Hukum & Kriminal

George Cottrell: aristokrat sekutu Farage yang dihukum penipuan AS, sorotan soal tunjangan

×

George Cottrell: aristokrat sekutu Farage yang dihukum penipuan AS, sorotan soal tunjangan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: George Cottrell: Who is the aristocrat and convicted criminal at heart of Farage controversy?

jurnalistik.co.id – Kontroversi terbaru di Reform UK mencuat setelah muncul laporan bahwa Nigel Farage diduga tidak mendeklarasikan bantuan yang diberikan oleh seorang sekutu lamanya. Laporan itu menyoroti sosok George Cottrell, yang oleh sejumlah kalangan disebut “Posh George”.

Menurut Sunday Times, dukungan yang diberikan Cottrell mencakup antara lain personel keamanan serta staf media sosial yang menangani konten online Farage pada periode sebelum Farage menjadi anggota parlemen. Dalam kerangka aturan parlemen, anggota baru diharuskan melaporkan kepentingan finansial dan “registrable benefits” yang diterima dalam 12 bulan sebelum pemilihan.

Reform UK membantah adanya pelanggaran. Robert Jenrick, juru bicara Treasury, mengatakan kepada BBC bahwa bantuan tersebut tidak perlu didaftarkan karena diberikan dalam kapasitas “purely personal capacity” sebelum Farage terpilih.

Siapa George Cottrell

Cottrell dikenal sebagai pengusaha kripto sekaligus aristokrat. Ia lahir di Gloucester pada Oktober 1993, dan ibunya, Honourable Fiona Cottrell, digambarkan sebagai bangsawan. Ayahnya, Baron Manton ke-3, menurut Sunday Times mewarisi bisnis keluarga di bidang sabun.

Cottrell dilaporkan meninggalkan pendidikan tanpa A-level setelah dikeluarkan dari Malvern College di Worcestershire. Pemecatan itu disebut terjadi karena “gambling addiction”.

Hubungan Cottrell dengan Farage tidak dijelaskan secara rinci sejak awal, namun ia tercatat menjadi relawan untuk Farage pada pemilihan sela di Essex pada 2015. Pada usia 22 tahun, Cottrell kemudian diberi peran sebagai kepala penggalangan dana Ukip.

Mereka juga tampak bersama pada hari referendum Brexit pada 2016. Setelah satu bulan berikutnya, Cottrell ditangkap di Amerika Serikat ketika ia dan Farage bersiap kembali ke Inggris usai Konvensi Partai Republik.

Kasus di AS dan vonis penipuan

Sunday Times menyebut bahwa penangkapan itu terkait operasi FBI. Cottrell disebut tertangkap saat menyetujui untuk mencuci uang bagi agen penyamar yang berpura-pura sebagai pelaku perdagangan narkoba.

Farage saat itu menyatakan terkejut dengan kejadian tersebut dan menegaskan tidak pernah memiliki kecurigaan mengenai Cottrell. Farage juga mengatakan ia tidak dapat dimintai tanggung jawab atas tindakan “what everyone around me does”.

Cottrell menghadapi ancaman 20 tahun penjara yang berkaitan dengan 21 dakwaan terkait pencucian uang, penipuan, pemerasan, dan pemerasan ekstorsif. Pada akhirnya ia mengakhiri perkara melalui kesepakatan pembelaan, mengaku bersalah atas dakwaan wire fraud, dan menjalani hukuman delapan bulan.

Dalam perjanjian pengakuan bersalah tersebut, Cottrell menyatakan: “I falsely claimed that I would launder the criminal proceeds through my bank accounts for a fee.” Ia menambahkan bahwa alih-alih mencuci uang, ia dan seorang rekan merencanakan untuk menyimpan uang tersebut bagi kepentingan mereka sendiri.

Kiprah setelah bebas dan kedekatan dengan Farage

Setelah dibebaskan, Cottrell kembali ke Inggris. Ia kemudian menjalin hubungan dengan Georgia Toffolo, tokoh televisi realitas yang disebut sebagai pemenang “I’m a Celebrity… Get Me Out of Here”.

Lalu, ia dilaporkan pindah ke Montenegro. Sunday Times menyebut Cottrell menjadi “key player” di Tether.bet, sebuah situs taruhan dan kasino online yang menawarkan taruhan besar atas olahraga dan politik, baik dalam bentuk uang tunai maupun mata uang kripto.

Laporan itu juga mengaitkan “Tether” sebagai bagian dari mata uang digital yang dimiliki Christopher Harborne, seorang miliarder yang pada awal 2024 memberikan hadiah senilai £5 juta kepada Farage. Saat ini, Parliamentary Standards Commissioner disebut tengah menyelidiki apakah Farage melanggar aturan terkait hadiah tersebut.

Farage mengatakan Harborne memberinya uang untuk membiayai keamanan pribadi. Ia menyebut hadiah itu “purely private” dan “wasn’t political in any sense at all”.

Sunday Times melaporkan pada 2023, Cottrell mempertemukan Farage dengan Jack Anderton, aktivis politik sayap kanan berusia 25 tahun dari Liverpool. Pertemuan itu disebut bertujuan membantu mengelola operasi media sosial, terutama di TikTok, ketika keterlibatan publik Farage meningkat.

Cottrell dilaporkan membayar Anderton dengan gaji senilai sekitar ÂŁ55.000 per tahun. Masih pada tahun yang sama, Cottrell juga disebut membantu merundingkan biaya sebesar ÂŁ1,5 juta agar Farage bisa tampil di “I’m a Celebrity…”, sebelum kemudian mulai menyediakan keamanan bagi Farage.

Keamanan yang disebut diberikan mencakup personel yang terutama berasal dari mantan pasukan elite, serta pengemudi. Setelah Farage mengumumkan akan maju sebagai kandidat Reform UK pada pemilihan umum 2024 dan kemudian menjadi pemimpin partai, ia dilaporkan sering melakukan perjalanan bersama Cottrell.

Salah satu momentum tersebut terjadi saat peluncuran kampanye Farage di Clacton, Essex, ketika Farage disiram milkshake. Pada periode yang sama, Sunday Times menyebut Cottrell mulai menyewa sebuah properti residensial dekat Buckingham Palace, yang diperkirakan dibayar dengan kisaran puluhan ribu poundsterling per bulan, dan tempat Farage dapat menginap.

Pada 4 Juli 2024, Farage terpilih menjadi anggota parlemen untuk Clacton. Kemudian, ia tercatat mendaftarkan perjalanan ke Belgia senilai ÂŁ9.253 pada April 2024 yang didonasikan oleh Cottrell, serta menambahkan donasi ÂŁ15.276 dari Cottrell untuk penerbangan domestik AS pada Desember 2024.

Di Register of Members’ Financial Interests, tidak disebutkan dukungan lain dari Cottrell. Kini, Cottrell juga disebut sedang melobi Presiden Amerika Serikat agar mendapatkan pengampunan.

Selain itu, Cottrell disebut ikut menulis buku “How to Launder Money”, yang mengklaim sebagai panduan bagi penegak hukum, jaksa penuntut umum, dan pembuat kebijakan.

Sikap Farage

Juru bicara Farage menanggapi laporan tersebut dengan menolak seluruh narasi. Ia mengatakan: “It comes as no surprise that the Sunday Times has chosen to publish this baseless and contrived story, covering a period of time when Nigel Farage was not even an active politician let alone an elected one, given that the newspaper backed the Labour Party at the last general election.”

Lebih lanjut, juru bicara itu menambahkan: “Contrary to the story’s tone, no parliamentary rules have been broken.”

Dengan perbedaan versi antara Reform UK dan laporan media, persoalan deklarasi bantuan serta konteks penerimaan manfaat menjadi titik sorot dalam kontroversi yang kini kembali membesar di sekitar kepemimpinan Farage.