemudian pindah ke Birmingham dan bekerja sebagai akuntan di Midlands Electricity Board.

Menurut kesaksian Oddie, etos kerja ayahnya ikut membentuk cara ia menata karier. Namun masa kecilnya tidak sepenuhnya mudah, karena ia lebih jarang bertemu ibunya, Lillian, yang didiagnosis skizofrenia dan menghabiskan banyak waktu di rumah sakit.

Di kemudian hari, Oddie mengetahui bahwa depresi ibunya terkait dengan kematian prematur dua saudara kandungnya yang lebih tua. Dari titik itu, hubungan keluarga yang jauh dan rapuh ikut membayangi perjalanan hidupnya.

Sejak kecil, ia sudah tertarik pada dunia burung. Salah satu catatan awal pengamatannya bahkan tersimpan dalam publikasi West Midlands Bird Club pada 1956.

Setelah menyelesaikan pendidikan di King Edward’s School, tempat ia aktif bermain rugby, Oddie melanjutkan ke Pembroke College, Cambridge, untuk mempelajari bahasa Inggris. Di kampus, ia bergabung dengan Footlights Club, yang di dalamnya juga ada Graeme Garden dan Tim Brooke-Taylor.

Ia menulis dan tampil dalam review terkenal tahun 1964 berjudul A Clump of Plinths. Produk itu kemudian menyebar dari Edinburgh Festival yang mendapat sambutan besar ke West End London, serta juga dibawa ke Selandia Baru dan Amerika Serikat.

Saat masih di Cambridge, Oddie turut menyiapkan materi untuk program televisi satir David Frost, That Was the Week That Was. Ia juga pernah menulis puisi untuk sesama komedian Lance Percival dengan gaya The Ballad of Eskimo Nell, tentang Camberley Kate yang menawan para pekerja pemilah tempat sampah di Kent.

Setelah lulus, Oddie bergabung dalam pemeran program radio BBC, I’m Sorry I’ll Read That Again, yang melibatkan banyak performer Footlights. Pada saat yang sama, ia mulai berkembang sebagai komposer, menulis banyak lagu untuk acara tersebut, termasuk beberapa yang kemudian muncul dalam album Distinctly Oddie pada 1967.

Di jalur berikutnya, sebagian tim lama Footlights memilih jalan masing-masing, termasuk membentuk Monty Python. Oddie, bersama Garden dan Brooke-Taylor, justru menciptakan The Goodies.

Serial ini menampilkan tiga karakter yang berkeliling dengan “trandem” dan menawarkan diri dengan slogan “We Do Anything, Anywhere, Anytime”. Suasana komedinya banyak dibangun lewat situasi absurd, slapstick, serta efek khusus yang relatif sederhana—termasuk penggunaan gambar yang dipercepat.

Salah satu episode yang paling diingat adalah Kitten Kong, ketika seekor kucing raksasa menjatuhkan Post Office Tower. Versi episode itu bahkan meraih Silver Rose di Montreux TV Festival pada 1972.

Oddie juga menulis sejumlah lagu komedi untuk serial tersebut, sering kali berupa parodi dari musik pop saat itu. Lagu paling berhasil, Funky Gibbon, menembus posisi keempat di tangga lagu Inggris dan trio tersebut membawakannya di Top of the Pops.

Empat dekade kemudian, track itu dirilis ulang dan hasilnya diberikan untuk kampanye menjaga habitat primata. Dengan cara seperti itu, karya yang semula berbentuk hiburan juga berubah menjadi dukungan yang nyata.

Selama sebagian besar dekade 1970-an, The Goodies tayang di BBC Television. Acara itu kemudian berpindah ke ITV untuk satu periode singkat yang kurang sukses, sementara di Australia serialnya justru menjadi tontonan dengan status kultus.

Tim kemudian re-formasi untuk tur di Australia pada 2005, tetapi BBC tidak mengulangnya di Inggris. Pernyataan yang menyasar keputusan itu membuat tiga penampil utama merasa kesal, dan Garden kelak mengungkap bahwa “kekurangan pengulangan” berkaitan dengan apa yang ia sebut sebagai “disloyalty” mereka.

Pada tahun 2020, ia berkata, “It seems they’ve held that grudge ever since.” Oddie dan Garden juga turut menulis naskah untuk beberapa episode serial komedi ITV, Doctor in the House.

Kedalaman sebagai naturalis dan pengarah pesan alam

Minat Oddie pada ornithology tidak pernah benar-benar hilang. Menjelang pertengahan 1970-an, ia mengembangkan karier sebagai naturalis melalui berbagai penampilan tamu, termasuk dalam program Animal Magic.

Gaya humornya ikut terasa dalam Little Black Bird Book yang diterbitkan pada 1980. Buku tersebut menjadi bestseller, dan di dalamnya ia menulis, “Bird-watchers are tense, competitive, selfish, shifty, dishonest, distrusting, boorish, pedantic, unsentimental, arrogant and – above all, envious”.

Perjalanan sebagai pembawa acara televisi juga berkembang pesat. Oddie sempat menjadi wajah utama Springwatch hingga 2009, dan juga menghadirkan The Great Bird Race untuk Channel 4 pada 1983.

Bagi BBC, ia tampil dalam sejumlah program seperti The Great Kenyan Bird Safari serta Oddie in Paradise. Pada 1985, BBC menayangkan spesial Nature Watch berdurasi 50 menit berjudul Bill Oddie – Bird Watcher, saat ia menjelajahi banyak wilayah yang menjadi favoritnya untuk mengamati burung.

Memasuki awal abad baru, ia termasuk pembawa acara BBC yang paling dicintai, melalui program Birding with Bill Oddie dan Bill Oddie Goes Wild. Northumberland Wildlife Trust juga memberi penghormatan, terutama dari sosok Mike Pratt yang menyebut kehadiran Oddie sebagai sosok yang “influential” sekaligus menghibur.

Pratt menjabat sebagai ketua dan menjadi pelindung Oddie selama hampir 30 tahun. Ia mengatakan, “Bill was a fantastic inspiration to my generation of young conservationists from the 1970s onwards,” sebelum menambahkan bahwa Oddie membuat aktivitas naturalis terasa menyenangkan dan mendorong mereka untuk bergerak menyelamatkan satwa liar.

Ia melanjutkan, “We will miss his support for what he genuinely cared about – life in all its forms.”

Depresi, bipolar disorder, dan dampak perawatan

Di balik keberhasilan di layar, Oddie hidup dengan pergulatan kesehatan mental yang berulang. Ia mengalami depresi akut, hingga menyebabkan admisi berulang ke rumah sakit jiwa.

Selama perawatan, ia juga mengalami keracunan lithium yang berat, sebagaimana disebut dalam pemberitaan. Dalam konteks ini, terapi yang ditujukan untuk menstabilkan suasana hati justru membawa konsekuensi serius bagi dirinya.

Ia juga dikenal memberikan perhatian pada persoalan konservasi, termasuk dukungannya terhadap kampanye melawan perdagangan ilegal gading gajah. Oddie memberi peringatan bahwa pemburu membunuh ribuan gajah setiap tahun.

Namun pola depresi yang ia alami akhirnya mengarah pada diagnosis bipolar disorder. Dalam beberapa kesempatan, ia sesekali menghubungkan kondisi itu dengan hubungan ibunya yang jauh.

Oddie berpisah dengan Springwatch pada 2008. Mengenai kondisi yang ia hadapi, ia pernah menyampaikan bahwa keadaan tersebut membuatnya mencoba mengambil nyawanya sendiri, sesuai paparan di Daily Mirror.

Pada 2020, ia mengumumkan bahwa ia sedang sangat sakit akibat keracunan lithium. Perawatan itu ditujukan untuk menstabilkan suasana hati, tetapi masa-masa setelahnya tampak memukul semangatnya.

Ia kemudian menuliskan di media sosial, “the past few years have been grim for me. Lost enthusiasm, but I am still here.” Ungkapan itu menunjukkan betapa beratnya proses yang harus ia jalani, meski tetap ada daya bertahan di baliknya.

Selain kamera: musik, pengabdian, dan kerja suara

Ketertarikannya tidak berhenti pada alam. Ia memiliki minat pada musik, sempat bekerja sebagai penyiar radio dengan pilihan jazz, dan rumahnya dipenuhi koleksi ribuan CD.

Ia juga menjadi pendukung Partai Green serta menyumbangkan waktu dan ketenarannya untuk mendukung lembaga-lembaga konservasi, termasuk RSPB. Bagi Oddie, naturalis bukan sekadar peran publik, tetapi juga panggilan.

Dalam kehidupan personal, ia menikah dengan Jean Hart pada 1967, dan pernikahan itu berakhir dengan perceraian. Pada 1983, ia menikah dengan Laura Beaumont, yang sebelumnya juga bekerja dengannya dalam sejumlah proyek.

Seiring beragam peran yang ia jalani, Oddie dapat dipandang sebagai polymath—seseorang yang terlihat berhasil di banyak bidang yang ia sentuh. Akan tetapi, kepuasan paling besar baginya datang dari kerja konservasi.

“Wildlife,” katanya, “has long been a refuge – probably more than I realise.” Kalimat itu merangkum cara alam menjadi pelarian dari pergolakan kesehatan mental yang ia alami—sekaligus fondasi dari dedikasinya sepanjang karier.