jurnalistik.co.id – Mulai November, Xbox akan memberlakukan batas waktu bulanan untuk cloud gaming pada anggota Game Pass yang bermain lewat layanan streaming game. Kebijakan ini membatasi durasi bermain hingga total 15 jam per bulan untuk paket paling atas.
Perubahan tersebut berlaku untuk pengguna yang melakukan streaming dan bermain game secara online melalui layanan cloud gaming Xbox. Setelah kuota habis, pengguna harus membeli tambahan waktu cloud playtime melalui Xbox Store.
Xbox menyebut pembatasan ini dipicu oleh meningkatnya biaya cloud gaming. Perusahaan mengatakan langkah tersebut akan membantu mereka “continue to invest” pada layanan agar tetap fokus pada “reliability and performance”.
Untuk paket Ultimate, Xbox menetapkan batas maksimal 15 jam streaming per bulan. Sementara itu, langganan dengan tier Premium mendapatkan kuota 10 jam per bulan, dan pengguna pada tier Essential dibatasi hingga lima jam sebelum harus membayar waktu tambahan.
Cloud gaming sendiri memungkinkan pemain memainkan game lewat server jarak jauh tanpa harus mengunduh dan menjalankannya di PC atau konsol di rumah. Aktivitas ini dilakukan lewat streaming menggunakan perangkat seperti ponsel, tablet, atau controller.
Xbox juga menyampaikan bahwa penggunaan layanan cloud gaming di kalangan pelanggan Game Pass relatif kecil. Perusahaan mengklaim hanya 4% dari pengguna Game Pass yang memakai cloud gaming, yang membuat perubahan kuota diperkirakan berdampak pada sekitar 1,2 juta orang.
Angka perkiraan itu merujuk pada laporan Wall Street Journal yang menyebut Game Pass memiliki 30 juta pelanggan. Dengan basis tersebut, Xbox memperkirakan jumlah pengguna yang terdampak akibat perubahan cloud gaming berada di kisaran tersebut.
Di media sosial, pembatasan kuota mendapat sorotan dari sejumlah komentar. Salah satunya berbunyi, “This is a pretty awful change, hopefully Xbox adds an extra zero on the end cause 15hrs is abysmal. 30 minutes a day, really?”
Jez Corden dari Windows Central juga menyampaikan pandangannya kepada BBC. Ia mengatakan pengumuman tersebut menunjukkan bahwa “absolutely nothing is safe from the AI-driven component crisis,” namun ia menambahkan hal itu sekaligus menyoroti “where Microsoft’s priorities are”.
Menurut laporan tersebut, cloud gaming dan AI sama-sama memanfaatkan infrastruktur pusat data untuk memproses informasi. Karena itu, Corden menilai ada kontradiksi ketika akses layanan AI tertentu ditawarkan tanpa batas, tetapi akses cloud gaming berbayar justru dibatasi.
Xbox menambahkan bahwa mulai November, pengguna juga dapat memakai fitur cloud gaming tanpa berlangganan Game Pass. Caranya, pengguna bisa membeli “cloud playtime hours” langsung lewat Xbox Store, dan Xbox belum mengungkap tarif tambahan per jam.
“Rampocalypse” dan kebutuhan efisiensi
Berita Terkait
Berita mengenai batas cloud gaming muncul di tengah pernyataan eksekutif Xbox. Asha Sharma, CEO Xbox, dalam wawancara eksklusif baru-baru ini dengan BBC, menyebut perusahaan dan industri perlu mulai “innovate on affordability and efficiency,” di tengah “crisis” harga komputasi.
Sharma menggambarkan kondisi industri sebagai “Rampocalypse”, yaitu fase ketika biaya komponen perangkat keras yang sebelumnya relatif murah—dalam hal ini RAM—melonjak seiring ekspansi pusat data yang membutuhkan komputasi besar. Sebagian orang juga menyebutnya “Ramageddon”.
Sharma menuturkan, “Within Xbox, we haven’t been healthy. And so a lot of the reset that will take us throughout the year is really meant to help ensure that we are here for the next 25 years and we’re continuing to serve our purpose and our mission.”
Tekanan finansial dan restrukturisasi
Laporan tersebut juga merujuk pada berkas keuangan Microsoft pada bulan Juli. Di sana disebut pendapatan tahunan Xbox turun sebesar $1.7 miliar menjadi sekitar $21.8 miliar (sekitar ÂŁ16.1 miliar), atau turun 7% dibanding 2025.
Bagian dari “reset” Sharma melibatkan pemangkasan tenaga kerja. Xbox dilaporkan melepas 3.200 orang, dengan 1.600 PHK diumumkan pada Juli, sementara sisanya akan dilakukan bertahap selama tahun fiskal 2027 Microsoft.
Selain itu, studio-studio yang sebelumnya diakuisisi Xbox—termasuk Compulsion Games yang membuat South of Midnight serta Double Fine Productions yang dikenal lewat Psychonauts—kembali dibuat independen. Dalam konteks strategi ulang, Sharma menilai perubahan ini dapat membalik arah kinerja, meski ada kekhawatiran terkait strategi berlangganan dan meningkatnya biaya terkait AI.
Brad Smith, presiden Microsoft, juga mengomentari soal restrukturisasi ketika bisnis tidak berjalan baik. Ia mengatakan, “Sometimes you have to restructure a business when it’s not doing well, and that was true with our Xbox business,” seperti yang disampaikan kepada BBC.
Cloud gaming dan persaingan layanan streaming
Di bagian lain, Jeff Gattiss—kepala gaming di Amazon—pernah menyebut dalam wawancara Juli kepada BBC bahwa naiknya biaya teknologi akan membuat orang beralih pada permainan yang di-streaming secara online dibanding membeli konsol baru. Namun, sekalipun banyak perusahaan besar berinvestasi, cloud gaming belum sepenuhnya menjadi arus utama.
Google meluncurkan layanan cloud gaming Stadia pada November 2019 dan memposisikannya sebagai “Netflix for games”. Layanan tersebut kemudian dihentikan pada Januari 2023 setelah perusahaan menyatakan jumlah pengguna yang tertarik tidak sesuai harapan.
Bagi sebagian pemain, cloud gaming masih terasa kurang andal untuk pemakaian rutin karena ketergantungan pada internet berkecepatan tinggi. Dengan adanya biaya tambahan setelah kuota habis, daya tarik layanan ini bisa makin terbatas bagi sebagian pengguna.
Dalam konteks itulah, keputusan Xbox membatasi durasi cloud gaming Game Pass mulai November menjadi bagian dari penyesuaian biaya dan efisiensi, sekaligus upaya menjaga “reliability and performance” layanan streaming yang mereka sediakan.












