Daerah

Garam Kasar Sepi Pembeli, Botol Bekas Jadi Penyangga Hidup Budi

×

Garam Kasar Sepi Pembeli, Botol Bekas Jadi Penyangga Hidup Budi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Garam Kasar Kerap Tak Laku, Botol Bekas Jadi Penopang Hidup Budi

jurnalistik.co.id – Lima hari terakhir, Pak Budi (71) belum berhasil menjual garam kasarnya. Setiap hari, lansia penjual garam kasar itu tetap mengayuh sepeda tuanya melewati puluhan kilometer jalanan di wilayah Tangerang.

Di sela aktivitasnya, ia mengaku dagangannya kian sulit laku di tengah sepinya pembeli dan kondisi ekonomi yang dirasakannya makin berat. Pak Budi ditemui di Jalan M Toha, Karawaci, Kota Tangerang, pada Jumat (7/8/2026).

Garam kasar yang ia bawa—garam dalam bungkus—sering tidak berpindah tangan dalam rentang waktu lama. Ia menyebut, ada hari-hari ketika calon pembeli tidak datang sama sekali.

“Kadang seharian enggak ada yang beli. Kemarin udah lima hari enggak ada yang beli,” tutur Pak Budi lirih saat ditemui di lokasi.

Dengan keranjang yang menyatu dengan sepeda tuanya, ia menggantungkan harapan pada penjualan selama jam-jam beraktivitas. Namun, dari pagi hingga sore, bungkus garam yang ia bawa kerap hanya menjadi bagian dari keseharian tanpa transaksi.

Pak Budi membawa dagangan garam kasar dengan harga Rp 15.000. Menurut pengakuannya, dalam beberapa hari terakhir, usaha tersebut tidak lagi menghadirkan hasil yang cukup stabil.

Di lokasi yang sama, ia menyampaikan bahwa gangguan sepi pembeli sudah berlangsung berturut-turut. Kondisi itu, menurutnya, membuat ia harus mencari cara lain agar tetap bisa memenuhi kebutuhan hariannya.

Botol plastik bekas sebagai tambahan penghidupan

Ketika penjualan garam tidak kunjung terjadi, Pak Budi memutar strategi agar tetap bisa makan dan menjalankan tanggung jawabnya. Ia mengatakan terpaksa memungut botol plastik bekas di sepanjang rute kelilingnya.

“Kadang-kadang ya nyari (botol plastik bekas) buat kerompongan (lapak rongsokan). Dikumpulin, buat tambah-tambah,” katanya.

Botol plastik bekas yang dikumpulkan itu kemudian dijual kepada pengepul dengan harga Rp 5.000 per kilogram. Pak Budi menjelaskan, hasil tambahan tersebut biasanya ia gunakan sebagai penopang yang sifatnya sambilan.

Ia menuturkan, pada beberapa kondisi ia bisa memperoleh sekitar lima karung dari hasil kumpulannya. Dari situ, ia mengaku bisa mendapatkan sekitar Rp 60.000.

“Buat sambilan aja, kadang lima karung dapet Rp 60.000. Yang penting kan mau usaha,” ujarnya sambil tersenyum.

Upaya yang dilakukan Pak Budi tidak berhenti pada mengais pembeli, melainkan juga melibatkan kerja tambahan di luar penjualan garam. Ia menyebut kebutuhan untuk tetap berusaha, sekaligus memastikan pengeluaran yang harus dipenuhi.

Ia juga menyampaikan bahwa ia memiliki kewajiban membayar sewa kontrakan sebesar Rp 200.000 per bulan. Di tengah kondisi penjualan yang sedang menurun, beban tersebut membuat langkahnya menjadi semakin terukur.

Harga modal yang naik semakin menekan usaha kecil

Selain sepinya pembeli, Pak Budi juga menghadapi masalah lain yang berkaitan dengan biaya modal. Ia mengaku harga garam kasar yang ia butuhkan untuk kulakan mengalami lonjakan.

Menurut Pak Budi, ia kini tidak mampu kulakan dalam jumlah besar karena harga garam karungan yang menurutnya naik drastis. Perubahan biaya ini membuat pilihan belinya ikut menyempit.

Ia mengatakan, sebelumnya ia bisa membeli garam yang lebih fleksibel. Namun saat ini, ia cenderung memilih garam dalam bungkusan karena harga per karung membebani.

“Biasa beli yang bungkusan (garam kasarnya), soalnya sekarungnya Rp 270.000. Kalau dulu kan masih sekitar Rp 60.000 sampai Rp 100.000. Sekarang mah Rp 270.000,” tuturnya.

Dari perbandingan yang ia sampaikan, ada rentang harga yang pernah ia anggap masih dapat dijangkau. Ia lalu membandingkannya dengan kondisi terkini yang menurutnya membuat usaha makin sulit bertahan.

Dalam keseharian, Pak Budi terus bergerak di wilayah Tangerang sambil membawa garam yang ia jual. Akan tetapi, saat modal semakin mahal sementara penjualan tidak menentu, ia menyatakan situasi tersebut semakin menjepit.

Sehari-hari yang ia jalani menunjukkan bahwa aktivitas berdagang garam tidak hanya soal menunggu pembeli. Ia juga harus menyesuaikan diri dengan perubahan harga bahan baku dan kondisi di lapangan.

Di tengah proses tersebut, botol plastik bekas menjadi jalan tambahan yang ia pilih. Ia menganggap pengumpulan barang rongsokan bisa menjadi cara untuk menambah pemasukan saat garam tidak laku.

Meski langkah yang diambilnya bersifat sambilan, Pak Budi tetap menempatkannya sebagai bagian dari upaya menyambung hidup. Ia menegaskan bahwa ia tetap berusaha, meski hasil yang ia harapkan belum datang.

“Yang penting kan mau usaha,” katanya, merangkum sikapnya di tengah sepinya penjualan garam kasar selama beberapa hari berturut-turut.