Entertainment

Choosin’ Texas Ella Langley Jadi Nomor Satu Terlama di Billboard AS: 23 Pekan

×

Choosin’ Texas Ella Langley Jadi Nomor Satu Terlama di Billboard AS: 23 Pekan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ella Langley's Choosin' Texas becomes longest-running number one in US chart history

jurnalistik.co.id – “Choosin’ Texas” milik Ella Langley terus menunjukkan daya tahan yang luar biasa di tangga lagu Amerika Serikat. Lagu country itu telah melampaui rekor sebelumnya dan kini memegang posisi No. 1 terlama dalam sejarah chart AS.

Menurut laporan, “Choosin’ Texas” mulai menempati puncak Billboard AS untuk pertama kalinya pada Februari. Sejak saat itu, lagu tersebut bertahan selama 23 pekan di peringkat teratas, melewati “All I Want for Christmas Is You” milik Mariah Carey yang selama ini dikenal punya performa sangat panjang.

Di sisi lain, lagu ini juga menempati posisi puncak di tangga lagu singel Inggris pada awal September. Saat itu, “Choosin’ Texas” mengambil alih dari “Rein Me In” yang dibawakan Sam Fender dan Olivia Dean.

Uniknya, “Rein Me In” sendiri sempat bertahan selama 23 pekan di No. 1 di Inggris. Fakta bahwa dua lagu berbeda sama-sama mencatat 23 pekan di puncak membuat sejumlah pihak kembali menyoroti dinamika tangga lagu modern.

Lonjakan dan keteguhan performa di chart kemudian memunculkan pertanyaan tentang kemungkinan stagnasi. Sejumlah pengamat menilai layanan streaming mungkin belum cukup mendorong munculnya musik baru, sehingga lagu yang sudah akrab di pendengar cenderung terus berputar.

Lagu “Choosin’ Texas” bercerita tentang kecurigaan Langley bahwa kekasihnya bersiap pergi bersama perempuan lain. Rilisnya disebutkan berlangsung pada Oktober tahun lalu, sementara cerita emosional di dalam lirik dibangun dari gagasan yang matang sebelum akhirnya sampai ke publik.

Proses penulisan lagu ini dimulai di sebuah writing retreat pada 2024. Langley menerima bantuan dari Miranda Lambert, dan awalnya sesi tersebut justru dimulai dari diskusi tentang hewan peliharaan yang pernah dimiliki Lambert, yaitu kanguru.

Langley menjelaskan, “She told me the story about how she got pulled over [by the police] with a kangaroo in the passenger seat and a dog in the back.” Dalam cerita itu, petugas merasa begitu terkejut sampai tidak mengeluarkan tilang.

Langley melanjutkan bahwa Lambert menanggapi situasi tersebut dengan mengatakan, “She told me the story about how she got pulled over [by the police] with a kangaroo in the passenger seat and a dog in the back,” sebelum menyebutkan bahwa kekacauan di mobil membuat petugas paham bahwa Langley berasal dari Texas. Dari rangkaian cerita itu lahir lirik, “She’s from Texas, I can tell.”

Setelah percakapan awal tersebut, para penulis mengembangkan ide cerita dalam rentang sekitar 30 menit. Selain Langley, tim yang disebutkan juga terdiri dari Luke Dick dan Joybeth Taylor.

Hasilnya, mereka membangun narasi tentang seorang perempuan di Tennessee yang menyadari bahwa hati pasangan kekasihnya sebenarnya masih “milik Texas”—dan juga milik gadis lain. Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi cerita yang utuh dan siap dibawa ke panggung.

Lagu ini sempat dipratampilkan di panggung pada Februari 2025. Langley mengatakan bahwa ia langsung merasakan lagu ini berpotensi menjadi singel pertama dari album studio keduanya, “Dandelion”.

Dalam wawancara dengan Billboard, ia mengungkapkan kekagumannya pada perkembangan lagu itu. Ia menyatakan, “We loved that song, but I don’t think I could ever have imagined what’s happening with it right now,” serta menambahkan, “Every day I wake up and it’s doing something that I didn’t even know was a goal I could have had. It’s crazy, it’s nuts.”

Kinerja “Choosin’ Texas” juga berkontribusi pada kesuksesan Langley di ajang Academy of Country Music Awards pada Mei. Penyanyi berusia 27 tahun yang berasal dari Alabama itu menyapu bersih tujuh kategori yang ia masuki.

Langley meraih penghargaan untuk female artist of the year, artist songwriter of the year, serta penghargaan kategori single dan song of the year untuk “Choosin’ Texas”. Capaian tersebut memperkuat posisi lagu sekaligus merangkum momentum kariernya pada periode yang sama.

Rekor-rekor terdahulu dan debat soal streaming

“Choosin’ Texas” kini masuk dalam kelompok yang hanya terdiri dari dua lagu yang mampu menembus lebih dari 20 pekan di posisi No. 1 tangga lagu Amerika Serikat. Lagu satunya adalah “All I Want for Christmas Is You” milik Mariah Carey, yang memang identik dengan tradisi kembali naik setiap pergantian musim.

Catatan panjang di chart AS tidak muncul begitu saja. Sebelumnya, selama 23 tahun rekor bertahan dipegang oleh “One Sweet Day”, kolaborasi Mariah Carey bersama Boyz II Men, yang mencatat 16 pekan di puncak. Pada 2017, “Despacito” versi remix bersama Justin Bieber menyamai rekor itu.

Lalu pada tahun berikutnya, “Old Town Road” melampaui rekor tersebut dan akhirnya bertahan selama 19 pekan di posisi teratas. Setelah itu, “All I Want for Christmas Is You” mampu menyalip rekor sebelumnya karena kebiasaannya kembali masuk chart setiap Desember.

Namun, di tengah deretan rekor yang terus diperbarui, kritik muncul dari sisi sistem distribusi musik. Sejumlah pihak menyebut bahwa layanan streaming makin mendorong pendengar untuk memutar playlist lagu-lagu yang sudah familiar berulang kali. Kondisi itu dianggap membentuk hambatan yang membuat musik baru lebih sulit menembus puncak.

Di 2022, laporan dari UK Competition and Markets Authority menyatakan bahwa lebih dari 60% dari seluruh streaming berasal dari musik yang direkam oleh hanya 0,4% teratas artis. Temuan itu kemudian sering dijadikan dasar untuk menilai ketimpangan perhatian dalam ekosistem streaming.

Dengan “Choosin’ Texas” kini menjadi No. 1 terlama, perdebatan tentang bagaimana tangga lagu dibentuk oleh kebiasaan mendengarkan—dan bagaimana ruang bagi karya baru bisa diperluas—semakin menguat. Di tengah itu, lagu Langley tetap melanjutkan dominasinya, menutup periode 23 pekan dengan catatan yang sulit disamai.