jurnalistik.co.id – Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) memulai rangkaian safari politiknya dari Provinsi Lampung. Jokowi tiba di Bandara Raden Inten II, Natar, Lampung Selatan, pada Jumat (26/6/2026).
Guru Besar Hukum Tata Negara dari Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof. Agus Riewanto menilai safari politik yang dimulai dari Lampung itu tidak sekadar agenda silaturahmi. Menurut dia, langkah tersebut dipakai untuk menjaga infrastruktur politik sekaligus mengukur kekuatan basis pendukung menjelang dinamika politik menuju Pilpres 2029.
“Tujuannya bukan comeback 2027, tetapi memastikan infrastruktur politiknya tetap hidup untuk 2029,” ujar Agus saat dihubungi Kompas.com pada Jumat (26/6/2026).
Agus juga menekankan bahwa pemilihan Lampung sebagai titik awal bukan keputusan yang diambil secara acak. Ia memandang daerah tersebut memiliki makna politik karena menjadi basis PDI-P, tetapi dimenangkan pasangan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2024.
“Lampung bukan pilihan acak. Ini ‘kandang banteng’ PDI-P yang justru dimenangkan Prabowo-Gibran 58 persen di Pilpres 2024. Dengan memulai dari sini, Jokowi mengirim 3 pesan,” kata Agus.
Pesan pertama, menurut Agus, adalah upaya menunjukkan bahwa Jokowi masih memiliki basis elektoral yang berdiri sendiri di luar mesin PDI-P. Ia menilai sinyal tersebut ingin memperlihatkan kemampuan konsolidasi politik Jokowi tanpa bergantung sepenuhnya pada struktur partai tertentu.
“Pertama, ia masih memiliki basis elektoral yang mandiri di luar mesin PDI-P,” ujar Agus.
Pesan kedua terkait posisi strategis Lampung sebagai pintu masuk Pulau Sumatera. Agus menilai penguasaan narasi di wilayah tersebut dapat memberikan efek psikologis terhadap provinsi tetangga.
“Kedua, Lampung adalah ‘pintu gerbang Sumatera’. Penguasaan narasi di sini punya efek psikologis ke provinsi tetangga,” kata dia.
Pesan ketiga, lanjut Agus, adalah menjadikan Lampung sebagai lokasi untuk menguji soliditas jaringan relawan sebelum bergerak ke wilayah dengan dinamika politik yang lebih kompleks. Ia menyebut tahap ini dipakai sebagai pengukuran awal sebelum masuk ke area yang cenderung lebih polar.
“Ketiga, ini uji coba paling aman untuk mengukur suhu mesin relawan Projo dan kepala daerah binaan sebelum masuk ke Jawa yang lebih polar,” ucap Agus.
Dalam pandangan Agus, relawan dan loyalis menjadi modal politik paling penting bagi Jokowi untuk mempertahankan pengaruhnya, terutama karena Jokowi tidak lagi memegang jabatan formal. Ia menilai aset politik yang paling mudah digerakkan adalah jejaring yang sudah terbentuk.
“Tanpa jabatan formal, relawan dan loyalis adalah satu-satunya aset cair Jokowi untuk konsolidasi politik,” kata Agus.
Oleh sebab itu, safari politik dinilai berfungsi sebagai sarana menjaga loyalitas jaringan politik agar tidak berpindah ke kubu lain. Agus menggambarkan safari sebagai ritual yang bertujuan merawat komitmen kelompok pendukung, termasuk agar tidak bermigrasi ke arah tertentu.
“Safari adalah ritual untuk menjaga loyalitas agar tidak migrasi ke kubu Prabowo, PDI-P, atau partai lain,” ujar Agus.
Dengan cara itu, Agus menilai tujuan utama langkah Jokowi bukan untuk kembali maju dalam waktu dekat. Fokusnya, menurut dia, adalah memastikan jaringan politik Jokowi tetap terpelihara untuk menghadapi kontestasi politik mendatang.
Penilaian Agus menempatkan Lampung sebagai ruang awal yang memberi pembacaan sekaligus pengujian. Dari sisi elektoral, narasi, hingga kesiapan jaringan relawan, safari yang dimulai dari Natar dipandang menjadi rangkaian strategis menuju arah politik setelah Pilpres 2024.
Lebih jauh, langkah tersebut juga dipahami sebagai upaya menjaga keberlanjutan pengaruh melalui komunikasi yang terhubung dengan basis-basis yang sudah ada. Dalam kerangka itulah, safari politik di Lampung menjadi bagian dari strategi yang diarahkan pada pemeliharaan infrastruktur politik menuju Pilpres 2029.












