Entertainment

Dame Prue Leith: Saat menua, “tak ambil pusing” dan merasa lebih bebas

×

Dame Prue Leith: Saat menua, “tak ambil pusing” dan merasa lebih bebas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dame Prue Leith: 'When you're old, you don't give a toss'

jurnalistik.co.id – Dame Prue Leith datang dengan pesan yang terdengar menentang arus: menua, menurutnya, bukan sesuatu yang perlu ditakuti—melainkan momen yang bisa dirayakan dengan sikap yang lebih ringan.

Menjelang penampilan bersama sesama penulis di Cheltenham Literature Festival, perempuan berusia 86 tahun itu menegaskan bahwa masa tua memberinya ruang untuk tidak terlalu peka pada penilaian orang lain. Ia bahkan menyebut kebebasan itu sebagai bagian dari “kenikmatan” usia senja.

“When you’re old, you don’t give a toss what anyone thinks, really, so you feel very free,” ujar Leith. Ia menambahkan bahwa orang lain tidak lagi menganggap aneh rutinitas sederhana yang dulu mungkin terasa “tidak pantas”, seperti tidur siang.

“You can have a snooze in the afternoon, and nobody thinks that’s odd,” lanjutnya, sembari mengaitkan kebiasaan itu dengan perasaan yang lebih tenang saat menghadapi hari-hari yang datang.

Leith memperkenalkan gagasan tersebut dalam konteks acara bertajuk “Growing Old Disgracefully,” yang akan ia bahas bersama Gyles Brandreth dan Kathy Lette. Ketiganya dijadwalkan tampil di festival pada 15 Oktober untuk menyampaikan bahwa penuaan tidak selalu identik dengan sesuatu yang “dreaded” atau menakutkan.

“You come into your own, you don’t care what people think, you’re not going to change,” kata Dame Prue. Menurutnya, sikap itu membuat dunia “mengikuti saja” apa adanya.

“And so the world has to just put up with it,” sambung Leith, menempatkan kematangan diri sebagai kunci untuk menghadapi usia yang semakin bertambah.

Refleksi: dari masa remaja yang penuh tekanan ke usia senja yang lebih ‘unstressful’

Dalam refleksinya, Leith tidak mengromantisasi seluruh perjalanan hidup. Ia mengaku bahwa ingatan tentang masa remaja justru terasa sangat menekan.

“When I think of my teenage years, I think they were really stressful,” katanya. Ia menggambarkan masa itu sebagai periode ketika ia cenderung mencari arah, tetapi merasa tidak benar-benar percaya diri.

Ia menuturkan bahwa ia dulu “selalu membawa pulang” pilihan yang keliru, sekaligus sering terlibat pertengkaran dengan orang tuanya. Ia juga mengakui tidak yakin apa yang sebenarnya ia inginkan pada waktu itu.

“I was always bringing the wrong boys home, and I was quarrelling with my parents, and I didn’t know what I wanted to do,” jelas Leith. Dalam cerita yang lebih panjang, ia menggambarkan dirinya seolah tersesat.

Ia menyebut, “I was sort of lost and didn’t believe in myself at all… I wanted a boyfriend, couldn’t get one, you know.” Dari pengalaman itu, ia sampai pada kesimpulan bahwa usia lanjut justru terasa lebih tenang.

“Old age is unstressful,” tegasnya. Meski begitu, ia juga mengakui bahwa gambaran “tanpa beban” itu tidak selalu berlaku untuk semua orang, terutama bagi mereka yang menghadapi kesepian atau sakit. Menurutnya, masa tua bisa berbeda bagi “old and lonely and ill.”

Dengan cara pandang itulah ia mengajak audiens untuk melihat penuaan sebagai fase yang dapat dimaknai ulang, bukan semata-mata sebagai akhir dari sesuatu yang menyenangkan.

Cheltenham, rumah, dan rutinitas kreatif di Cotswolds

Leith menegaskan bahwa ia tidak asing dengan Cheltenham. Festival ini, yang berawal sejak 1949, menjadi ruang pertemuan bagi para pembaca dan penulis selama puluhan tahun.

Meski penampilannya tahun ini akan jadi bagian dari agenda 15 Oktober, Leith mengingat bahwa ia terakhir kali tampil di acara itu pada 2018. Di luar kariernya, ia tetap merasa dekat dengan tempat tersebut dan kerap berkunjung bahkan ketika tidak ada kesibukan khusus.

“I love Cheltenham; I often go even if I’m not doing anything, but it’s a great festival,” ucapnya. Baginya, festival itu bukan sekadar agenda, melainkan pengalaman budaya yang membuat ia ingin datang lagi.

Ia juga menyatakan, “I’m very happy here,” yang kemudian ia turunkan menjadi cerita tentang kehidupan hariannya di Cotswolds. Pada sisi layar, ia menampilkan kedekatannya dengan lingkungan sekitar melalui acara “Prue Leith’s Cotswolds Kitchen.”

Leith menyebut acara tersebut sebagai wadah untuk mengekspresikan dirinya. Ia menggambarkan bagaimana ia bisa berperan sebagai figur yang “bossy” dalam suasana yang tetap terasa hangat dan akrab.

“I’ve persuaded my husband to come into it, and he’s very funny,” katanya, menekankan bahwa dinamika rumah tangga ikut memberi warna pada program. Ia menggambarkannya sebagai sesuatu yang “quite domestic,” berangkat dari kehidupan sehari-hari.

Ia menambahkan bahwa produksi acaranya difilmkan di rumah mereka sendiri. Baginya, hal itu membuat pengalaman menonton dan bekerja terasa lebih nyata.

“It’s filmed in our house, so that’s even better. It’s a great house, and I’m very happy here; I’m in the middle of the Cotswolds,” tuturnya. Ia juga menceritakan pemandangan yang bisa ia lihat dari jendela saat berbicara.

“We built this house four or five years ago, and it’s got a great garden… I’m looking out the window as I speak and it’s just rolling Cotswolds, fields, can’t see a single building,” ujar Leith.

Jadwal acara: 15 Oktober

Melalui “Growing Old Disgracefully,” Dame Prue Leith dijadwalkan hadir pada The Times and Sunday Times Forum pada 15 Oktober pukul 13:00. Ia akan membahas gagasan tentang penuaan yang tidak selalu harus dibayangkan sebagai masa yang suram.

Pesan yang ia bawa tampak konsisten: semakin bertambah usia, semakin ia merasa tidak perlu mengubah diri demi menyenangkan orang lain—dan semakin ia bisa menjalani hari dengan cara yang terasa wajar, bahkan jika itu berarti menikmati tidur siang tanpa rasa bersalah.

Dengan pendekatan yang menggabungkan kelucuan, refleksi pribadi, dan pengakuan atas kenyataan yang tidak selalu mudah, Leith mendorong audiens untuk memandang penuaan sebagai proses yang bisa tetap menyenangkan—setidaknya bagi mereka yang mampu menemukan ketenangan dalam diri.