jurnalistik.co.id – Kulit memang dipandang sebagai “lapisan terdepan” tubuh, tetapi dokter menegaskan bahwa kondisi kulit tak hanya ditentukan oleh perawatan dari luar. Pola makan dan gaya hidup sehari-hari, termasuk kebiasaan mengonsumsi minuman manis, ikut memengaruhi kualitas kulit dalam jangka panjang.
Kulit merupakan organ terluas pada tubuh yang berfungsi melindungi dari berbagai paparan lingkungan, misalnya sinar ultraviolet (UV), bakteri, jamur, dan trauma fisik. Karena menjadi bagian tubuh yang paling pertama disadari saat tanda-tanda penuaan mulai muncul, banyak orang kemudian berfokus pada penggunaan skincare dan berbagai perawatan kulit lainnya agar tampak lebih awet muda.
Namun, menurut dr. Annisa Anjani Ramadhan, Sp.D.V.E., kondisi kulit tidak berhenti pada rutinitas perawatan luar. Dokter yang merupakan BAMED Dermatologist itu menyampaikan penjelasan tersebut dalam acara Wellness Day “Glow Up: Steal the Spotlight” yang digelar oleh Tropicana Slim di SANA Studio, Jakarta Selatan pada Sabtu (06/06).
Nutrisi berpengaruh, bukan hanya skincare Dr. Annisa mengingatkan bahwa hasil perawatan kulit bisa tidak optimal bila nutrisi dan asupan yang masuk tidak diperhatikan. “Kalau cuma melakukan skincare , tetapi tanpa memikirkan nutrisi, asupan, yang kita dapatkan, hasilnya tidak optimal,” ujar dr. Annisa dalam acara tersebut.
Ia juga menyebut semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa konsumsi gula sederhana secara berlebihan dapat mempercepat proses penuaan sel tubuh. “Sebetulnya asupan gula itu sangat berpengaruh ke kulit, terutama gula yang sederhana,” katanya.
Gula memicu proses glikasi hingga AGEs Gula sederhana merupakan jenis gula yang umum ditemukan dalam berbagai minuman dan makanan manis sehari-hari. Dr. Annisa menjelaskan salah satu mekanisme yang terjadi adalah proses glikasi, yaitu ketika kadar gula dalam tubuh berlebih, sebagian gula dapat menempel pada sel-sel tubuh dan menghasilkan senyawa sampingan yang dikenal sebagai Advanced Glycation End Products (AGEs).
“Efeknya merusak sel yang ditempel. Jadi, kalau gula yang terlalu banyak levelnya di tubuh kita, jadi menempel aja ke jaringan-jaringan atau sel tubuh, tidak digunakan dengan optimal, maka dia akan menghasilkan AGEs,” jelas dr. Annisa. Menurutnya, AGEs kemudian ikut merusak sel yang ditempel.
Dengan mekanisme tersebut, dampak konsumsi gula berlebih tidak terlihat pada kulit saja. Dr. Annisa menekankan bahwa berbagai jaringan tubuh lainnya pun dapat terpengaruh karena sel-sel yang rusak jumlahnya bisa meningkat seiring peningkatan kadar gula.
Ia menggambarkan kondisi itu dengan kalimat: “Bayangkan ketika gulanya makin banyak, sel yang rusak juga akan makin banyak,”. Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa kualitas kulit berkaitan erat dengan bagaimana tubuh menangani asupan, termasuk gula sederhana yang dikonsumsi dalam jumlah berlebih.
Perawatan luar dan kebiasaan harian perlu berjalan bersama Dokter Annisa menekankan bahwa kesehatan kulit juga dipengaruhi kebiasaan sehari-hari, bukan semata-mata soal makanan. Dalam konteks gaya hidup, ia menegaskan pentingnya peran tidur yang cukup dan rutin berolahraga untuk menjaga kesehatan kulit.
Untuk tidur, dr. Annisa menyebut idealnya orang dewasa tidur sekitar 6–8 jam per hari. Saat tidur, tubuh menjalankan berbagai proses regenerasi, termasuk pada kulit, sehingga kebiasaan ini menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi kulit tetap terawat.
Dengan demikian, penjelasan dokter mengarah pada satu gagasan utama: skincare memang dapat membantu perawatan kulit, tetapi tidak akan memberikan hasil optimal jika asupan—termasuk konsumsi gula sederhana secara berlebihan—tidak dikelola. Kombinasi antara perhatian pada nutrisi dan pembenahan kebiasaan harian dipaparkan sebagai langkah yang relevan untuk menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang.








