jurnalistik.co.id – Natalie Imbruglia kembali dengan album pertamanya sejak 2021, bertajuk Algorithm, dan membawa pembahasan yang sangat pribadi. Dalam rilisan ketujuhnya, ia menyinggung dampak perimenopause terhadap kesehatan mentalâtermasuk gangguan kejiwaan yang ia sebut terus berbekas.
Bicara soal proses menulis lagu, Imbruglia menegaskan ia butuh gerak yang konstan. âI walk around in circles to get the melodies, to catch them,â katanya, seraya menambahkan bahwa bila hanya duduk di kursi, idenya tidak muncul.
Album Algorithm, yang ia buat dengan inspirasi dari Talking Heads dan Grace Jones, menghadirkan permukaan yang berkilau namun menyembunyikan lirik dengan kedalaman emosi. Di lagu Who Dimmed The Lights, penyanyi berusia 51 tahun itu membahas bagaimana kondisi mentalnya âunravelledâ ketika ia melewati masa perimenopause.
Menurutnya, perimenopause bukan sekadar urusan hormon. âPerimenopause is not just about hormones. It’s to do with your mind. Your brain needs oestrogen to function, so when the levels fluctuate, it affects your spatial awareness,â ujarnya, dan ia menggambarkan kebingungannya lewat kebiasaan mendapati dirinya ânever walked into so many doorways.â
Ia menyebut kabut pikiran yang datang terasa âquite jarring.â Selain itu, Imbruglia mengatakan perimenopause memperparah ADHD yang ia didiagnosis pada usia pertengahan, disertai gejala lain seperti kecemasan dan kemarahan yang meningkat.
âYou start seeing an expression on other people of, like, ‘What’s happening to you?’â kata Imbruglia, menjelaskan bahwa hal itu berkaitan dengan kemampuan memproses informasi. âYour fuse is shorter,â tambahnya, seolah menggambarkan perubahan cepat pada respons emosionalnya.
Ketegangan itu memuncak saat ia menjalani tur, ketika rasa takut panggungnya berlipat. Ia mengatakan ia mengalami âjust terrible, terrible anxiety,â serta menjadi sensitif terhadap suara hingga percakapan normal pun terasa seperti teriakan. âI can’t process questions very well. I act twitchy and weird, and it seemed to get worse with perimenopause,â tuturnya.
Perilakunya, kata Imbruglia, menjadi ânightmareâ bagi tim. Ia memberi contoh saat ditanya pilihan minuman, âIf you asked me whether I wanted still or sparkling water, I’d say, ‘That’s a question, and I can’t answer questions right now’.â
Ia juga menceritakan momen setelah satu konser, ketika ia berbicara pada rekan penulis lagu David Sneddon dan Anu Pillai. âGuys, I think I’m going to have to quit my job because I can’t cope with how I’m treating people before the show,â ujarnya, lalu menjelaskan bahwa mereka membantunya menempatkan naluri fight-or-flight dalam konteks.
âWhat they helped me realise is that I was trying to stop the behaviour with willpower,â kata Imbruglia, menambahkan bahwa ia bisa mereda bila menerima situasi sebagai bagian dari proses tampil. Ia menggambarkan kemungkinan kalimat yang sempat muncul di kepalanya: âYou know, you’re about to perform in front of a lot of people, it’s natural that you’re nervousâ.
Dari percakapan dadakan itu, lahirlah gagasan untuk lagu baru berjudul Upside Down. Namun ia juga frustrasi karena perimenopause belum dipahami secara luas, terutama saat banyak perempuan ditolak dokter umum (GP) ketika mencari perawatan HRT.
Imbruglia menuturkan pengalamannya berbeda: âMy mum never talked to me about it,â katanya, lalu menambahkan bahwa setelah menengok ke belakang ia menyadari ibunya kemungkinan pernah mengalami perimenopause yang berat. Ia menilai kecemasannya juga âoff the charts,â dan hal itu membuatnya lebih berbelas kasih, mengingat ibunya memiliki empat anak sedangkan ia hanya punya satu.
Berita Terkait
- Munya Chawawa mengaku âjumping shipâ dari media sosial ke Shakespeare
- Spekulasi Penerus Daniel Craig: Fans 007 Ingin Jawaban soal Masa Depan James Bond
- Britania ‘taxing itself to death’ dan ‘Some Might Stray’: LiamâNoel Gallagher disebut menjalani wawancara bersama pertama dalam lebih dari 20 tahun
Di luar isu kesehatan, Algorithm juga memperlihatkan jejak perjalanan musiknya. Imbruglia sejak kecil tertarik tampil; ia bahkan pernah merapikan rambutnya dengan lemon agar tampak lebih pirang dan mengadakan konser-kosong berupa liputan nyanyian Whitney Houston untuk tetangganya.
Kesempatan datang melalui iklan untuk Coca-Cola dan Twisties, serta kebiasaan bernyanyi karol di pusat perbelanjaan saat Natal. Namun ketika menginjak usia sekitar 15 atau 16 tahun, ia merasa suasana itu terasa ânaff,â dan dari sana ia berubah menjadi sosok yang, menurut pengamatannya sendiri, âbasically unparentableâ.
Ia mengisahkan ia sempat menyelinap keluar, tidur di mobil seseorang di pantai, lalu akhirnya tertangkap. Orang tuanya sangat ketat; ibunya bahkan datang ke pesta membawa fotonya sambil menanyakan, âHave you seen this girl?â
Perjalanan musiknya berlanjut sebagai tempat berlindung. Ia pernah berpacaran dengan seorang drummer, lalu mengalihkan selera dari Whitney Houston ke Tom Waits dan Tori Amos, sementara hasrat bernyanyinya tetap bertahanâterlihat dari foto yang kemudian ditemukan kembali saat ia menonton konser INXS pada 1992.
âIt was my first ever concert,â katanya. âI was 15. I had white, tight jeans on.â Ia menggambarkan bagaimana ia tidak sekadar menjadi penonton, tapi juga belajar, menatap Michael Hutchence dengan tekad âlike, ‘How can I be up there too?’â
Tahun 1997 menjadi titik balik ketika ia berhenti dari peran sebagai asisten pembangun Beth Brennan dalam sinetron tetangga Australia Neighbours. Setelah pindah ke London, ia menandatangani kontrak dengan RCA Records dan langsung mencetak hit internasional lewat single pertamanya, Torn.
Meski lagu itu merupakan cover, Imbruglia mengatakan para jurnalis tak pernah berhenti mengingatkannya, bahkan ketika ia mengaku ikut menulis setiap lagu lain di album debutnya, Left of the Middle, dengan penjualan seumur hidup sekitar tujuh juta kopi. âYeah, I got famous on a song that I didn’t write,â ucapnya, seraya menambahkan bahwa ada lebih banyak hal yang dibawa seseorang pada sebuah lagu selain soal penulisan lirik.
Ia lalu menghubungkan gejolak itu dengan insekuritas, hingga mengarah pada semacam âself-sabotagedâ dalam kariernya. Pada album kedua, That Day, single utamanya berupa arus lirik bebas seperti monolog batin tanpa bagian chorusâsebuah perlawanan terhadap Torn, seperti yang ia sebut: âThat was my rebellion against Torn.â
Dalam perjalanan yang sama, Imbruglia pernah mengaudisi peran Satine di Moulin Rouge karya Baz Luhrmann. Ia mengingat audisi itu hampir seperti âHave an orgasm,â meski ia menekankan bahwa ia tidak menganggapnya sebagai situasi casting couch yang menyeramkan. Ia berkata tentang sutradara itu, âIt’s Baz, that doesn’t really fit,â lalu menceritakan perasaannya setelah pulang: âI remember leaving and feeling really icky. Like, ‘Ohhh, that was awful. Where’s my mummy?’â
Kembali ke dunia musik, ia merilis karya yang lebih komersial lewat Wrong Impression (2002) dan Shiver (2005). Setelah penjualan menurun dan album keempatnya ditahan label, ia sempat bergabung dengan versi Australia dari The X Factor serta tampil dalam produksi Inggris dari drama Alan Ayckbourn, Things We Do for Love, sebelum membuat kembali musik dengan album cover Male (2015) dan album yang lebih personal, Firebird (2021).
âIt was quitting music and coming back to it that gave me an appreciation of my abilities,â kata Imbruglia. Ia menegaskan ia mungkin bukan penulis lagu terbaik, namun ia percaya pada keunikan dirinya saat merasakan emosi dari apa yang ia tulis dan menyampaikannya kepada penggemarâdan ia merasa itu cukup.
Di Algorithm, ia juga berbicara terang-terangan soal kesehatan mental serta topik lain, termasuk keterlibatannya pada percakapan internet tentang teori konspirasi. Ia tidak menyebut teori mana, namun menyatakan, âI think it’s irresponsible,â sekaligus menekankan bahayanya bersifat menyeluruh.
Ia menggambarkan dorongan yang terasa seperti bisikan di kepala: âThere’s a voice in my head that says, ‘You don’t want to click on that’, and I’ll click on it. It’s like this compulsion.â Imbruglia mengatakan ia harus mengubah pengaturan agar tidak membiarkan âstress reliefâ menjadi aktivitas menggulir di ponsel saat tidurâkarena âIt’s just not healthy.â
Meski begitu, album ditutup dengan nada lebih optimistis lewat Beautiful Love, yang ditulis bersama Gary Lightbody dari Snow Patrol. Lagu itu, menurutnya, seperti nyanyian untuk merangkul kekurangan dan berdamai dengan pasang-surut hidup.
Ia menutup dengan metafora yang menggambarkan caranya memandang emosi: âI’ve always made the joke that I’ll never be a Buddhist because it’s a middle path,â katanya. âI like the pendulum to swing. Whether it’s extreme joy or extreme pain, I like to feel the experience of life.â












