Daerah

Ilham Haristianto: “Kalau Kami Berlima Bisa Beresin Keresahan Warga, Masa Pemerintah Enggak?”

×

Ilham Haristianto: “Kalau Kami Berlima Bisa Beresin Keresahan Warga, Masa Pemerintah Enggak?”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: “Kalau Kami Berlima Bisa Beresin Keresahan Warga, Masa Pemerintah Enggak?”

jurnalistik.co.id – Bekasi belakangan menyaksikan munculnya gerakan warga yang berangkat dari keluhan paling sehari-hari: kondisi jalan dan fasilitas umum yang dinilai tidak terawat. Dari ruang obrolan setelah bekerja, lima pemuda kemudian memilih turun tangan, bukan hanya menunggu perubahan datang.

Kelima pemuda itu tergabung dalam Generasi Burgeract. Mereka memulai dari pekerjaan kecil yang langsung menyentuh aktivitas warga, seperti menambal jalan berlubang, membersihkan halte, hingga membuat bangku bagi masyarakat yang menunggu bus.

Ilham Haristianto mengungkapkan bahwa semangat mereka berawal dari keresahan yang selama ini menumpuk. “Kalau kami yang cuma berlima aja bisa beresin keresahan warga, masa pemerintah enggak bisa?,” katanya saat berbagi cerita kepada Kompas.com pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, gerakan tersebut lahir dari kebiasaan mereka berkumpul seusai pulang bekerja. Dalam pertemuan itu, mereka kerap membicarakan kondisi jalan dan fasilitas umum yang dianggap tidak terkelola dengan baik, terutama bagian-bagian yang sebenarnya sangat dekat dengan kebutuhan warga harian.

Keresahan semakin menguat ketika salah satu anggota Generasi Burgeract mengalami kecelakaan akibat jalan rusak. Pengalaman tersebut membuat mereka melihat persoalan di sekitar bukan sekadar masalah kenyamanan, melainkan menyangkut keselamatan.

“Dari keresahan itu muncul ide, ‘ gimana kalau kita bikin gerakan aja?’ ” kata Ilham. Menurutnya, pada awalnya kegiatan ini tidak dirancang sebagai program besar, melainkan cara untuk mengisi waktu luang dengan aktivitas yang manfaatnya bisa dirasakan langsung.

Mereka bergerak dengan cara yang sederhana dan terukur. Tindakan pertama yang dipilih berkaitan dengan kebutuhan publik yang paling mudah diamati, termasuk bagian jalan yang berlubang dan area fasilitas yang tampak kotor atau tidak terpelihara.

“Tapi ternyata respons masyarakat positif,” ujar Ilham. Dukungan dan tanggapan warga menjadi salah satu alasan mengapa mereka memutuskan untuk terus melanjutkan langkah perbaikan.

Meski mengambil peran di lingkungan sekitar, Ilham menegaskan bahwa aksi Generasi Burgeract bukan berarti mereka menyimpulkan pemerintah tidak bekerja. Ia menyebut pemerintah memiliki batasan sumber daya serta harus menetapkan prioritas untuk menangani berbagai kebutuhan masyarakat.

“Jadi wajar kalau ada hal-hal kecil yang belum terjangkau merata,” kata Ilham. Baginya, kesenjangan penanganan semacam itu tidak selalu bisa dibaca sebagai ketidakseriusan, melainkan lebih sering terkait kemampuan pemerintah merespons seluruh kebutuhan secara bersamaan.

Di sisi lain, Ilham melihat ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam penyelesaian persoalan lokal. Ia menilai keterlibatan warga terutama penting untuk isu-isu yang membutuhkan penanganan cepat di tingkat sekitar.

Dalam pandangannya, persoalan yang berkaitan dengan keselamatan masyarakat tidak seharusnya selalu menunggu masuk agenda besar. Ia menekankan, masalah yang sifatnya urgen semestinya bisa direspons tanpa harus menunggu siklus program kerja tahunan.

“Tapi persoalan yang sifatnya urgen semestinya tidak harus menunggu masuk ke agenda atau program kerja tahunan untuk bisa direspons,” katanya. Dengan kalimat itu, Ilham ingin menegaskan bahwa ada kebutuhan-kebutuhan mendesak yang bisa ditangani lebih awal ketika warga melihat langsung dampaknya.

Ia juga menempatkan gerakan Generasi Burgeract sebagai bentuk tanggung jawab yang tumbuh dari pengamatan sehari-hari. Bukan hanya soal fasilitas yang terlihat kurang rapi, tetapi juga efeknya pada kenyamanan dan keamanan warga yang melintas atau menggunakan layanan publik tersebut.

Keputusan untuk menambal, membersihkan, dan menyiapkan bangku bagi penumpang bus menunjukkan fokus gerakan mereka pada tindakan nyata yang dapat memperbaiki rutinitas warga. Bagi Ilham, perubahan kecil yang konsisten dapat mengurangi keluhan sekaligus membangun rasa kebersamaan di lingkungan.

Dengan latar itulah, lima pemuda yang semula hanya berdiskusi tentang kondisi sekitar akhirnya memilih bergerak bersama. Respons positif yang mereka terima membuat semangat mereka tidak berhenti pada satu kegiatan, melainkan terus berkembang mengikuti kebutuhan yang muncul di lapangan.

Pada akhirnya, cerita Generasi Burgeract menampilkan cara pandang yang tegas namun tetap proporsional: mereka mengakui keterbatasan pemerintah, tetapi juga menegaskan bahwa warga memiliki peran untuk mengatasi masalah lokal yang mendesak. Melalui tindakan yang langsung menyentuh fasilitas publik, keresahan warga berusaha dijawab dengan kerja nyata di lingkungan sendiri.