jurnalistik.co.id – Libur musim panas sering membuat waktu makan berubah menjadi rangkaian “pertempuran” harian, terutama ketika anak mulai menolak sayur yang sebelumnya belum pernah bermasalah. Banyak orang tua kemudian mencari cara yang lebih nyaman agar anak tetap mau mencoba, tanpa memaksa atau memberi tekanan.
BBC menghimpun sejumlah saran dari orang tua dan tenaga pendidik untuk menghadapi anak pemilih saat makan. Fokus utamanya adalah bagaimana menyiasati rutinitas libur yang lebih longgar, meningkatkan penerimaan pada sayuran, serta menjaga agar variasi makanan tetap berjalan seimbang.
Ubah cara menyajikan sayur agar lebih “akrab”
Beberapa orang tua memilih pendekatan dengan mengubah bentuk dan cara penyajian. Natalia, ibu empat anak dari south-west London, mengatakan anak-anaknya menyukai green beans, tetapi “not by themselves”. “They like green beans but not by themselves, so we just fry them in a little bit of butter and dip in breadcrumbs. The same with cauliflower and lots of other vegetables,” ujarnya.
Teacher Kieron Fisher, yang tinggal di Newbury, Berkshire, memasukkan sayuran ke dalam menu yang sudah disukai anak-anaknya, Kit dan Ollie yang berusia enam tahun. Ia mencontohkan pemakaian sayuran dalam curries dan spaghetti Bolognese. “It helps increase their vegetable intake without causing a battle.”
Emma Robins dari Reading punya kebiasaan serupa untuk putranya Alfred yang berusia tiga tahun. Ia menyebut broccoli tersembunyi di pesto pasta sebagai favorit, selain sayur yang diolah dan dimasukkan ke dalam saus pasta. Emma juga merekomendasikan membuat burger versi rumahan dengan tambahan sayuran.
Gunakan rutinitas visual saat libur membuat anak sulit menyesuaikan
Ketiadaan rutinitas yang stabil selama liburan dapat menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian anak. Kieron menyarankan penggunaan visual boards untuk membantu anak memahami urutan kegiatan.
Ide yang disampaikan sederhana: tampilkan visual tentang healthy snack yang akan segera mereka dapatkan, lalu visual lain yang menunjukkan aktivitas berikutnya.
Perhatikan kebutuhan anak dengan hambatan sensorik
BBC juga menyinggung bahwa sebagian anak dengan kebutuhan pendidikan khusus bisa mengalami kesulitan sensorik terkait makanan. Kondisi tersebut tidak otomatis berarti mereka “fussy eaters”, sehingga saran-saran yang ada tidak selalu cocok untuk setiap anak.
Jangan memaksa menghabiskan piring
Doone dari London menekankan bahwa pemaksaan justru dapat menimbulkan tekanan. “If they’re hungry, they’ll eat. I don’t force them to because I think that can instil pressure,” katanya.
Ia menambahkan pengalaman putrinya Cora yang kini berusia dua tahun. “She used to be the ‘best eater’ but seeing others at nursery turn their noses up at certain foods made her do the same.” Dalam pendekatannya, Doone berusaha tidak menjadikan penolakan itu sebagai masalah besar. “I’m trying not to make a big deal of it. Even though they don’t eat it, I always put the broccoli on the plate so that they’re seeing it.”
Berikan pilihan, lalu rayakan ketertarikan kecil
Emma menyarankan orang tua memberi banyak opsi supaya anak merasa seolah mereka yang memilih. Ia juga mencontohkan kebiasaan memberi variasi sehat di bekal Alfred. “In Alfred’s lunchbox, she always adds two or three healthy options.”
Berita Terkait
Ia juga menggarisbawahi pentingnya pujian ketika anak menunjukkan minat. “If they say one day they want carrots, run and get the carrots and give big praise when they eat them,” ucap Emma.
Terus tawarkan hingga anak benar-benar mencoba
Perubahan kebiasaan makan tidak terjadi dalam sekejap. Riset yang dikutip BBC menyebutkan bahwa dibutuhkan hingga 15 kali percobaan sebelum anak akhirnya menyukai makanan baru. “Keep going,” kata salah satu ibu di luar Barnes Primary School, south-west London.
“Keep offering it and they will pick it up and try it. We try to make everyone try everything in our house, even the tiniest bit.” Beberapa orang tua juga menilai penolakan bisa dipicu warna atau tekstur tertentu, sebelum akhirnya anak mau mencobanya.
Penolakan terhadap makanan baru atau penolakan terhadap makanan yang sebelumnya disukai juga bukan hal langka. BBC mengutip pernyataan NHS bahwa “More than half will show fussy eating habits at some point.”
Sayuran, khususnya, sering terasa “quite bitter to young palates”. Kebiasaan biasanya membaik seiring waktu. Namun, bila anak mulai menghindari makanan tertentu dan membatasi jumlah yang mereka makan dengan cara yang tidak sehat, BBC menyarankan mencari nasihat medis.
Libatkan seluruh keluarga dan atur porsi
Doone menjelaskan bahwa ia berusaha menjadikan makan sebagai aktivitas keluarga. “I always eat with my girls and I eat what they’re eating,” katanya, mengacu pada dua anaknya yang ia sebut “quite fussy eaters”.
British Nutrition Foundation juga mendukung gagasan bahwa makan sebaiknya menjadi urusan keluarga, agar anak bisa belajar dari kebiasaan orang tua. Ketika usia sudah lebih besar, anak dapat membantu persiapan makanan.
Emma menambahkan unsur yang membuat suasana makan lebih menyenangkan: mengajak anak fruit picking, memberi kesempatan memilih di supermarket, lalu membuat picnics di taman.
Sebelum itu semua, Kieron menegaskan soal porsi sebagai langkah awal. “I make sure their plates aren’t too full or overcrowded, as too much food at once can feel overwhelming,” ujarnya.
Batasi camilan, tetapi jangan melarang total
Doone mengatakan ia berupaya mengurangi camilan agar anak tidak terlalu lapar sebelum makan malam. “I am making a conscious effort not to give many snacks because then they’re more hungry at dinner time.”
Natalia juga membiarkan anak memilih sendiri dari makanan jari yang lebih sehat. Ia menyebut ia meninggalkan healthy finger food seperti chopped peppers dan apples agar anak bisa “pick at” dengan caranya sendiri.
Kieron menambahkan sikap seimbang: jangan sepenuhnya melarang, tetapi tetap arahkan pilihan. “Don’t completely ban them, just serve snacks alongside healthier options, like berries or other fruit, replicate snack times at school and don’t stress about the odd treat.”
Ia menutup dengan pengingat penting tentang durasi libur musim panas. “Six weeks [of summer holidays] is a long time, so it’s about focusing on the overall balance of their diet rather than aiming for perfection every day.”







