jurnalistik.co.id – Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Gang Buntu 8A, RT 06 RW 07, Kelurahan Lamper Tengah, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Jawa Tengah, berubah menjadi lorong penuh warna. Pada Kamis (13/8/2026) malam, puluhan lampion tampak menggantung dan menerangi permukiman yang berdempetan.
Lampion yang dipasang berjajar di atas gang itu hadir dalam beragam warna: merah, biru, hijau, kuning, putih, hingga oranye. Saat malam tiba, cahaya lampion menyapu lorong sempit sehingga suasananya terlihat berbeda dari hari-hari biasa.
Yang membuat pemandangan tersebut menarik, lampion tersebut tidak dibuat oleh pabrikan. Warga setempat yang mengerjakannya memanfaatkan limbah galon plastik sebagai bahan utama.
Di balik lampion-lampion itu ada Mulyadi (45), perajin tempe yang tinggal di kawasan tersebut. Ia menjadi sosok yang membuat puluhan lampion dari barang bekas untuk memeriahkan bulan kemerdekaan.
Mulyadi mengungkapkan ide untuk menjadikan galon bekas sebagai lampion sebenarnya sudah muncul sejak dua tahun lalu. Namun, gagasan itu baru benar-benar diwujudkan pada tahun ini.
“Sudah tahun kemarin, tapi baru terwujud tahun ini,” katanya saat ditemui di Gang Buntu 8A, Jumat (14/8/2026).
Ia menyatakan tidak memiliki latar belakang sebagai seniman. Menurutnya, ide berawal dari keinginan memanfaatkan barang bekas sekaligus memberi suasana yang berlainan bagi lingkungan tempat tinggalnya.
Awal mula rencana itu juga berangkat dari obrolan dengan teman satu gang. “Bilang sama teman satu gang, kok setuju, ya akhirnya digaskan,” tutur Mulyadi.
Proses pengerjaan lampion dimulai bertahap. Mulyadi mulai mengerjakan lampion sejak pertengahan Juni 2026 dan menggarapnya sebagai kegiatan sampingan di sela aktivitasnya sebagai perajin tempe.
Berita Terkait
Untuk jumlah lampion yang dihasilkan, Mulyadi menyebut totalnya mencapai 52 buah. “Pengerjaan sendiri, mulai pembuatan dari pertengahan Juni buat sampingan. Bikin 52 lampion dari limbah galon warga,” ujarnya.
Sebagai bahan utama, ia menggunakan galon bekas yang diperoleh dari limbah warga maupun tempat rongsok. Selain galon, ia juga menyiapkan lampu, fitting lampu, dan sejumlah bahan pendukung lain agar lampion dapat menyala.
Tahap berikutnya dilakukan dengan pengerjaan manual. Satu per satu galon bekas dipotong dan dibentuk menyerupai bunga. Setelah struktur lampion terbentuk, bagian dalamnya kemudian dipasangi lampu sehingga galon yang semula menjadi limbah berubah menjadi hiasan warna-warni.
Tujuan pemasangan di gang sempit
Mulyadi mengatakan lampion tersebut sengaja dibuat untuk menyambut serta memeriahkan bulan kemerdekaan. Setelah proses pengerjaan selesai, lampion dipasang berjajar di sepanjang Gang Buntu 8A.
Dengan posisi yang menggantung melintang di atas gang, cahaya lampion terlihat jelas saat malam. Dampaknya, lorong permukiman yang diapit bangunan rapat menjadi lebih terang dan tampak meriah menjelang perayaan.
Meski berasal dari bahan bekas, lampion tetap menghadirkan tampilan yang bervariasi melalui pilihan warna dan bentuk yang dibentuk menyerupai bunga. Kombinasi warna merah, biru, hijau, kuning, putih, hingga oranye membuat suasana gang terlihat hidup.
Pada momen menjelang HUT RI, keberadaan lampion juga menjadi bagian dari cara warga memaknai perayaan dengan karya yang dikerjakan sendiri. Dari usaha yang dimulai pertengahan Juni hingga akhirnya dipasang pada Kamis malam, lampion tersebut menjadi hasil kerja yang dikerjakan bertahap.
Ide yang sudah muncul sejak dua tahun lalu akhirnya menemukan bentuk pada tahun ini. Bagi Mulyadi, langkah memanfaatkan galon bekas menjadi lampion sekaligus menunjukkan bahwa barang yang dianggap limbah bisa disulap menjadi hiasan yang menambah semarak lingkungan.












