Daerah

PAM Jaya Percepat Transformasi agar Air Jakarta Tetap Mengalir Tanpa Bocor

×

PAM Jaya Percepat Transformasi agar Air Jakarta Tetap Mengalir Tanpa Bocor

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Menjaga Aliran Air Jakarta...

jurnalistik.co.id – PAM Jaya terus mengakselerasi transformasi layanan untuk memastikan air yang sampai ke rumah warga Jakarta tidak hilang di tengah jalan akibat kebocoran. Langkah pembenahan ini juga diarahkan agar pasokan air baku tetap terjaga ketika musim kemarau mulai terasa.

Di balik persoalan yang tampak sederhana di rumah-rumah warga, pengelolaan air perpipaan membutuhkan kerja panjang dalam menjaga keandalan jaringan. PAM Jaya, menurut pemberitaan, membangun pendekatan yang menyatukan penataan infrastruktur, penanganan kebocoran, hingga perbaikan tata kelola.

Perusahaan menempatkan transformasi sebagai bagian dari target cakupan layanan air perpipaan yang ditetapkan mencapai 100 persen pada 2029. Sejalan dengan itu, pembenahan jaringan tidak dipandang sebagai pekerjaan terpisah, melainkan bergerak beriringan dengan upaya menekan kehilangan air.

Peneliti Jakarta Public Service, Rahmat Hidayat, menilai transformasi PAM Jaya berperan sebagai fondasi penting bagi layanan air minum perpipaan yang lebih modern. Menurutnya, pendekatan tersebut juga diharapkan lebih profesional dan berorientasi pada masyarakat.

Rahmat menekankan bahwa layanan air bersih merupakan kebutuhan dasar yang harus terus dipenuhi secara konsisten. “Pemenuhan layanan air bersih adalah salah satu pemenuhan kebutuhan dasar, tentu ini harus didukung bersama,” kata Rahmat, dikutip dari Antara, Jumat (7/8/2026).

Upaya PAM Jaya tidak berhenti pada perluasan jaringan perpipaan. Perusahaan disebut turut mempercepat penanganan kebocoran, melakukan digitalisasi layanan, membangun infrastruktur baru, serta memperkuat tata kelola di tubuh organisasi.

Fokus yang terus didorong adalah penekanan tingkat non-revenue water (NRW), yakni kehilangan air yang tidak menghasilkan pendapatan. Untuk menekan angka tersebut, PAM Jaya menjalankan percepatan penanganan kebocoran pipa, rehabilitasi jaringan distribusi, serta pembentukan district metered area (DMA).

Selain itu, perusahaan juga disebut menggencarkan penggantian meter pelanggan dan melakukan digitalisasi sistem pemantauan jaringan. Rangkaian langkah ini dimaksudkan agar kondisi jaringan dapat dipantau lebih ketat dan gangguan dapat ditangani lebih cepat.

Rahmat menilai orientasi PAM Jaya terlihat bukan hanya dari ekspansi jaringan, tetapi juga keseriusan membenahi masalah yang selama ini menjadi tantangan. “Kita melihat bagaimana perusahaan ini tidak hanya fokus memperluas jaringan perpipaan, tetapi juga serius membenahi persoalan mendasar seperti kebocoran jaringan yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan besar,” katanya.

Dalam penilaian Rahmat, transformasi juga tampak dari cara kepemimpinan di PAM Jaya. Ia memberikan apresiasi kepada Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, yang disebut memandu penanganan kebocoran dengan turun langsung.

“Jadi tidak hanya duduk di belakang meja. Ini menjadi motivasi bagi seluruh jajaran untuk bekerja lebih cepat, lebih responsif, dan memastikan setiap gangguan layanan segera ditangani,” ucap Rahmat. Cara tersebut, menurut logika yang disampaikan, membantu mempercepat respons ketika masalah muncul di lapangan.

Percepatan penanganan kebocoran menjadi bagian penting dari transformasi layanan yang tengah dijalankan. Saat kehilangan air dapat ditekan, pasokan yang tersedia juga lebih berpeluang sampai ke pelanggan dengan lebih stabil.

Menjaga pasokan air baku saat kemarau

Di waktu yang sama, PAM Jaya menghadapi tantangan lain yang tidak kalah penting: menjaga pasokan air baku agar tetap aman. Pemberitaan menyebut perusahaan memastikan ancaman musim kemarau tidak memengaruhi ketersediaan air baku yang menjadi sumber produksi air bersih bagi warga Jakarta.

Dengan kata lain, transformasi yang dikebut tidak hanya menargetkan perbaikan di sisi distribusi, melainkan juga menjaga kesinambungan dari hulu produksi hingga air mengalir di jaringan perkotaan. Upaya tersebut diarahkan agar ketika musim kemarau mulai mengintai, pelayanan tetap berjalan dan gangguan dapat diminimalkan.

Sementara fokus besar tetap pada penekanan kehilangan air melalui kebocoran, kombinasi intervensi infrastruktur, rehabilitasi jaringan, pembentukan DMA, penggantian meter pelanggan, serta pemantauan berbasis digital, menjadi fondasi teknis yang saling melengkapi. Dengan demikian, PAM Jaya berusaha menjaga kualitas layanan dari sisi keandalan jaringan sekaligus menjaga keberlangsungan pasokan.

Transformasi yang berlangsung juga diposisikan sebagai langkah menuju layanan yang lebih modern dan profesional, termasuk melalui penguatan tata kelola. Penekanan pada NRW, percepatan respons gangguan, serta kepemimpinan yang turun langsung disebut menjadi pendorong agar perbaikan berjalan lebih cepat dan lebih responsif.

Jika target perluasan cakupan layanan hingga 100 persen pada 2029 ingin dicapai, pembenahan kebocoran dan penguatan sistem monitoring menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Karena pada akhirnya, keberhasilan layanan air perpipaan bukan hanya soal berapa banyak jaringan bertambah, tetapi juga berapa besar air benar-benar sampai tanpa hilang di tengah jalan.