Entertainment

Penyebab Kematian Tim Curry Terungkap: Penyakit Arteri Koroner dan Riwayat Stroke

×

Penyebab Kematian Tim Curry Terungkap: Penyakit Arteri Koroner dan Riwayat Stroke

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rocky Horror star Tim Curry's cause of death revealed

jurnalistik.co.id – Tim Curry, aktor Inggris yang dikenal luas lewat perannya di panggung dan layar, meninggal dunia di Los Angeles pada 25 Agustus lalu dalam usia 80 tahun. Kabar duka ini datang setelah pernyataan dari juru bicara yang mengonfirmasi penyebab kematiannya ke BBC.

Menurut keterangan tersebut, Curry wafat karena penyakit arteri koroner. Dalam laporan itu, juru bicara menyebut kondisi ini sebagai faktor utama, berdasarkan akta kematian yang diajukan di Los Angeles County.

Selain penyakit jantung itu, riwayat kesehatan Curry juga disebut turut berperan secara signifikan. Ia memiliki riwayat stroke serta kanker ginjal, dan kedua kondisi tersebut disebut sebagai bagian dari faktor yang berkontribusi pada kematiannya.

Dua dekade karier Curry sebelumnya membawa namanya menjadi salah satu figur yang mudah dikenali dari budaya populer. Ia menembus ketenaran sebagai Dr. Frank-N-Furter dalam film kultus The Rocky Horror Picture Show yang rilis pada 1975.

Setelah mengalami stroke yang nyaris merenggut nyawanya pada 2012, Curry menggunakan kursi roda. Kondisi tersebut kemudian mengubah arah aktivitasnya, hingga ia berfokus pada pekerjaan pengisi suara secara eksklusif.

Dalam cerita yang ia sampaikan sebelumnya, Curry mengungkap bahwa stroke yang dialaminya menghasilkan kelumpuhan, tetapi tidak menghilangkan kemampuan berbicaranya. Ia juga tetap hadir dalam berbagai konvensi film dan komunitas penggemar setelah mengalami insiden medis itu.

Ia kemudian menuliskan pengalamannya dalam memoar berjudul Vagabond yang terbit tahun lalu. Di salah satu bagiannya, Curry menyampaikan, “If there was anything impressed upon me in the aftermath, it was just how remarkable it was that I was still alive,” sebagaimana dilaporkan dalam kutipan yang dirujuk oleh BBC.

Penghormatan juga datang dari rekan-rekan sesama pemeran yang mengenang kondisi Curry pada periode sebelumnya. Luke Evans, misalnya, menyatakan bahwa “There will only be one Tim Curry,” sementara Michael McKean menggambarkan keadaan Curry sebagai “grim physical state”.

Susan Sarandon, rekan satu panggung di Rocky Horror Picture Show, menuliskan bahwa meski Curry tetap berada di kursi roda, ia “continued to be so sweet and generous with his fans.” Dalam unggahan tersebut, Sarandon juga menyebut Curry sebagai “funny, sexy, original”.

Tim Curry lahir di Warrington, Inggris, pada 1946. Setelah menyelesaikan studi, ia memperoleh pekerjaan akting pertamanya dengan tampil dalam produksi London untuk musikal Hair pada 1968.

Langkah berikutnya datang dari permintaan Richard O’Brien yang mendorong Curry untuk mengikuti audisi bagi musikal The Rocky Horror Show. Peran inilah yang membuat namanya makin melekat, termasuk ketika ia mengucapkan kalimat terkenal “don’t dream it, be it.”

Di layar, Curry juga dikenal melalui beragam karakter. Ia memerankan Pennywise versi televisi dari Stephen King’s It pada tahun 1990, menjadi King Arthur dalam pertunjukan panggung Spamalot, serta memerankan Rooster dalam film musikal Annie pada 1982.

Selain itu, Curry pernah muncul dalam Home Alone 2, The Hunt For Red October, dan Scary Movie 2. Juru bicara yang sama menyebut bahwa Curry menghembuskan napas terakhirnya di rumahnya di Los Angeles pada 25 Agustus, dengan penyakit arteri koroner, riwayat stroke, dan kanker ginjal sebagai rangkaian kondisi yang disebut berkontribusi terhadap kematiannya.

Dalam konfirmasi tersebut, pihak yang mewakili Curry menyampaikan bahwa rincian yang tercantum mengacu pada berkas akta kematian yang diajukan di Los Angeles County. Penyakit arteri koroner disebut menjadi penyebab utama, sementara riwayat stroke serta kanker ginjal ditempatkan sebagai kondisi lain yang ikut berperan terhadap proses akhir.

Setelah insiden medis yang nyaris merenggut nyawanya pada 2012, kehidupan Curry berubah dengan penggunaan kursi roda. Walau kelumpuhan sempat dialaminya, ia tetap mampu berbicara dan terus berinteraksi dengan komunitas penggemar, termasuk hadir dalam berbagai konvensi film, sebelum akhirnya lebih banyak menekuni pekerjaan pengisi suara.

Jejak karier dan ketokohannya terus dikenang oleh rekan-rekan sesama pemeran. Dari apresiasi yang menekankan keunikan dirinya, hingga penuturan yang menggambarkan kondisi fisiknya pada periode tertentu, seluruh tanggapan itu sama-sama memperlihatkan bahwa Curry tetap meninggalkan kesan mendalam. Bahkan melalui memoarnya, Vagabond, ia juga sempat menuturkan refleksi tentang betapa ia masih bisa menjalani hidup setelah masa pemulihan.