jurnalistik.co.id – Di antara tumpukan bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selamet (64) mengupas siung demi siung hingga malam. Setiap gerak tangannya berulang, dilakukan dengan pisau kecil di sela kesibukan lapak.
Selamet telah terbiasa dengan pekerjaan yang mengandalkan ketekunan dan ketahanan fisik. Bekas luka sayatan di tangannya dan rasa perih di mata tidak membuatnya berhenti dari rutinitas harian tersebut.
Perempuan asal Pekalongan, Jawa Tengah, mengaku sudah dua tahun bekerja sebagai pengupas bawang setelah merantau. Ia tinggal mengontrak di kawasan Kampung Dukuh, Jakarta Timur.
Dalam satu hari, Selamet mulai bekerja sekitar pukul 08.00 WIB. Ia bisa bertahan sampai malam untuk menyelesaikan bawang yang diberikan kepadanya.
Selamet biasanya memperoleh bagian empat hingga lima karung bawang putih untuk dikupas. Upahnya dihitung berdasarkan jumlah karung, dengan tarif sekitar Rp15.000 per karung.
Jika mampu menyelesaikan empat karung, Selamet bisa memperoleh sekitar Rp60.000 untuk dibawa pulang. Ia juga sempat menyebut saat mendapatkan Rp50.000, ia tetap bersyukur atas hasil yang datang.
“Dapat Rp 50.000, alhamdulillah, mesti disyukuri aja,” tutur Selamet saat ditemui di pasar pada Minggu (16/8/2026). Baginya, pendapatan itu menjadi penopang untuk menjalani hari yang harus tetap berjalan.
Uang yang diperolehnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan. Selain itu, ia juga mengalokasikan penghasilannya untuk membayar kontrakan yang sekitar Rp500.000 per bulan.
Selamet menambahkan bahwa dari pekerjaannya ia sesekali bisa membantu cucunya. Ia menyederhanakan kebutuhan hidupnya menjadi hal-hal yang paling mendesak dan harus dipenuhi lebih dulu.
“Supaya saya bisa makan, bayar kontrakan,” ujar Selamet. Kalimat itu merangkum alasan yang membuatnya tetap memilih pekerjaan yang berat namun nyata hasilnya.
Kerja menuntut tenaga sampai malam
Berita Terkait
Walau upahnya dihitung per karung, Selamet tetap harus menanggung tenaga yang terkuras selama berjam-jam. Setelah duduk mengupas bawang, pinggang dan tangannya kerap terasa sakit.
Ia tidak menutupi keluhan yang muncul setelah aktivitas panjang di pasar. “Suka menangis, sakit, pinggang sakit, tangan sakit,” katanya dengan nada jujur.
Keluhan itu datang dari pekerjaan yang menuntut posisi tubuh dalam waktu lama. Ia menjalankan pekerjaan yang sama setiap hari, tanpa jeda panjang selain mengikuti alur bawang yang harus dikupas.
Namun, penghasilan harian tetap ia kejar agar kebutuhannya tidak tertinggal. Selamet terus bekerja meski kondisi tubuhnya sudah terasa tidak nyaman di bagian-bagian tertentu.
Di tengah keterbatasannya, Selamet tetap berusaha menyelesaikan target karung yang ia terima. Rutinitas dari pukul 08.00 WIB hingga malam membuat pekerjaannya menjadi bagian dari cara bertahan hidup.
Baginya, mengupas bawang bukan sekadar pekerjaan, melainkan cara memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Saat upah dihitung per karung, ketekunan menjadi penentu untuk bisa membawa pulang hasil yang cukup.
Dengan kondisi tersebut, Selamet tampak berusaha menjaga ritme kerja agar tidak tertinggal. Di pasar, upaya itu terlihat dari cara ia menyelesaikan siung demi siung sampai malam.
Di akhir hari, Selamet pulang membawa upah yang ia peroleh dari jumlah karung yang berhasil diselesaikan. Apa pun angkanya saat hari itu berjalan, ia menyandarkan diri pada harapan agar masih bisa makan dan menunaikan kewajiban kontrakan.
Dalam prosesnya, Selamet bekerja mengikuti jumlah bawang yang diterima, sehingga setiap karung yang selesai menjadi penentu besaran upah yang ia harapkan. Ia berupaya menjaga ritme agar pekerjaan yang menumpuk tetap dapat dituntaskan sebelum hari beralih menjadi malam.
Kendati kondisi fisik sudah menurun, ia memilih untuk tetap melanjutkan pekerjaannya karena kebutuhan yang ia sebutkan tidak bisa ditunda. Ia memprioritaskan makan dan pembayaran kontrakan, sambil menata pengeluaran agar pendapatan hari itu benar-benar membantu.
Ketika malam tiba dan target karung selesai, ia merasa lega karena hasil kerja yang dibawa pulang dapat dipakai untuk menjalankan kewajiban harian. Dari rutinitas yang panjang itu, ia juga tetap menyisakan perhatian pada keluarga, termasuk kesempatan sesekali membantu cucunya.












