jurnalistik.co.id – Kasus obesitas dengan diagnosis baru di Inggris dilaporkan meningkat lebih cepat pada kelompok usia yang lebih muda, menurut sebuah kajian yang dipublikasikan di jurnal The Lancet. Studi tersebut menyoroti percepatan pada usia 20-an dan 30-an, sekaligus menunjukkan bahwa dampaknya tidak merata di seluruh populasi.
Tim peneliti menemukan bahwa angka diagnosis baru untuk mereka yang berusia 30 hingga 39 tahun hampir 20% lebih tinggi pada periode 2024-25 dibandingkan 2019-20. Sementara itu, untuk kelompok usia 20 hingga 29 tahun, kasus baru melonjak sebesar 16%. Dengan kata lain, kenaikan pada usia yang lebih muda berlangsung lebih cepat daripada yang terlihat pada kelompok usia yang lebih tua.
Meskipun demikian, usia yang paling sering menjadi titik diagnosis tetap berada pada kisaran 40-an dan 50-an. Para ahli menilai tren diagnosis yang semakin dini ini menjadi perhatian serius, karena obesitas terkait dengan peningkatan risiko berbagai penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker.
Lonjakan angka diagnosis baru pada kelompok usia muda
Dalam analisisnya, tim menggunakan catatan pasien NHS untuk orang dewasa sebanyak 55 juta data. Mereka mengecualikan individu yang sebelumnya sudah tercatat mengalami obesitas, sehingga fokusnya adalah pada orang-orang yang mulai didiagnosis pada periode yang dibandingkan.
Untuk kelompok usia 30-39 tahun, terdapat 24,1 kasus diagnosis baru per 1.000 orang pada 2024-25, dibandingkan 20,3 per 1.000 pada 2019-20. Pada kelompok usia 20-29 tahun, angkanya mencapai 20,3 per 1.000, naik dari 17,5 lima tahun sebelumnya.
Tim juga melaporkan bahwa laju kasus baru justru menurun pada usia 60-79 tahun. Para peneliti menyatakan hal ini mungkin dipengaruhi oleh penggunaan obat penurun berat badan, mengingat kelompok usia tersebut lebih berpeluang membiayainya sendiri sementara akses di NHS dibatasi.
Secara keseluruhan, proporsi orang yang tercatat mengalami obesitas meningkat dari 26,2% menjadi 30,3% selama periode yang diteliti. Temuan ini menegaskan bahwa obesitas tidak hanya menjadi masalah kesehatan yang menetap, tetapi juga bergerak lebih cepat di segmen usia tertentu.
Perbedaan menurut etnis dan tingkat ketertinggalan
Selain memetakan perubahan berdasarkan kelompok usia, tim juga menemukan adanya perbedaan bermakna antar kelompok etnis. Pada kelompok non-kulit putih, kejadian obesitas dengan awitan lebih dini dilaporkan lebih sering. Sementara itu, wilayah yang memiliki tingkat ketertinggalan paling tinggi juga mengalami kenaikan yang lebih tajam dibanding area lain.
Para peneliti menyebut pola-pola semacam ini sebelumnya memang sudah dikenal dalam konteks obesitas. Namun akselerasi pada kasus baru di kalangan dewasa muda dinilai lebih tidak terduga dibandingkan pola yang selama ini terlihat.
Alasan yang diduga mempercepat kenaikan
Kepala peneliti, Robert Fletcher, menjelaskan bahwa kajian mereka tidak meneliti penyebab langsung di balik kenaikan tersebut. Meski demikian, ia merasa ada tiga faktor kunci yang kemungkinan berkontribusi pada perubahan tren ini.
Menurut Fletcher, orang dewasa pada rentang usia 20-an dan 30-an adalah kelompok yang tumbuh besar pada masa ketika pasar makanan tidak sehat mengalami “boom”. Ia mengatakan mereka “telah dikelilingi oleh makanan tidak sehat” sepanjang masa pembentukan diri. Ia menambahkan, “They have been surrounded by unhealthy food in their formative years. On our high streets there has been a proliferation of takeaways and fast food outlets and unhealthy food has been heavily advertised as these age groups have been growing up.”
Fletcher juga menilai bahwa pandemi yang diikuti krisis biaya hidup kemungkinan memberi dampak yang lebih besar pada kelompok usia yang lebih muda. Ia menyebut tekanan mengasuh anak, bekerja dari rumah, serta semakin sulitnya mempertahankan pola hidup sehat karena inflasi ikut mendorong biaya makanan bergizi. Ia mengatakan, “The stress of looking after children, while working from home and then being able to afford healthy food as inflation increased, has made healthier lifestyles more difficult,”.
Pernyataan Fletcher mendapat persetujuan dari Sarah Perman, yang berasal dari Association of Directors of Public Health. Ia mengatakan pilihan yang tidak sehat kini mendominasi berbagai ruang konsumsi sehari-hari, termasuk “our supermarkets, corner shops and fast food outlets”.
Sarah Perman juga menekankan bahwa paparan pemasaran makanan tidak sehat terjadi sejak sangat dini. Ia menyatakan, “From infancy, children and young people are bombarded with advertising that encourages an unhealthy diet.” Ia menambahkan bahwa faktor ekonomi dan kemudahan akses berperan besar, karena “It is also far cheaper and easier for individuals to consume foods and drinks high in fat, sugar, and salt than healthier alternatives.”
Penilaian tersebut sejalan dengan temuan Research dari Food Foundation yang disebutkan dalam laporan. Kajian itu mendapati bahwa makanan yang sehat “twice as expensive per calorie than unhealthy foods”.
Di sisi lain, Katharine Jenner dari Obesity Health Alliance menyebut lingkungan tempat orang-orang usia 20-an dan 30-an tumbuh memiliki pengaruh besar terhadap perilaku yang dapat membentuk kebiasaan jangka panjang. Ia mengatakan lingkungan tersebut berpengaruh pada “habit-forming behaviours”.
Jenner juga mengaitkan peran lingkungan digital dengan kebiasaan makan di kalangan usia muda. Ia menyatakan bahwa pada kelompok yang lebih muda, penggunaan aplikasi makanan dan waktu yang dihabiskan di media sosial kemungkinan lebih tinggi. Dalam kaitannya dengan pandemi, ia menambahkan bahwa pandemi mengganggu aktivitas fisik dan kebiasaan lainnya di “crucial moment”.
Respons dan kekhawatiran terhadap kesenjangan
Temuan ini juga dinilai menguatkan peringatan terkait ketimpangan kesehatan. Prof Sir Michael Marmot dari University College London, yang dikenal sebagai salah satu pakar utama isu ketidaksetaraan di Inggris, menggambarkan hasil kajian sebagai sesuatu yang “concerning”. Ia menilai, temuan itu menjadi “further evidence” mengenai bagaimana kesenjangan melebar sejak masa pandemi.
Juru bicara Department of Health and Social Care menyatakan pemerintah sedang mengambil langkah tegas dalam menanggapi obesitas. Ia mengatakan pemerintah mengambil “decisive action” termasuk pembatasan baru iklan makanan “junk food” serta target penjualan makanan sehat.
Dengan data yang menunjukkan kenaikan diagnosis baru pada usia muda berlangsung lebih cepat, studi ini menempatkan fokus pada kebutuhan pencegahan yang lebih awal. Para ahli menilai, ketika diagnosis datang pada usia yang lebih dini, efek jangka panjang terhadap risiko penyakit yang terkait obesitas menjadi semakin mendesak untuk diantisipasi.












