Olahraga

FIFA dan Hal-Hal yang Menggerus Sepak Bola

×

FIFA dan Hal-Hal yang Menggerus Sepak Bola

Sebarkan artikel ini
FIFA dan Hal-hal yang Merusak Sepak Bola Bola 25 Juni 2026
Ilustrasi: FIFA dan Hal-hal yang Merusak Sepak Bola

jurnalistik.co.id – Sepak bola modern sering dibicarakan sebagai tontonan yang kian rapi, tetapi di baliknya selalu ada tarik-menarik antara nilai sportivitas dan logika hasil. Di momen-momen tertentu, ketidaksempurnaan—dan pilihan manusia—justru menjadi bagian dari cerita besar permainan.

Andai video assistant referee (VAR) sudah hadir sejak Piala Dunia 1986 di Meksiko, barangkali tak akan ada “The Hand of God” milik Diego Armando Maradona. Bahkan, jika VAR sudah diterapkan saat Argentina berduel dengan Inggris di perempat final, bisa saja nasib pertandingan berbentuk berbeda, dan mimpi suporter Inggris yang patah di babak delapan besar tak akan terjadi.

Namun, saat itu VAR belum ada. Teknologi belum sampai ke titik itu, dan cara pandang manusia pun belum mengarah ke sana. Pada sisi lain, “sisi manusia Maradona” pun tersingkap melalui sebuah tindakan yang dinilai buruk dan tidak sportif.

Maradona, ketika menjemput momen tersebut, memperlihatkan pendekatan yang tidak jujur dan manipulatif. Ia menggunakan tangannya untuk “meninju” bola sehingga insiden itu tampak seolah sedang menyundul si kulit bundar. Kiper Inggris, Peter Shilton, dikabui, wasit teperdaya, dan seluruh dunia tertipu.

Belakangan, entah diilhami oleh siapa, Maradona menyebut golnya itu sebagai “gol tangan Tuhan”. Ungkapan tersebut seolah membuat Tuhan terlibat dalam lahirnya gol paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia itu.

Pada hari itu—22 Juni 1986—Maradona menampakkan dua wajah sekaligus: baik dan buruk. Setelah kontroversi, ia kemudian menampilkan sisi baiknya sebagai “dewa” sepak bola melalui gol terbaik abad 20 lewat solo run ke gawang Inggris.

Gocekan maut dari “si boncel” melejitkan namanya ke langit ke tujuh. Dalam satu laga berbalut konflik politik perebutan pulau Malvinas, ia pun mempertemukan sisi yang mengagumkan dan sisi yang merusak dalam satu narasi.

Saya mencintai sepak bola karena sihir Maradona itu. Ada pula, menurut penulis, “setengah sihir” yang lain—yakni momen ketika Bambang Nurdiansyah dan kawan-kawan menyelinap dalam barisan negara-negara Asia yang mengincar Piala Dunia 1986.

Tetapi, untuk timnas kesayangan, mimpi itu tidak berlanjut. Pecandu bola harus berpisah dengan harapan tampil di Piala Dunia karena disingkirkan Korea Selatan. Jarak menuju panggung Piala Dunia pun terasa lebih dekat pada 1986 dibandingkan 2026, ketika wajah timnas Indonesia berubah hampir total karena dibanjiri pemain diaspora.

Pada Pra Piala Dunia 1986, jarak menuju Meksiko tinggal 3–4 laga, dengan dua negara yang terjadwal berhadapan versus Indonesia. Dalam kerangka itu, sportivitas memang dijunjung, tetapi dalam praktik ia bisa menjadi nisbi.

Maradona mungkin menjunjung nilai kejujuran dan persahabatan, tetapi dalam momen tertentu ia melanggarnya. Di sepak bola modern, penulis memberi gambaran lain: seorang bek tengah akan lebih memilih melanggar pemain dengan risiko kartu merah atau kartu kuning ketimbang memberi gol yang membuat timnya kalah.

Contoh semacam itu bukan sekadar wacana. Dalam perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, tepatnya di babak perempat final yang mempertemukan Uruguay versus Ghana, Luis Suarez melakukan tindakan yang disengaja agar peluang Ghana batal menjadi gol.

Suarez secara telanjang menahan bola (handsball) agar bola tidak berbuah gol. Di saat yang krusial, ia berada di garis gawang dan menangkap bola sehingga Ghana kehilangan momen untuk mencetak angka. Konsekuensinya jelas: Suarez diganjar kartu merah dan Uruguay dihukum penalti.

Di balik itu, Suarez melakukannya demi membawa negaranya ke kotak “statistika”. Logika yang ditangkap penulis adalah sederhana: lebih baik tidak sportif selama peluang besar Ghana tidak berbuah gol.

Karena itu, menerima kartu merah dan dihukum penalti dinilai meningkatkan peluang Uruguay untuk menggagalkan peluang Ghana, yakni 50:50. Tragedi pun tak terelakkan saat tendangan penalti Gyan Asamoah membentur tiang gawang.

Kedua negara kemudian menentukan nasib lewat adu penalti. Ghana tersingkir setelah keok 2–4 dalam babak tos-tosan.

Menariknya, dunia tidak mengutuk Suarez seperti halnya pecandu sepak bola Inggris yang mengumpat Maradona. Sebelum VAR mengintervensi, sepak bola digambarkan sebagai permainan yang lengket dan intim dengan ketidaksempurnaan serta ketidakpastian.

Bahkan ketika pertandingan dikendalikan wasit dan dua penjaga garis, rasa “tidak pasti” itu tetap terasa sebagai bagian dari permainan. Di situlah, menurut penulis, manusia mengambil keputusan dengan seluruh konsekuensi moral dan kompetitifnya.

Pada akhirnya, yang menggerus bukan hanya teknologi atau aturan—melainkan cara manusia memaknai kemenangan dan nilai fair play. Sepak bola tetap menyimpan dua sisi: keindahan yang lahir dari bakat sekaligus keputusan yang menabrak prinsip, terutama ketika sistem memilih untuk tidak “menyelesaikan” semuanya.