jurnalistik.co.id – Newcastle United akhirnya mengonfirmasi perubahan besar di ruang pelatih setelah Eddie Howe memutuskan mundur sebagai kepala pelatih. Keputusan itu datang setelah ia menjalani hampir lima tahun memimpin “The Magpies”.
Howe (48) mengakhiri masa kerjanya menyusul musim yang tidak sesuai harapan, ketika Newcastle finis di peringkat ke-12 Premier League. Di bawah arahannya, klub sempat melaju ke Liga Champions dua kali dan meraih gelar Piala Liga pada musim 2024-25.
Dalam pernyataannya, Howe menjelaskan alasan mundur secara pribadi. Ia mengatakan: “After a period of personal reflection, I have decided that now is the right time for me to step away from my role,”
Manajemen Newcastle menyatakan proses mencari pelatih kepala pengganti saat ini berada pada tahap lanjut. Nama Matthias Jaissle dari Jerman disebut sebagai favorit untuk mengambil posisi tersebut.
Howe menambahkan bahwa keputusan ini juga mempertimbangkan waktu dan energi yang telah ia curahkan selama periode panjang bersama klub. Ia menyebut: “After nearly five years of giving my life, heart and soul into the club with unrelenting energy, I feel that it is in the best interests of both myself and the club to step away, recharge and take a break.”
Ia juga menegaskan bahwa meski langkah ini berat, ia memandangnya sebagai pilihan yang tepat. “Although it’s been incredibly difficult to make this decision, I know in my heart that it’s the right one.”
Howe kemudian menutup refleksinya dengan pengakuan bahwa perannya adalah kesempatan yang sangat berarti. “It has been the privilege of my lifetime to have been the manager of Newcastle United .”
Selain Eddie Howe, sejumlah anggota stafnya juga dipastikan akan meninggalkan St James’ Park. Mereka adalah Jason Tindall, Graeme Jones, Stephen Purches, dan Simon Weatherstone, bersama Dan Hodges yang menjabat sebagai kepala performa.
Howe mulai menangani Newcastle pada November 2021. Pada musim pertamanya, ia membawa tim finis di posisi ke-11, sebelum klub kemudian kembali menembus Liga Champions pada periode 2022-23. Keberhasilan serupa juga terulang pada 2024-25.
Di masa kepelatihan Howe, Newcastle turut menorehkan capaian domestik penting. Klub meraih trofi utama besar pertamanya dalam 70 tahun, sebuah pencapaian yang menjadi penanda era baru di Stadion St James’ Park.
Berita Terkait
Musim berikutnya juga memperlihatkan kemajuan ketika Newcastle mencapai fase gugur Liga Champions untuk pertama kalinya. Tim akhirnya kalah dari Barcelona pada babak 16 besar, sementara di Premier League mereka menelan 17 kekalahan dari 38 pertandingan dan gagal mengamankan sepak bola Eropa untuk musim selanjutnya.
Tentang perjalanan tersebut, Howe menilai semua momen yang dilewati akan tetap ia simpan dalam ingatan. Ia berkata: “There have been so many incredible moments in our time here,” lalu menambahkan, “From fighting relegation in our first season to the numerous unforgettable nights at St James’ Park in the Champions League soon after. The progression was fast.”
Ia juga menekankan kekompakan yang terbentuk selama periode itu. “Everyone came together, united and what a force we became. These are all memories that I will cherish for the rest of my life.”
Adapun laga terakhir Howe sebagai pelatih terjadi pada pertandingan pramusim. Newcastle menelan kekalahan 4-1 dari Bristol City di Ashton Gate, dalam laga yang digelar pada Rabu.
Perubahan ini juga datang di tengah perombakan skuad. Newcastle kehilangan dua gelandang kunci pada musim panas ini: Sandro Tonali pindah ke Tottenham, sedangkan Anthony Gordon berlabuh ke Barcelona.
Di saat yang sama, perhatian beralih pada kapten Bruno Guimaraes. Arsenal dikabarkan mengejar pemain tersebut, dan Guimaraes telah menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan juara Premier League.
Howe sebelumnya juga sempat menghadapi kekecewaan terkait bursa transfer. Newcastle menghabiskan sekitar ÂŁ240m untuk pemain baru pada musim panas lalu, tetapi Howe frustrasi ketika saga transfer Alexander Isak berlarut hingga berujung pada kepindahan striker Swedia itu ke Liverpool dengan nilai rekor Inggris sebesar ÂŁ125m.
Menjelang perubahan kepelatihan, Howe memilih menutup dengan nada optimistis. Ia mengatakan: “I remain incredibly positive and enthusiastic about the future of Newcastle ,” dan melanjutkan, “The club is in fantastic hands with a great leadership team and I have no doubt together, alongside whoever comes in to replace me, they will continue to deliver success on the pitch.”
Sejalan dengan itu, David Hopkinson selaku CEO Newcastle turut menyampaikan apresiasi kepada Howe dan stafnya. Ia menyatakan: “Eddie and his staff leave with the deep gratitude and respect of everyone at Newcastle United , and with a lasting place in the club’s history.”
Hopkinson juga menegaskan rasa terima kasih meskipun pihak klub tetap merasa kehilangan. “While we are naturally disappointed to see Eddie leave, we remain immensely thankful for everything he has done for the club.”












