jurnalistik.co.id – Komika dan kreator konten Munya Chawawa bersiap menjalani debut akting panggung di Shakespeare, sekaligus mengungkap alasan pribadinya memilih langkah itu. Ia menyebut proses ini sebagai bagian dari keinginannya untuk mengurangi ketergantungan pada gawai dan dunia media sosial.
Menurutnya, keputusan untuk mendalami teater bukan sekadar pencapaian karier, melainkan juga bentuk perubahan kebiasaan. Ia mengatakan ingin menjauh dari aktivitas yang selama ini dibentuk oleh layar, dan mulai memberi ruang lebih besar pada pengalaman yang berlangsung langsung di dunia nyata.
Chawawa menyampaikan ia baru-baru ini tenggelam dalam cuplikan adegan illegal rave di Inggris era 1990-an. Baginya, periode tersebut identik dengan suasana hedonisme dan kebebasan, yang dikelilingi oleh kepanikan politik serta media.
Ia juga menyebut setting itu menjadi latar bagi versi modern dari A Midsummer Night’s Dream, pertunjukan Shakespeare yang menampilkan dirinya. Ia akan berperan di dalam karya tersebut sebagai bagian dari debut panggung yang ia jalani dengan serius.
Dalam keterangannya, ia mengatakan telah melakukan “super-deep dive into rave culture” dan menonton banyak rekaman rave dari “all these little free parties where they would find an empty field.” Ia menambahkan, sebagian rekaman memang ada, tetapi semuanya terjadi sebelum orang-orang memiliki ponsel dan kamera.
Chawawa, yang berusia 33 tahun, mengakui ada rasa kangen pada masa ketika hiburan terasa lebih analog. Ia mengatakan, “I absolutely miss an era where we were dancing for ourselves and not for a digital world somewhere.”
Ia kemudian menegaskan, ia juga merasakan dorongan untuk mengurangi penggunaan telepon. Chawawa melanjutkan dengan, “We’re all phone addicts,” lalu menyebut kebiasaan umum “The average person’s picking up their phone 200 times a day.”
Ia menyatakan sedang menjalankan “a bit of a conscious mission at the moment to reduce that.” Ia juga menyoroti respons yang ia lihat dari unggahan yang ia tonton, terutama komentar-komentar dari orang yang dulu ikut rave pada masa itu.
Menurutnya, “the top comments under all the videos I’ve been watching are people who were at those raves” yang berbagi pengalaman seperti, “I loved being able to dance, maybe get a little high, maybe get too sweaty for too long, and know there was no record of that.”
Ia mengaitkan nostalgia tersebut dengan fakta bahwa ia tumbuh saat media sosial dan smartphone mulai menjamur. Ia mengaku “took for granted the brief time before any and every fun occasion was recorded and posted for posterity.”
Ketika kini berada di tempat dansa, ia mengakui gerakannya berubah karena kecemasan. Ia berkata, “my two-step has become a lot stiffer” karena takut satu gerakan yang keliru bisa terdokumentasi lalu menyebar secara viral.
Walau demikian, ia mengaku bukan berarti ia sepenuhnya menolak dunia digital. Ia justru menyatakan ada rasa iri pada orang tuanya karena mereka pernah mengalami momen-momen tanpa jejak rekaman, dan ia menekankan bahwa ia “do definitely pine for those non-digital, in-person experiences.”
Ia mengakui bahwa ketenarannya berakar dari era digital. Ia menjadi dikenal lewat video komedi singkat dan karakter seperti “upper-class drill rapper Unknown P” dan “chef Jonny Oliver,” sebelum kemudian memperluas kiprah ke layar televisi dan panggung.
Dalam perjalanan setelah terkenal dari media sosial, ia menyebut ia telah membuat dokumenter TV yang mendapat nominasi Bafta, ikut membintangi Taskmaster, serta melakukan stand-up comedy. Ia juga menegaskan bahwa ia merintis video satir berdurasi pendek selama hampir “eight years now,” dan merasa itu berkembang mendekati “up to a decade.”
Chawawa menggambarkan bahwa ia memperoleh keterampilan spesifik lewat format tersebut, dan keterampilan itu membawanya ke banyak kesempatan yang sebelumnya ia bayangkan. Ia lalu mempertanyakan arah berikutnya: jika sketsa-sketsa itu berhasil dan mendorongnya ke “this new stratosphere of entertainment,” ia ingin tahu “where am I trying to land?”
Ia menyebut tujuannya mendarat pada sesuatu yang lebih besar serta tantangan baru, termasuk akting teater. Dari sana, ia mulai dengan memainkan Bottom dalam A Midsummer Night’s Dream di Chichester Festival Theatre, West Sussex, yang menurut jadwal akan dibuka di Chichester “later this month.”
Ia memaparkan bahwa versi pertunjukan beraroma 1990-an ini menghadirkan perbedaan karakter. Bottom digambarkan sebagai anggota Young Conservatives, dan ia menyebutnya sebagai “a very political Bottom,” sementara Theseus digambarkan sebagai Tory MP yang “has shut down free raves in the county.”
Soal persiapan, ia menegaskan bahwa ia menjalani latihan dengan sangat serius. Ia mengatakan, “I take it super seriously and I’m very studious when we’re in the room,” seraya menambahkan ia “I’m taking notes.”
Ia juga menyebut ia mempelajari istilah-istilah aneh dalam bahasa Shakespeare, seperti couplets dan quatrains serta anacreontics, dalam bahasa yang terdengar seperti ciptaan—tetapi tidak demikian. Ia menghubungkan proses belajar itu dengan momen yang ia anggap tepat untuk beralih, dengan kalimat, “And I think also it’s the perfect time to maybe… jump ship, I think is the right word.”
Berita Terkait
Ia menilai platform media sosial dan algoritmanya “have very much angled themselves against the creatives at the moment.” Dengan begitu, ia menyatakan ada alasan lain mengapa panggung menjadi tempat yang lebih menantang untuk dituju.
Terjebak dalam lautan konten
Ia menegaskan ia tidak sepenuhnya “jump ship” dari media sosial. Namun ia melihat pertarungan mendapatkan perhatian di internet berubah menjadi semacam “a little bit of a dogfight,” sehingga bahkan konten yang bagus, termasuk karya yang dipikirkan secara sadar, “is just instantly swiped to the bottom of people’s pages.”
Chawawa menilai dirinya cukup beruntung pernah merasakan “the golden era of social media” sebelum keadaan menjadi lebih sulit untuk menembus keributan. Ia menggambarkan masa itu memberi ruang untuk bereksperimen, mencoba karakter, dan “trial these characters and roll the dice on big ideas.”
Ia menilai saat itu orang tidak mudah tersesat dalam banjir konten. Ia menyinggung ada statistik “about there being tens of millions of videos uploaded a day now,” tetapi pada masanya ia merasa seakan internet masih terbuka untuk respons: “I’m going to try this Jamie Oliver spoof or a Nigella [Lawson] character or the UK’s first posh drill rapper, what do you think?”
Ia menilai dari pengalaman tersebut, “it felt like the whole internet would give you feedback on that creative product.” Ia juga menambahkan bahwa ia menyukai bagaimana media sosial membawanya ke karier stand-up, sebagai dokumentarian, dan kini sebagai aktor, sehingga ia tidak menyimpan “any sort of resentment to it and how it’s changed.”
Walau demikian, ia mengulang bahwa ia merasakan perubahan itu dari awal: “I was there as the sun was coming up on social media, and it was very fun.” Ia menempatkan masa awal itu sebagai fondasi yang membuatnya tumbuh bersama perubahan platform.
Dari pengalaman teater hingga klub untuk anak muda
Ia menceritakan ketertarikannya pada teater bermula saat ia menyaksikan The Lion King ketika berusia 16 tahun. Ia menggambarkan pengalaman itu seperti “the best movie you’ve ever seen, but in real life.”
Namun ketika kembali sebagai orang dewasa, ia mengaku merasa kurang nyaman. Ia mengatakan bahwa ketika menonton pertunjukan, “it didn’t feel as though they were too welcoming to me being there,” terutama karena “just through the small social cues.”
Ia kemudian mengalami momen pencerahan setelah menonton For Black Boys Who Have Considered Suicide When the Hue Gets Too Heavy karya Ryan Calais Cameron. Ia berkata bahwa ia masih menganggap karya itu “I still think is the best play I’ve ever seen.”
Dari sana, ia merasa terdorong, “I wish every black boy in the world could watch this play.” Ia lalu mengajak sekelompok remaja untuk menyaksikannya, yang ia deskripsikan sebagai pengalaman “the most fulfilling and magical and deeply moving experience”.
Terinspirasi oleh respons mereka, ia membentuk Black Boys Theatre Club. Ia menjelaskan klub itu membawa kelompok untuk menonton pertunjukan setiap bulan, dengan pilihan mulai dari Dracula hingga One Flew Over the Cuckoo’s Nest, lalu diikuti diskusi setelah pertunjukan di Nando’s.
Ia menekankan bahwa tujuan acara ini tidak semata-mata mendorong anak muda agar bermimpi menjadi “the next Billy Elliot.” Ia mengatakan, “It’s more just them realising it’s a safe space for you.”
Ia menambahkan, “It can be your home if you want it to be,” dan menyatakan bahwa mereka bisa berkembang baik sebagai pemain maupun penonton. Ia menegaskan, “but just know that theatre is a part of your multiverse.”
Dalam konteks keterwakilan penonton, ia menyinggung data Arts Council England. Ia menyebut pada 2023, “10% of theatre audiences were from black, Asian or ethnically diverse backgrounds, according to Arts Council England data.”
Chawawa memuji teater-teater yang membuka akses bagi Black Boys Theatre Club dan upaya-upaya lain untuk menarik penonton yang lebih beragam. Ia juga menilai perubahan yang lebih besar akan datang lewat harga tiket yang lebih terjangkau dan adanya “a societal shift.”
Ia menuturkan bahwa bulan depan klubnya akan “travel to see him in A Midsummer Night’s Dream,” dan ia berharap lebih banyak pikiran muda tertarik pada pengalaman teater langsung. Ia menggambarkan teater sebagai “snow globe of human emotion.”
Ia menambahkan, “Really, truly, where else can I go in real life and watch somebody express all emotions without restraint? Sadness, anger, joy, envy. And I can be metres away, sometimes centimetres away from seeing real”












