Bisnis & Ekonomi

Penjual E-commerce Stagnan, Konsumen Melaju – Teknologi

×

Penjual E-commerce Stagnan, Konsumen Melaju – Teknologi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pertumbuhan Penjual di E-commerce Stagnan, Konsumen Melesat - Teknologi

jurnalistik.co.id – Jakarta—Riset NEXT Indonesia Center menggarisbawahi perubahan cara masyarakat Indonesia beraktivitas di internet yang belakangan ini cenderung mengarah pada konsumsi.

Temuan tersebut muncul saat ekonomi digital disebut diproyeksikan mencapai US$100 miliar atau sekitar Rp1.800 triliun. Dalam proyeksi itu, riset NEXT menilai pola penggunaan platform digital tidak berhenti pada pencarian informasi, melainkan makin dominan bergeser menjadi aktivitas berbelanja dan menikmati layanan.

NEXT Indonesia Center kemudian mengidentifikasi bahwa masyarakat—khususnya kelas menengah—lebih banyak menempatkan diri sebagai konsumen melalui berbagai platform digital. Penekanan ini menjadi inti dari kajian yang disusun dengan tajuk Perilaku Digital Kelas Menengah.

Dalam penelitian tersebut, NEXT mengolah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) periode Maret 2025. Dengan basis data itu, NEXT mencoba membaca bagaimana aktivitas digital berhubungan dengan pemanfaatan ekonomi digital dalam keseharian masyarakat.

Peneliti NEXT Indonesia Center Rezky Reza Pratama menyebutkan bahwa manfaat yang paling mudah terlihat dari ekonomi digital justru masih bertumpu pada konsumsi.

“Manfaat ekonomi digital masih lebih banyak dinikmati sebagai sarana konsumsi dibandingkan sebagai sumber penghasilan,” kata Peneliti NEXT Indonesia Center Rezky Reza Pratama dalam keterangan resminya, Minggu (5/7/2026).

Menurut NEXT, kondisi ini tercermin dari cara masyarakat menggunakan ruang digital: transaksi dan aktivitas di platform memang terjadi, tetapi nilai tambah yang lebih luas—khususnya kesempatan memperoleh penghasilan—belum menjadi porsi dominan dalam pemanfaatan yang berlangsung.

Riset juga menempatkan perhatian pada bagaimana ukuran keberhasilan ekonomi digital seharusnya dibaca. NEXT tidak berhenti pada besarnya transaksi yang tercatat, karena ada dimensi lain yang menurut riset perlu ikut dihitung.

“Sementara ukuran keberhasilan tidak cukup dilihat dari besarnya transaksi, tetapi juga dari berapa banyak masyarakat yang mampu memperoleh penghasilan melalui platform digital,” kata Rezky.

Dengan cara pandang tersebut, NEXT menilai bahwa arah perkembangan ekonomi digital tidak semestinya diukur hanya dari ramai atau tidaknya aktivitas di platform. Riset sebaliknya mengajak melihat sejauh mana platform digital bisa membuka jalan agar masyarakat memperoleh pendapatan, bukan semata menjadi pihak yang berbelanja.

Dalam konteks riset NEXT, keberhasilan ekonomi digital menjadi lebih jelas ketika masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen, melainkan juga mampu memanfaatkan kanal digital untuk menghasilkan pemasukan. Penekanan ini sekaligus menjadi tolok ukur yang lebih berkaitan dengan dampak nyata terhadap kehidupan ekonomi pengguna.

Selain itu, riset NEXT juga menempatkan hasilnya sebagai bagian dari upaya membaca perilaku digital kelas menengah secara lebih terstruktur. Judul kajian yang mengusung Perilaku Digital Kelas Menengah menunjukkan bahwa fokusnya berada pada kebiasaan penggunaan internet, termasuk bagaimana kebiasaan itu berujung pada pola konsumtif.

Proses pengolahan data dari Susenas Maret 2025 kemudian menjadi pijakan untuk menyusun gambaran kebiasaan berinternet tersebut. NEXT menggunakan data periode tersebut agar analisis yang dihasilkan menggambarkan pola pada waktu yang spesifik, bukan sekadar kesan umum.

Riset NEXT juga menegaskan bahwa ekonomi digital dengan skala besar—sebagaimana disebut dalam proyeksi US$100 miliar atau setara Rp1.800 triliun—seharusnya tidak hanya dipahami sebagai pertumbuhan aktivitas di platform. Ekonomi digital, dalam kacamata riset, idealnya dipandang sebagai ekosistem yang memberi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan.

Namun, temuan NEXT memperlihatkan bahwa saat ini manfaat ekonomi digital masih lebih banyak dirasakan sebagai sarana konsumsi. Pada titik ini, masyarakat lebih sering berperan sebagai konsumen dibanding memperoleh penghasilan lewat aktivitas digital.

Dengan demikian, kajian NEXT menyampaikan pesan yang lebih tajam: pertumbuhan yang tampak dari transaksi tidak otomatis berarti pemerataan dampak ekonomi bagi pengguna. Ukuran yang relevan, menurut riset, adalah seberapa banyak masyarakat bisa bergerak dari konsumsi menuju kemampuan menghasilkan penghasilan melalui platform digital.

Riset NEXT Indonesia Center, lewat pengolahan data Susenas Maret 2025 dan pembahasan yang berangkat dari perilaku digital kelas menengah, pada akhirnya mengajak pembacaan ulang terhadap arah ekonomi digital. Ekonomi digital tidak hanya soal transaksi yang terus bergerak, tetapi juga soal peluang pendapatan yang bisa diakses oleh lebih banyak orang.

Di tengah proyeksi nilai ekonomi digital yang besar, NEXT menempatkan indikator keberhasilan pada kemampuan masyarakat memperoleh penghasilan. Dengan pendekatan itu, hasil riset menjadi bahan evaluasi mengenai seberapa jauh platform digital mampu mengubah peran pengguna dari sekadar konsumen menjadi pihak yang mendapatkan sumber penghasilan.