Daerah

Genap 81 Tahun Merdeka, Warga Dusun Hepang Sikka Belum Teraliri Listrik: PLN Targekan Jaringan 2027

×

Genap 81 Tahun Merdeka, Warga Dusun Hepang Sikka Belum Teraliri Listrik: PLN Targekan Jaringan 2027

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: "Sudah 81 Tahun Indonesia Merdeka, Kami Belum Juga Menikmati Listrik"

jurnalistik.co.id – MAUMERE — Dusun Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, NTT, masih bergantung pada lampu minyak tanah untuk menerangi malam. Kondisi itu dialami warga dalam rentang puluhan tahun, dengan aktivitas setelah gelap menjadi serba terbatas.

Pada Kamis (13/8/2026) malam, temaram cahaya lampu minyak tanah terlihat menerangi ruangan sederhana tempat warga berkumpul. Sebagian berbagi cerita, sementara yang lain menyimak dalam suasana yang tetap didominasi keterbatasan penerangan.

Warga menilai ketiadaan listrik tidak hanya menyulitkan kegiatan malam, tetapi juga mempengaruhi ruang belajar anak-anak. Saat malam datang, waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk membaca dan belajar ikut menyempit.

Isidorus Yande, warga setempat, menyampaikan keluhan yang sudah lama ia rasakan. Ia mengatakan, “Sudah 81 tahun Indonesia merdeka kami belum juga menikmati listrik,” ucap Isidorus Yande kepada Kompas.com.

Menurut Isidorus, lampu minyak tanah memang membantu menerangi ruangan. Namun, manfaat itu bersifat terbatas karena penggunaan tetap bergantung pada ketersediaan bahan bakar.

Ia menjelaskan ketergantungan tersebut membuat warga harus menghitung kebutuhan setiap kali malam tiba. “Kalau tidak ada uang untuk beli minyak tanah, kami hanya pasrah menunggu pagi tiba,” ucapnya.

Ia mengaku sudah lama menaruh harapan pada pembangunan jaringan listrik yang bisa menjangkau kampung mereka. Harapan itu, menurut pengalamannya, tak kunjung menjadi kenyataan hingga saat ini.

Aris Halilintar menempatkan persoalan listrik sebagai lebih dari sekadar urusan penerangan. Ia menyebut ketiadaan jaringan listrik mencerminkan jarak antara narasi pembangunan dan realitas yang mereka jalani setiap hari.

Aris menuturkan, “Penjajahan memang sudah kita tinggalkan. Tetapi kemerdekaan dalam arti menikmati pembangunan dan pelayanan dasar, kami belum merasakannya secara utuh,” ungkapnya. Pernyataan itu ia sampaikan untuk menggambarkan keresahan warga terhadap layanan dasar yang belum terasa merata.

Ia juga mempertanyakan program pemerataan pembangunan yang selama ini digaungkan pemerintah. Salah satu yang disebutnya adalah program Indonesia terang yang pernah menjadi bagian dari agenda pemerataan akses listrik pada masa pemerintahan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

Namun, Aris menegaskan kenyataan yang ia lihat tidak sejalan dengan agenda tersebut. “Tapi kenyataannya kami tidak kunjung mendapatkan jaringan listrik, Pak Prabowo tolong bantu kami,” ucapnya.

Di tengah keluhan tersebut, PLN menyampaikan penjelasan terkait rencana pembangunan jaringan listrik bagi Dusun Hepang. Manajer PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Flores Bagian Timur, Eko Riduan, menyebut pengembangan jaringan akan dilakukan pada 2027.

“Wilayah Dusun Hepang sudah masuk ke roadmap listrik desa 2027,” ujar Eko. Dengan keterangan itu, PLN menempatkan Dusun Hepang sebagai bagian dari tahapan yang direncanakan dalam peta pembangunan listrik desa.

Bagi warga, penantian panjang tanpa listrik telah membentuk cara mereka mengatur kehidupan sehari-hari, terutama saat malam. Mereka berharap rencana yang disampaikan PLN bisa menjadi jawaban atas kebutuhan penerangan yang selama ini hanya mengandalkan lampu minyak tanah.

Dengan latar “81 tahun Indonesia merdeka” yang dihubungkan langsung oleh keluhan warga, pernyataan PLN tentang target 2027 menjadi sorotan baru. Di sisi warga, harapan tetap bertumpu pada kepastian agar layanan dasar berupa listrik benar-benar dapat dinikmati, bukan hanya berhenti sebagai rencana.

Dalam keseharian, warga menata aktivitas ketika malam mulai turun agar tetap bisa berjalan dengan penerangan seadanya. Karena cahaya bersumber dari lampu minyak, ruang gerak dan jarak pandang menjadi lebih terbatas, sehingga banyak kegiatan dilakukan dengan lebih hati-hati dan segera menyesuaikan waktu.

Bagi keluarga, kondisi itu turut memengaruhi rutinitas belajar anak. Ketika cahaya terbatas, waktu yang semula bisa dipakai untuk membaca dan mengerjakan aktivitas sekolah ikut menyempit, sementara mereka harus menyesuaikan cara belajar agar tetap bisa dilakukan di malam hari.

Di tengah keluhan yang sudah lama disampaikan, pernyataan PLN mengenai roadmap listrik desa 2027 dipandang sebagai penanda arah yang ditunggu warga. Mereka berharap tahapan yang disebutkan benar-benar berujung pada pemenuhan layanan dasar, bukan sekadar berhenti sebagai agenda pemerataan yang tak kunjung menjadi kenyataan.