Daerah

Kemarau Berkepanjangan Mengubah Pola Tanam Petani Lampung Selatan: Padi Diganti Sayuran

×

Kemarau Berkepanjangan Mengubah Pola Tanam Petani Lampung Selatan: Padi Diganti Sayuran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kemarau Panjang Paksa Petani Lampung Selatan Tinggalkan Padi, Beralih ke Sayuran

jurnalistik.co.id – Kemarau panjang membuat sebagian petani di Desa Umbul Niti, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan mengubah cara bertani. Di lahan yang sebelumnya identik dengan padi dan jagung, kini pola tanam bergeser mengikuti ketersediaan air.

Perubahan itu terutama terasa ketika sumber air makin sulit didapat. Kondisi cuaca yang berlarut-larut membuat petani tidak lagi leluasa memilih tanaman seperti pada musim-musim sebelumnya, karena lahan tetap perlu menghasilkan.

Di tengah keterbatasan tersebut, sebagian petani memilih beralih ke sayuran yang dinilai memerlukan lebih sedikit air dibandingkan padi. Tanaman yang mulai dituju antara lain sawi, pakcoy, bayam, dan kangkung.

Pergeseran dari padi ke sayuran

Suyanto, salah seorang petani Desa Umbul Niti, menggambarkan bahwa pilihan tanamannya berubah setelah ketersediaan air menipis. Ia sebelumnya mengandalkan padi sebagai tanaman utama, namun kebutuhan pasokan airnya dinilai terlalu berat saat kemarau semakin parah.

Menurut Suyanto, mempertahankan padi ketika air tidak mencukupi justru berisiko terhadap modal yang sudah dikeluarkan. Dari pertimbangan itulah ia kemudian menyesuaikan tanaman di lahannya.

Ia menjelaskan, “Dulu nanam padi. Setelah kemarau, ya main sayuran saja yang kebutuhan airnya lebih kecil,” kata Suyanto.

Baginya, beralih ke sayuran memberi ruang untuk tetap bercocok tanam meski kondisi sedang tidak menguntungkan. Namun, perubahan tanaman tidak otomatis menghapus seluruh persoalan di lapangan.

Air dari sumur bor dan biaya pompa

Selain masalah ketersediaan, petani juga harus menghadapi cara distribusi air. Saat kemarau berlangsung, halaman yang lebih sulit dijangkau hanya dapat ditanami jika ada sumur bor dan aliran air yang memadai.

Saat ditemui Kompas.com pada Kamis (13/8/2026), Suyanto mengatakan, “Ya susah. Kalau enggak ada sumur bor, yang bagian atas ini enggak bisa (ditanami),” ujarnya.

Dalam praktiknya, petani harus berbagi air dari sumur bor. Kondisi ini berpengaruh pada pengelolaan lahan dan jadwal penyiraman, sekaligus menambah pengeluaran karena pompa perlu dinyalakan agar air bisa dialirkan.

Di saat yang sama, peningkatan biaya operasional turut menjadi tekanan bagi petani. Mereka tidak hanya mengatur jenis tanaman, tetapi juga harus menjaga agar proses penyiraman tetap berjalan di tengah air yang terbatas.

Harga sayuran berfluktuasi

Ketika tanaman sudah berganti, tantangan berikutnya datang dari pasar. Suyanto menyampaikan bahwa keuntungan dari sayuran tidak selalu bisa dipastikan karena harga di pasaran dapat berubah-ubah.

Ia menyebut, “Harganya naik turun, enggak pasti,” kata Suyanto.

Dengan demikian, kemarau panjang tidak hanya memaksa petani menyesuaikan pola tanam, melainkan juga menempatkan mereka dalam dua ketidakpastian sekaligus: air untuk produksi dan harga jual saat panen datang. Dalam kondisi itu, petani tetap berupaya agar lahan bisa menghasilkan sesuatu, meski hasil akhir bergantung pada situasi yang terus bergerak.

Peralihan dari padi ke sayuran di Desa Umbul Niti menunjukkan bahwa pilihan bercocok tanam kini sangat ditentukan oleh kemampuan petani mengakses air. Pada saat yang sama, berfluktuasinya harga sayuran membuat keputusan petani tetap berisiko, terutama ketika kemarau belum menunjukkan tanda akan segera berakhir.

Dalam menentukan apa yang akan ditanam, para petani di Desa Umbul Niti perlu menilai kondisi air dari hari ke hari. Jika aliran air tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan penyiraman, mereka akhirnya mengambil keputusan yang lebih konservatif agar lahan tetap terawat.

Selain memilih jenis tanaman, pengaturan penyiraman menjadi bagian penting dari upaya bertahan saat kemarau. Ketika air harus dibagi dan pompa harus dinyalakan, petani dituntut menyusun jadwal yang realistis supaya tanaman yang dipilih tidak mengalami kekurangan air terlalu lama.

Walau beralih ke sayuran diharapkan menekan kebutuhan air, ketidakpastian tetap melekat pada proses sampai panen. Petani perlu menghadapi kemungkinan harga yang berubah, sehingga usaha yang telah disiapkan tetap harus berjalan dengan pertimbangan yang matang, mengikuti dinamika musim dan pasar.