Bisnis & Ekonomi

Serapan Gabah Bulog Madura Tembus 5.100 Ton, Target 2026 Terlampaui

×

Serapan Gabah Bulog Madura Tembus 5.100 Ton, Target 2026 Terlampaui

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Serapan Gabah Bulog Madura Tembus 5.100 Ton, Lampaui Target 2026

jurnalistik.co.id – Perum Bulog Cabang Madura mencatat capaian serapan gabah pada musim panen 2026 sudah melampaui target. Hingga Juli 2026, realisasinya mencapai 5.100 ton.

Capaian tersebut melewati angka target yang ditetapkan untuk tahun berjalan, yakni 4.000 ton. Dengan demikian, Bulog Madura lebih cepat mengamankan stok menjelang periode-periode berikutnya.

Capaian melampaui target 2026

Pemimpin Cabang (Pinca) Perum Bulog Madura, Ahmad Rofi’i, menyebut produksi yang terserap berasal dari empat kabupaten di Madura, yaitu Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Penyerapan berlangsung selama puncak musim panen pada tahun ini.

Rofi’i menjelaskan target serapan 2026 sebesar 4.000 ton. Ia menyatakan, “Target serapan tahun 2026 sebesar 4.000 ton. Sampai Juli sudah mencapai sekitar 5.100 ton, sehingga target telah terlampaui,” kata Ahmad Rofi’i kepada Kompas.com, Kamis (16/7/2026).

Menurut dia, tambahan volume serapan ini juga tidak lepas dari penguatan pelaksanaan di lapangan pada fase-fase ketika panen terjadi. Bulog memaksimalkan proses penyerapan agar momentum panen tidak terlewat.

Target naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya

Rofi’i menilai pencapaian pada 2026 menjadi lebih menonjol karena target tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Ia menyebut target serapan pada 2026 meningkat dua kali lipat dibandingkan 2025.

Untuk 2025, Bulog Madura ditarget menyerap 2.000 ton gabah, namun angka tersebut belum tercapai. Karena itu, kenaikan target di 2026 juga menuntut penyesuaian strategi agar serapan dapat bergerak mengikuti dinamika musim panen.

Dalam upaya mengejar target, Bulog menerapkan percepatan penyerapan pada saat puncak panen berlangsung. Rofi’i menambahkan, “Karena itu, serapan harus dimaksimalkan saat panen berlangsung,” tambahnya.

Panen relatif singkat dan pola tanam memengaruhi peluang serap

Alasan strategi percepatan, menurut Rofi’i, berkaitan dengan rentang waktu panen padi di Madura yang tergolong singkat. Mayoritas petani di empat kabupaten tersebut, ujarnya, hanya menanam padi satu kali dalam setahun.

Setelah masa panen berakhir, sebagian lahan kemudian beralih ditanami komoditas lain, sehingga kesempatan untuk menyerap gabah pada periode padi menjadi terbatas. Kondisi ini membuat Bulog perlu memastikan operasional serapan berjalan efisien ketika panen masih berlangsung.

Bagi Bulog, pengaturan ritme penyerapan menjadi penting agar stok yang ditargetkan dapat dihimpun sebelum peluang panen menyempit. Dengan pendekatan tersebut, proses serapan dapat menutup jarak pencapaian dari target yang ditetapkan.

Kebiasaan petani yang menyimpan gabah sebagai cadangan

Selain faktor musim tanam, Bulog Madura menghadapi tantangan dari kebiasaan petani yang tidak terbiasa menjual seluruh hasil panennya. Rofi’i menjelaskan bahwa di Madura, gabah lebih banyak disimpan sebagai cadangan pangan keluarga.

Ia menggambarkan perbedaan karakter petani antara Madura dan beberapa daerah di Pulau Jawa. Rofi’i menyatakan, “Karakter petani di Madura memang berbeda. Kalau di Jawa menjual gabah sudah menjadi hal yang biasa, sedangkan di Madura gabah lebih banyak disimpan,” jelas Rofi’i.

Perbedaan cara pandang terhadap penjualan hasil panen tersebut membuat Bulog perlu bekerja lebih intensif dalam pendekatan kepada petani dan kelompok tani. Tujuannya agar sebagian hasil panen dapat diserap menjadi stok cadangan pangan pemerintah.

Dengan pola pendekatan yang lebih aktif, Bulog berupaya menyeimbangkan kebutuhan rumah tangga petani dengan target serapan yang telah ditetapkan. Ini juga membantu memperluas partisipasi penyerapan selama masa panen.

Harapan untuk penguatan stok dan stabilitas pasokan

Rofi’i menyebut capaian serapan pada 2026 diharapkan mampu memperkuat stok beras pemerintah. Pada saat yang sama, Bulog juga berupaya menjaga stabilitas pasokan pangan di wilayah Madura.

Ia menegaskan bahwa stok pangan nasional menjadi dasar mengapa serapan perlu dimaksimalkan pada setiap musim. Ketika serapan bergerak sesuai target, ketersediaan pangan dapat lebih terjaga, termasuk untuk kebutuhan di luar periode panen.

Dengan realisasi 5.100 ton hingga Juli 2026, Bulog Madura menunjukkan bahwa strategi percepatan serapan serta pendekatan kepada petani dan kelompok tani dapat menjawab tantangan musiman dan karakteristik lokal. Capaian ini menjadi modal penting untuk menghadapi siklus kebutuhan pangan berikutnya.