Teknologi

Sektor Teknologi Menguat, Bursa Asia Berpeluang Lanjut Naik – Market

×

Sektor Teknologi Menguat, Bursa Asia Berpeluang Lanjut Naik – Market

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Saham Teknologi Melesat, Bursa Asia Berpotensi Menguat - Market

jurnalistik.co.id – Reli yang dipimpin sektor teknologi di Wall Street menjadi salah satu pemicu utama prospek pergerakan bursa Asia pada perdagangan berikutnya. Di saat yang sama, harga minyak yang melemah turut memberi ruang bagi sentimen pasar.

Untuk kawasan Asia, kontrak berjangka indeks saham Hong Kong, Korea Selatan, dan Australia mengindikasikan kecenderungan penguatan. Adapun Jepang tidak ikut bergerak karena bursa masih tutup untuk hari libur.

Di Amerika Serikat, kontrak berjangka indeks acuan bergerak relatif stabil setelah S&P 500 dan Nasdaq 100 membukukan kinerja harian terbaik sejak awal Agustus. Penguatan tersebut datang ketika investor kembali memberi perhatian besar pada saham-saham teknologi.

Indeks yang melacak pergerakan saham-saham teknologi mencatat lompatan lebih dari 4%. Lonjakan itu juga berkaitan dengan tanda-tanda awal bahwa antusiasme terhadap kecerdasan buatan (AI) kembali bergairah, setelah agen AI milik Meta Platforms Inc disebut menunjukkan perkembangan awal yang mampu membangkitkan minat pasar.

Di antara emiten terkait, saham Meta melonjak 11%. Sementara itu, kapitalisasi pasar Advanced Micro Devices Inc (AMD) menembus nilai US$1 triliun, sejalan dengan respons positif yang juga terlihat pada Nasdaq 100 yang naik 2,8%.

Pergerakan saham berisiko juga mendapat angin tambahan dari kondisi komoditas. Harga minyak AS turun untuk hari kelima berturut-turut, setelah minyak mentah Brent ditutup melemah 3,4% pada Senin (21/9) dan berada di kisaran US$100 per barel.

Penurunan minyak tersebut dikaitkan dengan indikasi meningkatnya ekspor minyak Arab Saudi melalui Selat Hormuz. Perkembangan ini muncul bersamaan dengan munculnya kembali harapan diplomatik terkait perang Iran, sehingga kekhawatiran terhadap dinamika harga energi ikut mereda.

Turunnya harga minyak membantu menekan kekhawatiran inflasi, yang pada akhirnya turut memengaruhi imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun tercatat turun lima basis poin menjadi 4,95%, sementara nilai dolar AS bergerak sedikit menguat.

Dengan kombinasi faktor tersebut—kinerja kuat di Wall Street yang dipimpin teknologi, sinyal positif dari minat investor pada tema AI, serta meredanya tekanan dari minyak—peluang kelanjutan penguatan di bursa Asia menjadi terbuka. Kondisi ini tetap dibayangi oleh kalender perdagangan yang tidak seragam, mengingat Jepang tidak beroperasi pada hari tersebut.

Di tengah dinamika tersebut, pelaku pasar tampak membaca pergerakan berantai dari Wall Street ke Asia. Ketika fokus bergeser kembali ke saham berteknologi, sentimen positif cenderung ikut terbawa pada perdagangan pembuka, terutama bagi indeks yang sensitif terhadap saham-saham pertumbuhan.

Lonjakan minat terhadap kecerdasan buatan juga menjadi penguat narasi di meja investasi. Ketertarikan itu tidak hanya terlihat dari pergerakan indeks yang mengungguli, tetapi juga tercermin dari respons cepat terhadap emiten yang berada di pusat ekosistem teknologi dan platform layanan.

Reaksi pasar di sektor teknologi seolah diperkuat oleh beberapa indikator sekaligus. Kenaikan harga saham Meta yang tajam memberi sinyal bahwa investor bersedia mengejar momentum, sementara penguatan pada Nasdaq 100 menunjukkan bahwa laju apresiasi tidak terlokalisasi pada satu perusahaan saja.

Sementara itu, sisi lain dari paket sentimen datang dari komoditas energi. Saat tekanan harga minyak menurun, kekhawatiran mengenai arah inflasi ikut mereda. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang terjadi bersamaan membantu memperlunak biaya pendanaan, sehingga ruang gerak saham cenderung lebih luas.

Dengan dasar itu, prospek pembukaan bursa Asia menjadi lebih menjanjikan, meski tidak sepenuhnya seragam. Kalender perdagangan yang berbeda membuat sebagian pasar bergerak lebih dulu, sedangkan Jepang yang masih libur berpotensi membuat pergerakan lanjutan pada sesi berikutnya lebih bergantung pada arus informasi dari bursa lain.