jurnalistik.co.id – Rehabilitasi Pasar Ngawen di Kabupaten Blora yang menelan anggaran sekitar Rp 30 miliar dari APBN masih dikebut pengerjaannya, meski tenggat kontrak sudah semakin dekat. Proyek yang dikerjakan PT Joglo Multi Ayu ini kembali menjadi sorotan karena progresnya dinilai belum tuntas menjelang batas waktu perjanjian.
Proyek rehabilitasi tersebut mulai dikerjakan pada 17 November 2025. Dalam perhitungan awal, pengerjaan ditargetkan selesai pada 14 Juli 2026 dengan masa kalender 240 hari.
Namun, pada saat target awal itu berakhir, progres pekerjaan masih berada di kisaran 80 persen. Setelah itu, dilakukan revisi adendum perjanjian yang menambah waktu 30 hari hingga total menjadi 270 hari masa kalender, sehingga batas kontrak berubah menjadi 13 Agustus 2026.
Menjelang kontrak berakhir, tepatnya dua hari sebelumnya, progres pekerjaan tercatat masih berada di kisaran 90 persen. Dengan demikian, sisa pekerjaan diperkirakan masih kurang 10 persen.
Kontraktor: sisa pekerjaan terkait pengadaan barang
PT Joglo Multi Ayu melalui kontraktornya, Saiful, menyampaikan penjelasan terkait keterlambatan progres. Ia mengaitkan capaian yang “kurang 10 persen” tersebut dengan pekerjaan pengadaan barang.
Saiful menjelaskan bahwa proses pengadaan barang saat ini sudah berjalan menuju Blora. Ia juga menyatakan pihaknya masih membutuhkan waktu beberapa hari untuk menyelesaikan rehabilitasi pasar tersebut.
Ia menambahkan bahwa tahapan pemasangan menjadi bagian yang terus dikejar. Menurutnya, instalasi sudah terpasang maksimal dalam rentang tiga hari, sehingga pekerjaan lanjutan tinggal pada proses yang terkait sisa kebutuhan lapangan.
Wabup Blora: kenaikan transportasi dan BBM jadi kendala
Berita Terkait
Sementara itu, Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini, turut berkomunikasi dengan kontraktor serta pejabat pembuat komitmen (PPK) saat meninjau proyek bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Dari perbincangan tersebut, ia menyampaikan adanya kendala dalam pelaksanaan.
Budhe Rini—sebutan akrab Sri Setyorini—menyebut bahwa kontraktor sebelumnya sudah menyampaikan kondisi yang memengaruhi pekerjaan. Salah satu faktor yang disebutnya adalah kenaikan transportasi dan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi secara tiba-tiba.
Ia menilai, kenaikan tersebut turut menjadi hambatan dalam proses kerja di lapangan. Dengan adanya kendala itu, penyelesaian proyek tidak bisa sepenuhnya mengikuti jadwal yang lebih awal ditetapkan.
Peninjauan pejabat daerah menjelang batas kontrak
Selain mendengar penjelasan dari pihak pelaksana, Bupati Blora Arief Rohman dan jajaran Forkopimda juga meninjau langsung lokasi proyek rehabilitasi Pasar Ngawen. Kegiatan peninjauan tersebut dilakukan pada masa dua hari jelang kontrak berakhir.
Dalam kunjungan itu, pihak terkait mengonfirmasi perkembangan pengerjaan serta fokus yang masih harus dikejar sebelum masa perjanjian berakhir. Dari keterangan kontraktor, waktu yang dibutuhkan ditargetkan untuk menuntaskan bagian yang masih menjadi sisa pekerjaan, terutama yang berkaitan dengan pengadaan barang.
Dengan sisa pekerjaan yang diperkirakan kurang dari 10 persen, proyek ini masih dalam tahap penyelesaian menjelang batas waktu 13 Agustus 2026. Baik kontraktor maupun pemerintah daerah menekankan perlunya percepatan pada tahapan yang masih tertunda agar rehabilitasi pasar dapat rampung sesuai target revisi perjanjian.
Rehabilitasi Pasar Ngawen sendiri menunjukkan dinamika penyelesaian sejak awal pengerjaan dimulai pada 17 November 2025. Saat target awal pada 14 Juli 2026 berakhir, capaian masih berada di kisaran 80 persen, lalu dipadukan dengan revisi adendum yang menambah waktu hingga 270 hari kalender. Setelah penyesuaian tersebut, perkembangan meningkat menjadi sekitar 90 persen tepat ketika masa perjanjian tinggal beberapa hari.
Dalam penjelasan pihak pelaksana, Saiful menekankan bahwa bagian yang masih tersisa sangat berkaitan dengan rangkaian pengadaan barang. Ia menyebut proses pengadaan sedang berjalan menuju Blora, sehingga membutuhkan tambahan waktu beberapa hari untuk merampungkan rehabilitasi pasar. Pada sisi pemasangan, menurutnya instalasi sudah dikerjakan secara maksimal dalam rentang tiga hari, sehingga pekerjaan lanjutan lebih terfokus pada kebutuhan di lapangan yang belum terpenuhi.
Penyesuaian jadwal juga diulas dari sisi pemerintah daerah melalui Sri Setyorini saat peninjauan bersama unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah. Ia menyampaikan bahwa kontraktor sebelumnya telah mengingatkan faktor-faktor yang memengaruhi ritme kerja, termasuk kenaikan transportasi dan bahan bakar minyak (BBM) yang datang secara tiba-tiba. Dengan adanya hambatan tersebut, percepatan diperlukan agar sisa tahapan yang tertunda bisa dikejar menjelang batas kontrak yang ditetapkan melalui revisi perjanjian.












