Entertainment

Andrew Scott Terseret Tekanan sebagai “unsung hero” dalam Thriller Perang Dunia II

×

Andrew Scott Terseret Tekanan sebagai “unsung hero” dalam Thriller Perang Dunia II

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Andrew Scott feels the Pressure as 'unsung hero' in WW2 thriller

jurnalistik.co.id – Andrew Scott mengaku sangat menikmati perannya sebagai Group Captain James Stagg dalam film Pressure, kisah thriller Perang Dunia II yang menyoroti sosok meteorolog yang berperan di balik keberhasilan D-Day. Menurutnya, Stagg adalah figur yang menarik sekaligus “unsung hero” yang selama ini kurang mendapat sorotan.

Scott mengatakan ia menyukai cara Stagg memandang alam dan tugasnya. “He may not have been the most charming person, but I think he had a huge amount of humility in the face of nature. And that’s one of the themes I think of the film,” Scott tells the BBC. “He appeared to me to be an extraordinarily interesting cinematic character, as well as an unsung hero from history.”

Dalam sejarah yang menjadi rujukan film, Stagg menempati peran nasihat penting saat Jenderal AS Dwight D Eisenhower mendarat di Normandia, sehingga fondasi kemenangan Sekutu pada Perang Dunia II dapat berjalan. Scott menggambarkan Stagg bukan tipe figur perang tradisional yang lazim digemari penonton, dan justru aspek itu membuatnya tertantang.

Scott menyebut Stagg “very chilly”, namun tetap punya sikap yang tegas dan lugas. Ia juga menilai Stagg “forthright, direct, obsessed with weather – and not afraid to speak truth to power”. Gambaran tersebut, menurut Scott, membentuk warna karakter yang khas di ruang perencanaan.

Di balik sosok yang “tidak karismatik”

Meski tidak bertumpu pada gestur heroik, Scott mengatakan ada daya tarik tersendiri dari cara Stagg menjalankan pekerjaannya. “I really enjoyed the way that Stagg was not interested in ingratiating himself with anybody,” ungkapnya, lalu menyebut Stagg “a real fish out of water in this situation”.

Peran ini, jelas Scott, terasa berbeda dari banyak pekerjaan aktingnya yang lain. Ia pernah tampil dalam film fantasi romantis All of Us Strangers yang membuatnya masuk nominasi Golden Globe, berperan sebagai “hot priest” di Fleabag, dan memerankan Jim Moriarty dalam Sherlock hingga meraih Bafta. Di panggung, ia juga dikenal lewat peran dalam Vanya dan Present Laughter.

Dalam Pressure, Stagg digambarkan dilempar ke situasi penuh tekanan dan dinamika ego yang tinggi. Scott menyatakan karakter itu harus bekerja bersama tim meteorolog yang secara terbuka dan saling tidak sepakat. Ia menambahkan, Stagg “wasn’t a particularly garrulous character”, sehingga wajar jika ia terasa seperti “unlikely hero”.

Scott menekankan bahwa “hero” tidak selalu datang dengan momen heroik yang mudah dikenali. “So many of the heroes in our own lives don’t have that big swashbuckling moment,” katanya. “And you know, a hero comes in all different shapes and sizes.”

Ia juga berharap penonton dapat memahami motivasi terdalam Stagg dari cara karakter itu bergerak sejak awal hingga akhir cerita. “I tried not to be afraid of the fact that perhaps, at the beginning, the audience might be like, ‘Who is this guy?’ And hopefully by the end we understand his motivations and his inner workings.”

Scott berbicara kepada BBC saat berada di atas HMS Belfast, kapal yang memimpin pemboman pembuka pada pendaratan D-Day. Pada 6 Juni 1944, puluhan ribu pasukan dari Inggris, AS, Kanada, dan Prancis menyerang pasukan Jerman di pesisir utara Prancis, dan konteks itu menjadi latar penting diskusi film.

Menurut film, Eisenhower membutuhkan kombinasi kondisi cuaca yang sangat spesifik: full moon, low tide, not much cloud or wind, serta low seas. Scott menilai tingkat taruhannya begitu ekstrem hingga semua pihak “terkunci” di lokasi yang sama.

Ia menjelaskan, “The stakes were so enormously high… they were all locked down, and they couldn’t leave the place. Stagg’s wife was very heavily pregnant at the time, so it was a very, very difficult time for him,” Scott explains. “It’s completely unimaginable, the pressure that they would have been under, not just Stagg, but everybody in the building.”

Nama film juga berhubungan dengan ketegangan tersebut, karena cerita Pressure didasarkan pada pementasan panggung yang sukses pada 2014, karya aktor dan penulis David Haig.

Kepemimpinan, keahlian, dan perbedaan kekuasaan

Film ini, menurut Scott, tidak hanya membahas cuaca, melainkan juga cara kepemimpinan memanfaatkan pengetahuan. Scott menyebutnya berpusat pada “the humility of leadership, and about the difference between power and expertise”.

Ia mengilustrasikan gagasan itu lewat cara kerja para “ahli” yang bersedia mengakui batas pengetahuan dan memilih untuk mendelegasikan. “Real experts have the humility to go, ‘I don’t know about that, but I am in a position of power, so I’m going to delegate this, and I’m gonna listen to what this person has to say’,” he says.

Scott juga menyoroti bagaimana co-writer dan sutradara Anthony Maras melibatkan para ahli cuaca untuk film. Di antaranya ada Martin Young, mantan deputy chief dari Met Office Inggris, yang menghabiskan 40 tahun mempelajari cuaca dan lebih dari 10 tahun sebagai chief forecaster. Karier panjangnya membuat Young memahami proses, data, dan peralatan yang kemungkinan digunakan Stagg.

Pressure hampir sepenuhnya berlangsung di ruang-ruang persiapan menjelang D-Day, dengan mereka bekerja siang malam dalam ruang yang sangat padat. Scott mengatakan ia menikmati nuansa film yang tetap tajam meski sarat tekanan. “There’s a huge amount of wit in the film that I really enjoyed,” katanya, sembari menambahkan: “I love films that are about work.”

Ia juga memandang relasi di dalam cerita tetap bermakna karena berada di ranah pekerjaan, bukan semata hubungan personal. “These relationships are no less significant because they’re work relationships, they’re collegiate.”

Di bagian akhir tiga hari yang luar biasa itu, Scott menyoroti momen berjabat tangan sebagai tanda ikatan yang terbentuk. “And at the end of these extraordinary three days they shake hands with each other – he’s not a hugger, that probably wasn’t part of the culture then. But they nevertheless went through something absolutely enormous together, and they had enormous feelings towards each other – whether that was rage, admiration, intimidation or connection.”

Scott turut menyebut bahwa Stagg bukan hanya figur historis, tetapi juga bagian dari identitas asalnya—Stagg berasal dari Dalkeith, dekat Edinburgh. Ia juga menyampaikan bahwa Stagg mendapat pengakuan lewat cara cerita menempatkan kembali peran-peran yang semula tampak berada di bayang-bayang sejarah.

Jejak “unsung hero” lainnya dari Irlandia

Scott mengatakan ia senang film ini memberi penghormatan bukan hanya kepada Stagg, melainkan juga kepada Maureen Sweeney. Ia tinggal di Irlandia dan menjadi orang pertama yang mengonfirmasi adanya perubahan cuaca dari mercusuar mereka, di County Mayo. “It’s another story in itself actually,” Scott adds.

Ia menambahkan keterikatan personal keluarganya dengan wilayah tersebut. “A big part of my family are from around those parts. So that was wonderful,” the Irish actor adds.

Dalam mempersiapkan akting, Scott juga memanfaatkan pengalaman sebelumnya saat bekerja pada film tentang D-Day. Ia pernah berada di sekuens pembuka Saving Private Ryan, film pemenang Oscar garapan Steven Spielberg yang menggambarkan kekerasan dan ketakutan ketika pasukan mendarat di Normandia.

Scott berkata, “I’ve been very lucky. As a young actor, I was in the opening sequence of Saving Private Ryan. I was there for that as a 19-year-old on the beach.” Ia menekankan bahwa ia tidak mengalami kengerian itu sebagai realitas, namun punya gambaran visual yang kuat karena pengambilan gambar yang panjang. “So, of course, I have no sense of what the horrorism would have been like as a reality, but I certainly had an idea of how it would have looked visually because he stretched the camera for as long as the eye could see.”

Scott menutup pembicaraan dengan menjelaskan daya tariknya pada film ini—terutama pada Stagg—sebagai kisah tentang dorongan dan ketekunan pada satu hasrat yang dijalani sampai tuntas. “I think there’s something just very moving about a singular passion someone might get. Their imagination might get captured by the weather as a young man, and if you apply yourself to something and you become excellent at something, it serves a place in the world and serves a place in humanity. He quietly went back to his life and it’s wonderful that we can pay tribute to him in this way all these years later. He’s a movie hero.”

Pressure dijadwalkan tayang di bioskop Inggris dan Irlandia mulai 9 September.