jurnalistik.co.id – Reece Weaver resmi melangkah dari panggung latihan dan sorak penonton sepak bola ke salah satu panggung paling ikonik di teater Broadway, saat ia mengambil peran Roxie Hart dalam musikal Chicago di Ambassador Theatre, New York.
Perubahan itu sekaligus memicu perdebatan soal strategi pemilihan pemeran. Kritik yang muncul menilai Weaver lebih diangkat karena latar profilnya, bukan semata kemampuan aktingnya.
Namun, pada malam pembukaan, respons penonton justru terlihat hangat. “The audience loved her,” ujar Sealy Sikes, yang hadir bersama ibunya, Tammy Pack, untuk menyaksikan pertunjukan perdana.
Tammy Pack menjadi salah satu penggemar berat acara Netflix “America’s Sweethearts: Dallas Cowboys Cheerleaders”. Seri itu mengikuti perjalanan para cheerleader lewat audisi dan rejimen latihan yang ketat, saat mereka bersaing memperebutkan tempat menari di salah satu skuad paling dikenal di dunia.
Sikes mengaku tidak terlalu familiar dengan Weaver sebelum tirai dibuka. Meski begitu, ia terkesan saat melihat bagaimana pemeran tersebut menguasai panggung. “She did a great job, she’s a very big, charismatic actor.”
Menurut Sikes, penampilan pada awalnya sempat terasa seperti masih mencari ritme. “It was a little bit shaky at the beginning,” katanya, tetapi ia menambahkan, jika bukan karena ia tahu itu kali pertama, ia tidak akan terlalu memperhatikan hal tersebut. “But if I wasn’t hyper aware that it was her first time, I wouldn’t have even thought anything about it.”
Sejumlah klip yang dibagikan di media sosial memperlihatkan momen saat Weaver tampil dengan senyum lebar dan mendapat tepuk tangan yang langsung bergema ketika mengambil salam pertamanya.
Meski demikian, Sikes tetap memahami kegelisahan yang muncul dari keputusan casting berbasis selebritas atau yang dikenal sebagai stunt casting. Saat kabar penunjukannya dikonfirmasi, ia mengaku merasa “nervous” pada kemampuan Weaver dalam menerjemahkan keterampilannya dari lapangan menjadi kemampuan teater.
“Her strong suit is the acting and dancing,” kata Sikes. Ia juga menyebut bahwa Weaver memang merupakan penyanyi yang bagus, tetapi dari tiga kemampuan utama, mungkin bukan yang paling menonjol dibanding bidang lainnya. “She’s a great singer but of the three talents that’s probably not her strong suit, relatively speaking. But even then, she was great.”
Di tengah kritik bahwa stunt casting dapat “mengambil” peran dari aktor-aktor teater, Sikes justru menawarkan sudut pandang yang lebih pragmatis. Ia menyatakan hal itu mungkin saja menjadi hal positif untuk pertunjukan yang sudah lama berjalan, seperti Chicago, yang tercatat sebagai pertunjukan terlama di Broadway.
“If that’s something that gets people back in the seats and re-interested in a classic that has to just continuously fill out that auditorium, then I would say that’s a good thing,” ujar Sikes.
Ketika casting Weaver diumumkan, ia sendiri menyebut kesempatan itu sebagai salah satu impian terbesarnya. “I cannot believe this dream has come to fruition,” katanya dalam unggahan TikTok, yang menurut laporan telah ditonton lebih dari enam juta kali.
Berita Terkait
Ia juga menempatkan debut Broadway ini sebagai bagian dari perjalanan profesional yang panjang, setelah dikenal sebagai bintang yang menonjol di docuseries Netflix “America’s Sweethearts: Dallas Cowboys Cheerleaders”. Kepergiannya dari skuad menjadi salah satu alur penting dalam musim ketiga acara tersebut.
Dalam perbincangan dengan Newsbeat, Mickey-Jo Boucher—sebagai kritikus teater dan kreator konten—menilai stunt casting diperlukan untuk menarik perhatian pembeli tiket, khususnya ketika sebuah pertunjukan mulai melambat di box office. Ia menegaskan kebutuhan itu “to ‘interest ticket buyers’,” terutama untuk acara yang “might be ‘slowing down at the box office’.”
Boucher juga memahami mengapa model ini tidak selalu populer. “We don’t want it to become so widespread that established theatre actors and the real talents of the theatre world are missing out on opportunities or that it’s to the detriment of the calibre of these shows,” katanya.
Menurutnya, pada akhirnya yang paling penting adalah kualitas pertunjukan. “Because at the end of the day the most important thing is that the quality of the show is the highest that it can be.”
Chicago bukan satu-satunya produksi yang pernah memilih bintang selebritas. Boucher mencatat, tahun ini rapper Megan Thee Stallion diumumkan sebagai Zidler dalam Moulin Rouge!, dan menjadi perempuan pertama yang memainkan peran klub malam tersebut.
Stallion kemudian berhenti lebih cepat dari jadwal—sekitar hampir tiga minggu lebih awal—namun penampilannya tetap mendapat ulasan yang kuat. Minat penonton dilaporkan ikut meningkat, dengan penggemar yang kabarnya datang dari berbagai wilayah di Amerika Serikat untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.
Boucher juga menyebut Six The Musical yang pada Januari lalu memesan Abigail Barlow—penyanyi peraih Grammy—serta Dylan Mulvaney untuk rangkaian pertunjukan.
Ia merangkum logikanya begini: “When a show starts to struggle a little bit more, they tend to use celebrity casting.” Ia menambahkan bahwa kehadiran selebritas dapat membantu mempertahankan pekerjaan bagi banyak pihak yang terlibat. “By being there, they’re actually keeping a lot of other people employed at the same time.”
Di Broadway, peran Roxie Hart Weaver juga sudah menarik perhatian penggemarnya untuk hadir pada debutnya. Salah satunya, Samantha Milo menunggu bertemu Weaver di area panggung setelah pertunjukan malam pembukaan.
“I do think there is some stunt casting involved, however she is a great addition regardless,” kata Samantha Milo kepada Newsbeat. Ia menegaskan Weaver “earned her spot there,” karena telah menari dan tampil sepanjang hidupnya, dan kesempatan ini menjadi tujuan besar bagi sang pemeran.
Samantha juga menyatakan manfaat casting itu bagi calon penonton baru. “Having Reece step into the role helps new fans who may never have thought to go and see Chicago, find a way to enjoy the show.”
Pementasan Chicago sendiri akan berlangsung selama enam minggu, hingga 18 Oktober. Setelah debut Weaver, pertanyaan yang muncul tinggal pada satu hal: apakah antusiasme penonton dapat bertahan, sekaligus menjawab perdebatan tentang batas antara strategi komersial dan penghargaan bagi kemampuan aktor teater.











