jurnalistik.co.id – Di tengah wajah Jakarta yang identik dengan gedung dan permukiman rapat, ada ruang hijau yang justru tumbuh dari balik gang-gang sempit di Cakung, Jakarta Timur.
Hamparan sawah dan kebun itu dapat ditemukan di Kampung Bali, RT 01/RW 05, Kelurahan Ujung Menteng, Kecamatan Cakung, tepatnya berada di belakang area permukiman padat.
Pada Jumat (7/8/2026), kawasan tersebut memperlihatkan kontras: di satu sisi rutinitas kota berjalan cepat, di sisi lain hamparan hijau membentang—berupa petak-petak sawah serta kebun sayur.
Di lokasi yang berjarak tidak jauh dari permukiman warga, lahan dikelola melalui Kelompok Tani Baliku Lestari. Sebagian lahan lain juga dimanfaatkan warga untuk menanam aneka tanaman pangan.
Menurut pantauan di lapangan, di wilayah itu terlihat tanaman yang tumbuh beragam, mulai dari timun lalap, timun suri, terong, bayam, singkong, daun katuk, hingga tomat. Ada pula pohon pisang yang ikut mengisi lanskap lahan pertanian di tengah kawasan perkotaan.
Tak hanya ditanami, salah satu sudut lahan memiliki kolam yang dipenuhi eceng gondok. Kolam tersebut juga dimanfaatkan untuk budidaya ikan.
Ketua Kelompok Tani Baliku Lestari, Sulis, menyebut kelompok mulai mengelola lahan tersebut sejak sekitar dua tahun lalu. Luas lahan garapannya sekitar lima hektare.
“Selama dua tahun mulai proses buka lahan, di tahun ini padi sudah dua kali (panen), jagung sekali (panen), sayur sudah sering (panen),” kata Sulis saat dihubungi melalui WhatsApp pada Jumat (7/8/2026).
Bagi Sulis, proses yang dijalankan bukan sekadar urusan bercocok tanam, tetapi juga pengerjaan yang melibatkan tenaga di sekitar lokasi. Ia menuturkan bahwa lahan pertanian itu dikerjakan oleh warga sekitar, sementara kepemilikan lahannya tetap berada di tangan perusahaan swasta.
“Pastinya dari proses tanam sampai panen kita juga menggunakan tenaga dari warga sekitar,” ujarnya.
Varietas padi yang ditanam adalah Ciherang. Pemilihan itu, menurut Sulis, karena varietas Ciherang telah lama menjadi pilihan petani di wilayah Cakung.
Dalam kegiatan panen yang berlangsung bersama Wali Kota Jakarta Timur Muhrijin pada Kamis (6/8/2026), hasil padi dan jagung disebutkan mencapai angka tertentu. Sulis mengatakan panen padi menghasilkan sekitar 11 ton, sementara jagung sekitar 3 ton.
“Hasil panen kemarin dapat 11 ton dari prediksi 10 ton, sedangkan jagung sekitar 3 ton,” katanya.
Berita Terkait
Menjaga produksi di sela pembangunan
Di tengah pesatnya pembangunan Jakarta, sawah di Kampung Bali berfungsi sebagai ruang hijau yang tidak hanya memberi pasokan pangan, tetapi juga mempertahankan jejak pertanian yang masih bertahan di dalam kota.
Kehadiran lahan pertanian itu membuat pola hidup masyarakat sekitar terlihat lebih terhubung dengan aktivitas tanam dan panen, meski lingkungan di sekelilingnya berkembang menjadi lebih padat.
Aktivitas pertanian juga tampak berulang sepanjang tahun, sesuai dengan penuturan Sulis bahwa padi sudah dua kali dipanen dan jagung satu kali panen pada tahun berjalan, sementara sayur dipanen lebih sering.
Dalam praktiknya, Sulis menjelaskan bahwa hasil padi sebagian besar dijual dalam bentuk gabah kering kepada pembeli yang datang langsung ke lokasi.
Sementara itu, hasil panen sayur dipasarkan melalui pengepul dan pasar tradisional, sehingga alurnya mengikuti kebiasaan distribusi yang umum digunakan di wilayah sekitar.
Tanah yang dihidupkan warga
Meski lahan berada di tengah kawasan perkotaan, cara pengelolaannya tetap berangkat dari keterlibatan warga sekitar. Kelompok tani menjalankan proses dari tanam hingga panen dengan mengandalkan tenaga yang berasal dari lingkungan setempat.
Konsep pengelolaan seperti ini membuat lahan produktif tetap terjaga fungsinya, termasuk saat lahan tidur milik perusahaan swasta disulap menjadi hamparan sawah dan kebun yang memberi hasil panen.
Keberagaman tanaman yang ditanam—dari sayur-sayuran hingga tanaman pangan lain seperti singkong dan pisang—turut menunjukkan bahwa lahan tersebut tidak dikhususkan pada satu komoditas saja.
Di sisi lain, kolam yang dipenuhi eceng gondok menggambarkan pemanfaatan ruang lahan untuk kegiatan tambahan, yakni budidaya ikan. Hal itu melengkapi gambaran bahwa area pertanian di Cakung tidak berdiri sebagai hamparan tunggal, melainkan terdiri dari bagian-bagian yang saling mendukung.
Pengelolaan selama lebih dari dua tahun, ditambah dengan jadwal panen yang telah berjalan, menjadi dasar bahwa sawah dan kebun di Kampung Bali dapat bertahan di tengah perkembangan kota.
Dengan demikian, di balik gang-gang sempit Cakung Jakarta Timur, keberadaan lahan sawah dan kebun tetap memberi ruang bagi warga untuk memperoleh penghidupan melalui kegiatan pertanian yang dilakukan secara terorganisasi melalui Kelompok Tani Baliku Lestari.












