jurnalistik.co.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membuka suara terkait rencana konversi penggunaan elpiji ke Compressed Natural Gas (CNG). Ia menegaskan, kebijakan itu masih berada pada tahap proses.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil saat ditemui usai menghadiri penutupan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di Pondok Pesantren An-Nawawi, Berjan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Jumat (19/6/2026) malam. Saat ditanya mengenai rencana pemanfaatan CNG sebagai pengganti elpiji, ia menyebut langkah itu merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Menurut Bahlil, konversi elpiji ke CNG berkaitan dengan strategi bauran energi. Langkah ini, katanya, juga diarahkan untuk menekan impor elpiji.
“Itu adalah bagian daripada bauran energi yang terus kita lakukan dalam rangka mengurangi impor elpiji,” kata Bahlil.
Ia menyampaikan pernyataan tersebut di tengah berkembangnya spekulasi mengenai kemungkinan pemerintah mengurangi ketergantungan pada elpiji impor dengan memanfaatkan gas bumi yang dinilai lebih melimpah di dalam negeri. Dalam responsnya, Bahlil menyatakan program itu belum memasuki fase penerapan luas.
“Masih dalam proses ya,” ujarnya singkat.
Tahap pengkajian dan penyempurnaan
Bahlil, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar, belum merinci kapan program konversi akan diterapkan secara lebih luas. Ia juga belum menyebut sektor mana yang akan menjadi prioritas dalam pelaksanaannya.
Yang ia tekankan, seluruh kebijakan masih dalam tahap pengkajian dan penyempurnaan. Dengan demikian, rencana konversi belum disampaikan sebagai jadwal yang sudah siap dijalankan pada waktu tertentu.
Rencana konversi elpiji ke CNG sendiri sebelumnya beberapa kali menjadi pembahasan pemerintah dalam upaya meningkatkan pemanfaatan gas bumi domestik. CNG dinilai memiliki potensi sebagai alternatif energi yang lebih efisien sekaligus mampu menekan ketergantungan terhadap produk energi impor.
Di kesempatan yang sama, Bahlil menegaskan pemerintah terus melakukan berbagai langkah untuk menjaga ketersediaan energi nasional. Ia menyebut upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen negara agar kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi.
Ia juga mengaitkan langkah tersebut dengan dinamika global yang memengaruhi sektor energi. Dalam kerangka bauran energi, Bahlil mengatakan diversifikasi sumber energi ditujukan untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mengurangi beban negara akibat tingginya impor elpiji.
Bahlil menyatakan, tingginya impor elpiji selama ini masih menjadi kebutuhan utama masyarakat. Karena itu, diversifikasi sumber energi dipandang penting untuk menekan tekanan pada kebutuhan energi yang bergantung pada pasokan luar negeri.
Dengan penjelasan tersebut, Bahlil tidak memberi detail implementasi, tetapi menempatkan rencana konversi elpiji ke CNG sebagai bagian dari proses berkelanjutan dalam bauran energi nasional. Ia juga menegaskan bahwa fokus kebijakan masih pada pengkajian dan penyempurnaan sebelum ditetapkan lebih jauh.
Di tengah penjelasannya, Bahlil menempatkan rencana konversi tersebut sebagai langkah lanjutan dalam perencanaan energi, bukan keputusan yang langsung dijalankan. Ia menggambarkan bahwa pemerintah masih menimbang kesiapan berbagai aspek sebelum masuk ke penerapan yang lebih luas.
Ia juga mengaitkan dorongan pemanfaatan CNG dengan kebutuhan menjaga kesinambungan pasokan energi bagi masyarakat. Dengan memperluas bauran energi dan memaksimalkan potensi gas bumi dalam negeri, upaya itu diarahkan agar tekanan terhadap ketergantungan dari luar bisa ditekan dari waktu ke waktu.
Terkait implementasi, Bahlil tidak menyebutkan rincian jadwal maupun prioritas sektor yang lebih dahulu disentuh. Ia menegaskan fokusnya masih pada proses pengkajian dan penyempurnaan, sehingga detail pelaksanaan belum dipaparkan sebagai agenda yang sudah final.
Dalam konteks yang lebih luas, rencana ini diposisikan sebagai respons terhadap dinamika global yang kerap memengaruhi sektor energi. Bagi pemerintah, diversifikasi yang lebih kuat diharapkan dapat membantu memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi beban yang muncul ketika kebutuhan elpiji masih sangat bergantung pada impor.












