jurnalistik.co.id – Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, memastikan dirinya tetap menerima bayaran penuh dari FIFA meski ditolak masuk ke Amerika Serikat menjelang Piala Dunia 2026. Keputusan itu menegaskan bahwa remunerasi untuknya tidak ikut berubah meski ia gagal menjalankan tugas di turnamen.
Artan sebelumnya telah ditunjuk sebagai salah satu dari 52 ofisial pertandingan untuk Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Pria berusia 34 tahun tersebut kemudian menghadapi hambatan saat tiba di Amerika Serikat untuk memulai rangkaian tugasnya.
Pada Sabtu (6/6/2026), Artan ditolak masuk oleh otoritas Amerika Serikat saat tiba di Bandara Internasional Miami. Setelah penolakan itu, ia ditahan selama lebih dari 11 jam sebelum akhirnya dipulangkan melalui Istanbul dan kembali ke Somalia.
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan Artan “tidak dapat diterima karena masalah hasil pemeriksaan keamanan” serta menyebut adanya “asosiasi dengan anggota organisasi teroris yang dicurigai.” Di tengah proses tersebut, Artan memilih membantah tuduhan yang dilekatkan kepadanya.
Artan menyampaikan bahwa ia memiliki dokumen yang sah kepada The New York Times. Ia menegaskan memiliki “dokumen yang benar” dan “visa yang benar” sebelum berangkat, sekaligus menyatakan telah memiliki akreditasi resmi dari FIFA sebagai ofisial pertandingan.
Sementara itu, FIFA tetap memastikan Artan menerima pembayaran penuh seperti ofisial lainnya meski ia tidak dapat menjalankan tugasnya di turnamen. FIFA juga menegaskan proses imigrasi sepenuhnya berada di tangan negara tuan rumah, bukan organisasi sepak bola dunia tersebut.
Besaran total bayaran para wasit untuk turnamen tersebut disebut belum diumumkan dan akan ditentukan setelah kompetisi berakhir. Namun, Artan tetap termasuk dalam daftar penerima remunerasi meski tidak memimpin satu pun pertandingan selama Piala Dunia berlangsung.
Setelah insiden penolakan tersebut, Artan mendapat sambutan besar saat kembali ke Somalia pada Rabu (10/6/2026). Ia menyatakan tekad untuk kembali tampil di edisi Piala Dunia berikutnya.
Di luar peristiwa di Amerika Serikat, Artan dikenal sebagai salah satu wasit terbaik di Afrika. Ia juga pernah dinobatkan sebagai Wasit Pria Terbaik Konfederasi Sepak Bola Afrika 2025, serta disebut seharusnya menjadi wasit pertama dari Somalia yang bertugas di Piala Dunia.
Setelah insiden itu, karier Artan tidak berhenti pada rencana kembali ke Piala Dunia. Ia kemudian ditunjuk untuk memimpin laga UEFA Super Cup pada Agustus mendatang antara Paris Saint-Germain dan Aston Villa.
Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, menyatakan bahwa pihaknya ingin menunjukkan penghormatan kepada Artan atas kualitas kepemimpinannya di lapangan. Dengan demikian, meski sempat terhenti di salah satu agenda terbesar sepak bola dunia, Artan tetap mendapatkan peluang memimpin pertandingan di level klub Eropa.
Kabar bahwa FIFA tetap menggaji Artan sekaligus menjadi sinyal tentang posisi remunerasi para ofisial turnamen. Bagi Artan, keputusan itu menjadi penguat bahwa kontribusinya sebagai wasit yang telah ditunjuk tidak hilang hanya karena hambatan administratif saat menuju lokasi pertandingan.
Penolakan saat kedatangannya di Miami membuat rangkaian tugas Artan di Piala Dunia 2026 berhenti sebelum ia sempat menginjakkan kaki di lokasi pertandingan. Namun, dari sisi FIFA, statusnya tetap dipandang sebagai bagian dari sistem remunerasi resmi, sehingga hak pembayaran disebut tidak berubah meski realisasi tugasnya terhalang.
Dalam penjelasannya, Artan menempatkan pembuktian pada dokumen dan akreditasi yang ia siapkan sebelum berangkat. Ia juga menegaskan bahwa tuduhan yang disampaikan kepadanya tidak sesuai dengan persiapan administratif yang sudah dilakukan, serta memilih merespons dengan klarifikasi terbuka ketika proses pemeriksaan berlangsung.
Di saat kariernya sempat menghadapi hambatan administratif di Amerika Serikat, arah peluang berikutnya justru tetap terbuka. Ia kemudian memperoleh penugasan untuk memimpin UEFA Super Cup Agustus mendatang, dan itu menjadi bentuk pengakuan atas kualitas kepemimpinannya di pertandingan, sekaligus memperkuat tekadnya untuk kembali ke panggung Piala Dunia edisi berikutnya.












