jurnalistik.co.id – Lauryn Hill dan Wyclef Jean menebar sinyal harapan saat berbicara tentang masa depan Fugees, menjelang konser besar untuk merayakan 30 tahun album The Score. Dalam wawancara dengan BBC News, keduanya menekankan proses yang mereka jalani sebagai sebuah pemulihan, sekaligus mengajak penonton merasakan energi yang sama.
Fugees terakhir merilis album studio pada 1996, yaitu The Score—sebuah karya yang kemudian menjadi penanda era mereka. Album itu memuat sejumlah lagu hits seperti Ready or Not, Fu-Gee-La, dan Killing Me Softly.
Hill dan Jean kembali tampil di panggung dalam beberapa kesempatan beberapa tahun terakhir, dan kini keduanya berdialog dengan BBC News menjelang rangkaian acara besar di Milton Keynes pada Jumat. Panggung perayaan itu juga menjadi latar bagi harapan penggemar terhadap kemungkinan album baru setelah hampir tiga dekade.
Jean menyampaikan bahwa mereka sedang berada di “an amazing place”. Ia bahkan sempat melantunkan bagian lagu saat wawancara untuk menandai kebahagiaannya kembali “back with my bandmate”.
Ketika ditanya tentang peluang album baru, Jean memulai dengan mengulang pertanyaan: “Will there be music in the future?” Hill kemudian menyela dengan jawaban singkat, “Absolutely.”
Jean melanjutkan dengan kalimat yang bernuansa keyakinan: “All I can tell you is, man, we’re in God’s hands,” sebelum ia kembali bernyanyi, “I’m back with my bandmate! ” Di momen itu, ia juga menggarisbawahi pentingnya energi: “So we’re in an amazing place. I think the energy is very important.”
Menurut Jean, mereka ingin terus menyalurkan perasaan itu kepada dunia. Ia menyebut niat mereka untuk “projecting that love”.
Hill kemudian menambahkan penekanan yang hampir senada, namun dengan fokus pada perjalanan internal kelompok. Ia berkata, “There was an incredible healing process that happened with us as a band and as bandmates,” lalu menegaskan bahwa mereka ingin menunjukkan hasil proses tersebut.
Harapan penggemar untuk mendengar kabar reunion penuh tentu menguat setelah pernyataan itu. Namun, dalam kesempatan yang sama, tidak ada konfirmasi langsung bahwa album baru sedang direkam, karena keduanya tidak menyatakan proses perekaman secara spesifik.
Di luar dinamika dua personel ini, ada konteks lain yang ikut memengaruhi kemungkinan formasi Fugees. Pras Michel—anggota ketiga grup—saat ini menjalani masa penahanan di Amerika Serikat setelah divonis dalam kasus federal terkait pelobi dan penipuan.
Diaspora Calling: perayaan 30 tahun The Score
Hill dan Jean berbicara menjelang Diaspora Calling!, sebuah festival satu hari yang menjadi debutnya di Inggris. Acara itu akan berlangsung di Milton Keynes National Bowl pada Jumat, bertepatan dengan peringatan 30 tahun The Score.
Festival tersebut akan menampilkan Lauryn Hill, Wyclef Jean, serta Erykah Badu. Line-up lainnya mencakup Giggs, Fireboy DML, YG Marley, dan Zion Marley, sementara komedian Dave Chappelle bertindak sebagai pembawa acara.
Dalam refleksinya soal album The Score, Jean mengatakan ambisi Fugees sejak dulu melampaui musik. Ia mengingat pernah berkata sejak usia sangat muda, “we’re not going to do music, we’re going to be a movement”.
Berita Terkait
Jean menilai tema yang mereka angkat tiga dekade lalu masih relevan hingga kini. Ia menyinggung gagasan tentang “refugees” dan membandingkannya dengan kondisi saat ini: “look where we are today.”
Menurutnya, pesan itu tidak pernah semata-mata tentang mereka. “It was never just about us – it was always about the movement.”
Hill kemudian mengaitkan gagasan “movement” tersebut dengan identitas Fugees. Ia menyebut, “Our different places of origin came together to unite culture, reflect culture and show people how beautiful, powerful and resourceful that culture is.”
Momen kejutan di London
Sehari sebelum acara utama, Hill dan Jean juga mengejutkan penggemar dengan penampilan pop-up di London, tepatnya di Piccadilly Circus. Di lokasi itu, mereka membawakan versi akapela dari Ready or Not.
Hill menjelaskan bahwa London menjadi tempat yang “natural” untuk meluncurkan festival. Ia berkata, “There’s so much of the diaspora in London,” karena “So many people are represented here.”
Ia menilai penampilan tersebut terasa seperti momen yang kembali ke titik awal: “It felt like a full-circle moment for us.”
Nasihat untuk musisi muda
Selain membahas perayaan, keduanya juga memberi arahan bagi musisi yang tumbuh di industri yang semakin dipengaruhi algoritme dan popularitas viral. Jean menyebut ada kecenderungan baru di kalangan musisi muda.
Ia mengatakan banyak anak muda tidak lagi mengejar ketenaran daring. “The kids are saying, ‘I don’t want to be on TikTok like that. I don’t want to be on Instagram. I’m not trying to go viral. I just need people to listen to my music and engage with my music.’”
Hill lalu menekankan pentingnya kesabaran. Ia berkata, “Art is not gone yet,” kemudian menambahkan, “Patience is a virtue.”
Menurut Hill, proses kreatif tidak bisa dipaksa instan. “You want it in 30 seconds, but it isn’t going to happen in 30 seconds.”
Ia juga menggarisbawahi langkah yang konsisten: “If you keep coming together with a positive plan and saying, ‘We want to be heard,’ then you’ll be heard. Find like-minded individuals.”
Di penutup, Hill menegaskan dua hal yang menurutnya wajib dijaga dalam perjalanan bermusik: “Respect your audience, respect yourself.”












