Nasional

Eks KSAL Ade Supandi Sebut Kapal Induk Hibah Italia Giuseppe Garibaldi Ideal “Tongkrongi” Natuna

×

Eks KSAL Ade Supandi Sebut Kapal Induk Hibah Italia Giuseppe Garibaldi Ideal “Tongkrongi” Natuna

Sebarkan artikel ini
Eks KSAL Sebut Kapal Induk Hibah Italia Idealnya "Tongkrongi" Natuna News 22 Juni 2026
Ilustrasi: Eks KSAL Sebut Kapal Induk Hibah Italia Idealnya "Tongkrongi" Natuna

jurnalistik.co.id – Mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI (Purn) Ade Supandi menilai kapal induk Giuseppe Garibaldi yang akan dihibahkan Italia akan menjadi penempatan yang sangat ideal apabila ditempatkan di perairan Natuna.

Menurut Ade, keputusan mengenai keberadaan kapal tersebut terkait dengan rencana penugasan atau “deployment” yang pada praktiknya menentukan lokasi pengoperasian ke depan. Ia menyinggung kemungkinan kapal itu diarahkan ke Natuna.

“Berikutnya adalah deployment, dioperasikan ke mana? Apakah ke Natuna? Saya kira mungkin, ke Natuna oke gitu kan,” kata Ade kepada Kompas.com pada Senin (22/6/2026).

Dalam penilaiannya, langkah itu dipandang strategis karena memberi penegasan kehadiran fisik dan kedaulatan negara di wilayah perbatasan maritim. Ia menekankan bahwa keberadaan negara di laut dapat dibuktikan melalui eksistensi armada secara nyata.

“Kapal perang itu ada doktrin di kita, bahwa keberadaan suatu negara itu eksis di suatu wilayah manakala kapal perang ada di situ,” ujar Ade.

Ia juga membedakan konteks pengamanan di darat yang cenderung memiliki pos-pos statis, dengan kondisi di laut yang memerlukan bukti kehadiran melalui keberadaan kapal. Baginya, kapal induk yang berada di lokasi yang dituju berarti ada sinyal yang kuat tentang keberlanjutan kendali dan pengaruh negara.

“Jadi, selalu kapal perang eksis atau berada di situ berarti keberadaan kedaulatan negara positif gitu kan di situ, artinya apa? kapal induk itu sudah tongkrongin saja di Natuna,” tuturnya.

Meski begitu, Ade mengingatkan agar penempatan kapal induk tersebut tidak ikut memberatkan anggaran TNI AL, khususnya dalam pembiayaan perawatan maupun operasional. Ia berharap aspek keberlanjutan pembiayaan tetap menjadi pertimbangan agar pengoperasian berjalan sesuai kebutuhan.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia menerima kapal induk hibah dari Pemerintah Italia, Giuseppe Garibaldi. Kapal tersebut memiliki panjang 180,2 meter dan mampu melaju hingga 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam.

Kapal induk Giuseppe Garibaldi juga disebut dilengkapi sistem persenjataan dan pertahanan, termasuk peluncur oktupel Mk.29 untuk rudal antipesawat Sea Sparrow/Selenia Aspide, meriam kembar Oto Melara 40L70 DARDO, tabung torpedo rangkap tiga 324 mm, serta rudal antikapal Otomat Mk 2 SSM.

Dengan mempertimbangkan ukuran, kemampuan jelajah, serta dukungan persenjataan tersebut, Ade menilai penugasan kapal induk hibah itu dapat memberi dampak strategis bila diarahkan ke Natuna, sekaligus menjadi bentuk kehadiran yang terlihat di perbatasan maritim.

Menurut Ade, proses penugasan atau deployment bukan sekadar penempatan sementara, melainkan menentukan arah pengoperasian ke depan. Karena itu, ketika kapal induk tersebut ditargetkan berada di wilayah tertentu, pesan yang ditangkap juga ikut berubah—termasuk bila pengarahannya mengarah ke Natuna.

Ia melihat logikanya terletak pada pembuktian kehadiran. Di laut, keberadaan unsur pertahanan tidak cukup hanya berupa rencana atau pengumuman, melainkan perlu tampak melalui adanya kapal perang yang benar-benar berada di lokasi. Dengan demikian, sinyal kendali dan pengaruh negara dapat terus terbaca secara faktual.

Dari sisi teknis, Ade menilai kapal hibah Giuseppe Garibaldi punya faktor pendukung yang dapat membuat penugasannya terasa lebih “nyata”. Kapal dengan panjang 180,2 meter itu mampu mencapai kecepatan hingga 30 knot (sekitar 56 kilometer per jam), serta memiliki beragam sistem persenjataan, termasuk peluncur oktupel Mk.29 untuk rudal antipesawat, meriam kembar Oto Melara 40L70 DARDO, torpedo 324 mm, dan rudal antikapal Otomat Mk 2.

Meski potensi strategisnya ditekankan, Ade tetap mengingatkan agar keputusan penempatan tidak mengabaikan aspek pembiayaan TNI AL. Ia berharap perawatan dan kebutuhan operasional dapat dipertimbangkan secara berkelanjutan, sehingga pengoperasian tetap sesuai dengan kebutuhan sekaligus sejalan dengan kemampuan anggaran.