Bisnis & Ekonomi

Saat ekonomi tak pasti, doom spending membuat orang makin boros

×

Saat ekonomi tak pasti, doom spending membuat orang makin boros

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: "Doom Spending": Mengapa Orang Justru Boros Saat Ekonomi Tak Pasti?

jurnalistik.co.id – Ketika kondisi ekonomi terasa goyah, sebagian orang memang memilih mengencangkan kendali keuangan. Tetapi ada pula yang justru bereaksi dengan pola belanja yang makin impulsif.

Di tengah kecemasan tentang masa depan, keputusan belanja kadang tidak lagi berangkat dari kebutuhan. Sebut saja mulai dari membeli pakaian, gawai, kosmetik, hingga memesan liburan tanpa rencana yang matang.

Pengeluaran seperti ini sering kali muncul bukan untuk menjawab kekurangan, melainkan untuk menghadirkan rasa senang sesaat di tengah tekanan yang sedang dirasakan. Setelah emosi mereda, barulah banyak orang menyadari bahwa keputusan tersebut berpotensi menambah beban keuangan.

Istilah doom spending dan makna psikologisnya

Fenomena ini belakangan makin sering dibicarakan dengan istilah doom spending. Istilah tersebut mengaitkan perilaku belanja dengan situasi ketika orang merasa masa depan tidak pasti, terutama saat kekhawatiran terhadap inflasi, biaya hidup, hingga kondisi ekonomi global semakin kuat.

Psikolog Christopher Fisher, Direktur Adult Outpatient Psychiatry Department Northwell Zucker Hillside Hospital, menjelaskan bahwa doom spending merupakan respons emosional ketika seseorang diliputi rasa takut, cemas, atau putus asa terhadap masa depan. Ia menyampaikan penjelasan itu dalam wawancara dengan Verywell Mind, dan dikutip pada Sabtu (8/8/2026).

Dalam keterangannya, Fisher mengatakan, “Doom spending adalah saat seseorang membelanjakan uang untuk mengatasi perasaan putus asa, kecemasan, atau ketakutan akan masa depan,” ujar Fisher.

Belanja, pada fase itu, berfungsi sebagai pelarian (coping mechanism). Aktivitas tersebut memberi efek penenang sesaat karena mampu mengurangi tekanan emosional yang sedang menekan pikiran.

Namun, efek yang ditawarkan biasanya tidak bertahan lama. Ketika euforia pembelian mulai mereda, muncul rasa lain: tidak jarang seseorang mengalami rasa bersalah setelah melihat saldo rekening berkurang atau tagihan kartu kredit meningkat.

Pada akhirnya, sebagian orang bisa terjebak dalam pola berulang. Tekanan dan kecemasan kembali muncul, belanja dilakukan untuk mencari rasa nyaman, lalu stres baru muncul karena kondisi keuangan justru memburuk.

Fisher menegaskan bahwa kebiasaan tersebut tidak menyelesaikan akar persoalan yang sebenarnya. Ia menyampaikan, “Berbelanja mungkin dapat mengurangi tekanan emosional untuk sementara waktu, namun tidak menyelesaikan masalah yang mendasarinya,” kata Fisher.

Kenapa orang stres bisa makin konsumtif

Menurut American Psychological Association (APA), masalah keuangan termasuk salah satu penyebab stres terbesar yang dialami masyarakat. Dalam situasi tertekan, otak cenderung mencari aktivitas yang memberi kepuasan instan.

Salah satu pemicunya adalah pelepasan hormon dopamin, yang dapat terhubung dengan aktivitas berbelanja. Dengan kata lain, belanja dipilih karena memberi sensasi cepat yang dianggap mampu memperbaiki suasana hati.

Meski begitu, kepuasan tersebut kerap berhenti pada momen awal. Setelah itu, konsekuensi finansial tetap menunggu, dan seseorang harus menghadapi tagihan serta berkurangnya dana.

Di titik ini, siklus emosional yang sama bisa kembali terjadi. Kecemasan yang belum terselesaikan mendorong orang mengulang perilaku belanja, sementara tekanan finansial terus bertambah.

Dari pandemi hingga kekhawatiran ekonomi global

Perhatian terhadap doom spending ikut meningkat setelah pandemi Covid-19. Pada periode tersebut, masyarakat di berbagai negara menghadapi inflasi yang tinggi, kenaikan suku bunga, ancaman resesi, serta ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi kondisi ekonomi.

Ketidakpastian tersebut membuat banyak orang merasakan ketegangan berkepanjangan terhadap biaya hidup. Bagi sebagian orang, ketegangan itu justru mendorong kehati-hatian dalam mengatur uang.

Tetapi pada kelompok lain, rasa cemas yang tidak menemukan jalan keluar segera dapat memunculkan dorongan untuk berbelanja sebagai cara cepat meredakan emosi. Pilihan yang semula tampak “memberi hiburan” akhirnya berisiko menjadi beban baru.

Dalam konteks itu, doom spending perlu dipahami bukan sekadar soal “gaya hidup konsumtif”, melainkan respons terhadap rasa takut, kecemasan, atau putus asa. Penjelasan Christopher Fisher menempatkan belanja sebagai upaya mengelola tekanan batin, meski dampaknya bersifat sementara.

Dengan demikian, saat ekonomi tidak pasti, penting melihat perbedaan antara kebutuhan nyata dan dorongan emosional. Belanja yang didorong emosi dapat terasa menolong di awal, tetapi tidak otomatis mengakhiri masalah yang membuat seseorang cemas.

Pada akhirnya, yang menentukan bukan hanya kondisi ekonomi yang sedang berubah, melainkan bagaimana emosi dan pikiran merespons perubahan itu. Ketika tekanan dibiarkan tanpa penyelesaian, belanja berpeluang menjadi jalan pintas yang memperpanjang siklus stres dan pemborosan.