Olahraga

Final Piala Dunia 2026: Apakah Akan Menentukan Pemenang Ballon d’Or? Lionel Messi Turut Bersaing

×

Final Piala Dunia 2026: Apakah Akan Menentukan Pemenang Ballon d’Or? Lionel Messi Turut Bersaing

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: Could World Cup final determine who wins Ballon d'Or? Is Lionel Messi in the hunt?

jurnalistik.co.id – Final Piala Dunia 2026 mempertemukan Spanyol dan Argentina di New York New Jersey Stadium, dan perhatiannya bukan hanya soal trofi juara. Hasil laga itu bisa menjadi faktor yang menentukan siapa yang akhirnya meraih Ballon d’Or 2026.

Di era ketika dominasi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo terasa “menjadi patokan”, perlombaan Ballon d’Or biasanya tetap punya satu atau dua nama yang dianggap paling dekat. Namun pada 2026, peta persaingannya lebih ramai, dengan banyak kandidat yang sama-sama membawa cerita besar.

Final Piala Dunia sebagai titik berat musim penghargaan

Secara historis, gelar Ballon d’Or kerap datang bersama keberhasilan di turnamen paling bergengsi pada tahun yang sama. Dalam 19 kemenangan Ballon d’Or terakhir, hanya empat yang direbut pemain yang tidak menjuarai UEFA Champions League, Piala Dunia, Kejuaraan Eropa, atau Copa America pada tahun yang sama.

Rinciannya menunjukkan kecenderungan itu: Messi mengisi tiga dari empat kasus tersebut (2010, 2012, 2019), sedangkan Ronaldo menjadi yang lainnya (2013). Dengan pola itu, nama-nama seperti Harry Kane, Erling Haaland, Kylian Mbappe, Michael Olise, Declan Rice, dan Jude Bellingham menghadapi beban pembuktian yang tidak kecil.

Ousmane Dembele justru pernah memenangi Ballon d’Or pada 2025 setelah menjuarai Champions League bersama Paris St-Germain. Jika pertahanannya tahun ini berjalan sukses, Dembele serta rekan setimnya Khvicha Kvaratskhelia akan kembali masuk dalam perhitungan utama.

Messi ingin meraih Ballon d’Or kesembilan, Yamal menyimpan harapan besar

Ke final Piala Dunia berarti dua kandidat yang saling beradu langsung pada momen paling “bernilai simbolik”. Messi, yang kini berusia 39 tahun, membidik Ballon d’Or kesembilannya—sebuah rekor yang akan memperpanjang pencapaiannya. Sementara itu, Lamine Yamal yang berusia 19 tahun berharap bisa memperbaiki hasilnya pada 2025, saat ia finis di posisi kedua.

Bukan hanya karena reputasi, pencapaian Messi di panggung Piala Dunia menjadi fondasi penting. Dengan delapan gol dan empat assist, ia membawa Argentina melaju ke final Piala Dunia untuk kedua kalinya secara beruntun. Dalam persaingan sepatu emas, Messi juga memimpin tipis: ia unggul satu assist dibanding Kylian Mbappe yang sama-sama mencetak delapan gol.

Jika Argentina menang pada Minggu, Messi akan menjadi pemain pertama dalam sejarah yang menjadi kapten untuk kemenangan Piala Dunia secara beruntun bersama negaranya.

Namun, Yamal juga punya “jawaban” versinya sendiri. Winger remaja itu mungkin belum menampilkan kilau yang sama seperti saat Spanyol menjuarai Euro 2024, dengan catatan satu gol dan nol assist dalam tujuh laga. Meski begitu, ia menjadi bagian kunci dari tim Spanyol yang melangkah ke final Piala Dunia pertama mereka sejak kampanye juara 2010.

Di level klub, Yamal menjalani musim yang tetap impresif bersama Barcelona: mencetak 24 gol dan 18 assist dalam 45 pertandingan. Ia sempat absen pada bulan terakhir musim akibat cedera, tetapi Spanyol hanya akan bisa menjaga narasi Yamal sebagai “yang terbaik di dunia” jika timnya benar-benar meraih Piala Dunia. Barcelona sendiri menjuarai La Liga, namun tersingkir di perempat final Champions League.

Kandidat lain: angka tajam, tapi harus selaras dengan trofi

Harry Kane datang dengan catatan yang tidak bisa diabaikan. Pada 2025-26, ia mencetak 61 gol dalam 51 pertandingan di seluruh kompetisi klub, saat Bayern Munich meraih double juara liga dan piala. Meski demikian, kekalahan Bayern di semifinal Champions League dan kekalahan Inggris di Piala Dunia bisa menjadi faktor yang membuat namanya sulit melewati ambang persaingan.

Kane sendiri pernah menegaskan logikanya menjelang musim penghargaan: “I could score 100 goals this season, but if I don’t win the Champions League or the World Cup, I’m probably not going to win the Ballon d’Or,” Kane said in November. “It’s the same with any player. You have to be winning those major trophies.”

Rekan setim Kane, Michael Olise, juga menunjukkan kualitas konsisten di Bavaria. Ia mencetak 22 gol dan membuat 31 assist dalam 52 pertandingan pada musim kedua bersama Bayern, lalu membawa momentum itu ke Piala Dunia. Di turnamen tersebut, Olise menjadi pemberi assist terbanyak dengan lima assist, tetapi ia dan rekan-rekannya tetap mengalami hasil yang membuat peluang meredup: kekalahan 2-0 Inggris di semifinal oleh Spanyol.

Kylian Mbappe membawa cerita berbeda. Ia mencetak delapan gol pada musim panas ini, sekaligus menempati puncak daftar pencetak gol di La Liga dan Champions League. Selama delapan tahun, ia dikenal sebagai salah satu penyerang paling konsisten. Namun di usia 27 tahun, Mbappe belum pernah meraih Ballon d’Or, dan setelah musim tanpa trofi bersama Real Madrid serta “heartache” di Piala Dunia, perubahan arah itu dinilai tidak mudah.

Di sisi lain, Erling Haaland menutup musim dengan trofi individu yang besar. Ia memenangkan Premier League Golden Boot untuk musim ketiga dalam empat musim terakhir. Dari sisi trofi tim, Haaland hanya meraih FA Cup dan Carabao Cup. Meski begitu, ia tetap menambah kilau reputasinya di Piala Dunia: mencetak tujuh gol saat Norwegia menjalani Piala Dunia pertama mereka dalam 28 tahun.

Pemegang Ballon d’Or, Ousmane Dembele, juga memiliki alasan untuk berharap. Ia memenangkan Ligue 1 dan Champions League untuk musim kedua berturut-turut, tetapi cedera membatasi kontribusinya secara produktif. Walau begitu, penampilan di Piala Dunia menghadirkan dorongan tepat waktu—dengan lima gol dan dua assist.

Rekan PSG Dembele, Khvicha Kvaratskhelia, menonjol saat Champions League musim lalu bergulir: ia mengemas 10 gol dan tujuh assist. Namun negaranya, Georgia, tidak lolos ke Piala Dunia, sehingga ceritanya tidak bertemu dengan panggung yang sama seperti kandidat lain.

Jude Bellingham pantas disebut karena ia membantu Inggris mencapai semifinal Piala Dunia. Tetapi kampanye yang seret akibat cedera dan minimnya gelar membuat peluangnya realistis menjadi lebih sempit. Sementara Declan Rice masuk dalam kandidat peringkat sepuluh besar karena perannya yang besar bagi Arsenal, yang menjuarai Premier League—dan hanya berjarak dua eksekusi penalti untuk menjadi juara Eropa.