jurnalistik.co.id – Chelsea kini memiliki winger baru, Geovany Quenda, yang datang dengan ambisi besar: menapaki jalur Cristiano Ronaldo melalui pengalaman di Premier League. Ia juga dikenal punya kemiripan gaya bermain dengan Bukayo Saka.
Quenda berharap kepindahannya dari akademi Sporting menjadi langkah penting untuk mendapat tantangan dan eksposur lebih luas. Dari sisi gaya, ia sering dibandingkan dengan Saka, khususnya dalam cara mengolah bola dan bergerak di area sayap.
Perjalanan Quenda menuju level profesional tidak mengikuti pola yang umum. Salah satu momen paling diingatnya muncul saat ia masih belia, ketika datang lebih awal ke sesi latihan klub akar rumput Damaiense dengan mengenakan jeans dan sepatu.
Saat itu, ia sempat diberitahu tidak boleh ikut. Namun setelah menunjukkan sentuhan pertama yang terasa ringan dan dribel yang efektif ketika bola mengarah kepadanya, pelatih Ana Correia kemudian meyakinkan pihak klub agar “make an exception” untuk Quenda, sebagaimana ia kemudian ceritakan dalam wawancara dengan Sabado.
Quenda lahir di Guinea-Bissau dan pindah ke Portugal pada usia tujuh tahun. Ia harus beradaptasi cepat di lingkungan baru, sebelum akhirnya berkembang melalui Damaiense hingga masuk ke akademi Benfica.
Selanjutnya, ia bergabung dengan Sporting—rival di Kota Lisbon—dan perkembangan di sana membuat namanya cepat melejit di sepak bola Portugal. Kini, ia berada di tahap berikutnya setelah bergabung dengan Chelsea.
Menurut laporan, Quenda telah menyetujui kepindahan ke Chelsea sejak Maret 2025, tetapi pengumuman resminya baru dilakukan belakangan. Ia dikontrak hingga 2034 sebagai Portugal Under-21 yang siap menunjukkan kualitasnya di panggung yang lebih menuntut.
Ketika proses kepindahan berlangsung, Quenda juga didampingi keluarga dan orang-orang terdekat. Ia berangkat bersama ayah, ibu, saudara perempuan, teman-teman, agen, serta godfather-nya, Basaula Lemba, yang merupakan mantan pemain kelas atas di Portugal dan pernah membukukan 10 caps untuk Zaire.
Lemba disebut memegang peran berarti pada pengembangan awal Quenda sebelum Benfica pada akhirnya memasukkan dirinya ke sistem akademi pada 2017. Pada periode yang sama, Sporting dan Porto juga sudah mengamatinya.
Hal itu terungkap dari keterangan Fabio Roque, mantan pelatih usia muda. Ia menyampaikan, “We saw him as an under-10 player playing against us for Benfica,” dan menambahkan bahwa tim pemandu memantau perkembangannya melalui situs resmi Federasi Sepak Bola Portugal.
Roque menilai Quenda tampil “incredible and different” dan menyinggung bahwa disiplin belum selalu konsisten ketika masih muda, namun sikapnya dinilai sangat baik. Ia menyebut Quenda menuntut standar pada diri sendiri, percaya diri, sulit ditebak, berani, serta punya relasi yang kuat dengan bola.
Menariknya, pada era itu sempat ada “non-aggression pact” di antara tiga klub terbesar Portugal—Benfica, Sporting, dan Porto. Namun setelah Quenda mencetak gol melawan Sporting dalam laga penting untuk Benfica, ia akhirnya membuat langkah yang Roque gambarkan sebagai perpindahan yang “natural” ke Sporting.
Ketika Quenda bertukar akademi pada 2019, situasinya kemudian bergerak seolah berbalik. Roque menceritakan pengalaman menjelang Natal, ketika Sporting mengalami kekalahan berat dan kapten mereka cedera, lalu emosi tinggi mewarnai pertandingan.
Ia menambahkan, lima belas menit memasuki laga, sebuah kartu merah diterima sehingga tim harus beradaptasi. Meski begitu, Quenda dan rekan-rekannya tetap bertarung hingga skor imbang 0-0 bertahan.
Roque juga mengingat momen di babak pertama, saat ia berjalan menuju ruang ganti dan Quenda menepuk bahunya sambil berkata: “It’s OK, we’re going to win.”
Hasilnya sesuai keyakinan itu. Dari sepak pojok, bola memantul dan akhirnya jatuh kepada Geovany yang kemudian memasukkan bola ke gawang dengan tenang. Roque menilai momen itu menunjukkan “personality and belief,” dan menyimpulkan bahwa saat itu ia berpikir: “This guy is special.”
Berita Terkait
Quenda kemudian menanjak ke tim U-23 di bawah Tiago Teixeira. Menurut Teixeira, semua orang di akademi membicarakannya dan menilai Quenda sebagai salah satu pemain paling bertalenta dalam kelompok tersebut.
Teixeira menyebut bahwa mereka ingin Quenda berkembang bertahap, meski sebenarnya ia bisa saja melakukan debut lebih cepat. Ia juga mengingat sesi latihan ketika tim fokus pada set-piece dan tendangan bebas, lalu muncul candaan bahwa Quenda tidak akan mencetak gol dari free-kick.
Namun justru sebaliknya. Teixeira menceritakan Quenda mencetak empat atau lima gol secara beruntun, tersenyum, lalu berkata, “OK, finished for me.”
Bahkan jika Quenda kelak bergabung dalam tradisi winger hebat Sporting—termasuk Ronaldo, Luis Figo, dan Nani—Roque tetap menilai ia paling mirip dengan Bukayo Saka. Ia menyebut keunggulan Quenda pada “explosiveness,” kemampuan memainkan bola di dalam (inside), menjaga penguasaan, sifat yang tidak bisa diprediksi, serta kreativitas.
Roque juga menilai dari sisi bertahan, Quenda bahkan mungkin lebih kuat dibanding Saka pada tahap ini. Meski demikian, Roque menegaskan Saka sudah tampil konsisten di liga yang sangat kompetitif, dan menyebut pergerakan, umpan silang, serta umpan terakhir Quenda mengingatkannya pada Saka.
Selain itu, Roque mengatakan, “He’s one of the most impressive players I’ve seen.” Ia menyebut, di antara pemain yang lahir pada 2007, Quenda termasuk yang terbaik di dunia bersama Lamine Yamal dan Estevao. Harapannya sangat tinggi, tetapi ia juga mengingatkan bahwa karier panjang masih menunggu.
Saat berusia 16 tahun, Quenda bahkan sudah berlatih bersama skuad utama Ruben Amorim sebelum Amorim meninggalkan Sporting untuk Manchester United. Dari sana, ia mulai memecahkan catatan.
Pencapaian awal datang ketika Quenda mencetak gol hanya 24 menit saat debut melawan Porto, menjadikannya pemain termuda yang mencetak gol dalam Portuguese Super Cup. Berikutnya, ia juga menjadi pemain termuda Sporting yang mampu memulai dan mencetak gol di Liga Champions.
Quenda kemudian melampaui rekor Ronaldo sebagai pencetak gol termuda di Liga Portugal dan membangun posisi sebagai pemain reguler tim utama pada usia 17 tahun. Teixeira menambahkan bahwa Saka lebih langsung dan lebih cepat, tetapi ia merasa Quenda bisa lebih unggul ketika bermain di area dalam.
Teixeira juga menegaskan bahwa bakat Quenda jelas merupakan “once-in-a-decade talent for an academy.”
Proses menuju Chelsea juga tidak berlangsung mendadak. Quenda menjalani masa persiapan dengan mengikuti les bahasa Inggris dua pekan sekali, sekaligus membangun kekuatan fisik agar siap menghadapi tuntutan Premier League melalui latihan tambahan dan pekerjaan nutrisi.
Namun menjelang akhir musim di Sporting, ia mengalami kendala serius setelah menderita patah tulang metatarsal kelima—tulang di sisi luar kaki—yang membuatnya absen selama empat bulan. Timnya akhirnya finis di posisi kedua dan kalah di final piala dari klub yang lebih kecil, Torreense.
Selama periode pemulihan, Quenda banyak menjalani rehabilitasi di fasilitas latihan Chelsea di Cobham. Ia juga rutin berkomunikasi dengan pelatih saat itu, Liam Rosenior, serta beberapa pemain, termasuk rekan senegara Pedro Neto dan Dario Essugo.
Di saat yang sama, Quenda diam-diam datang menyaksikan pertandingan di Stamford Bridge, sambil menghindari terlihat. Ia juga disebut menargetkan peran reguler di tim utama Chelsea, dengan harapan bisa menjalani debut senior Portugal dalam waktu dekat.
Meskipun skuad Chelsea tidak kembali berlatih hingga Kamis, Quenda melapor lebih awal bersama sejumlah pemain lain agar memulai persiapan lebih cepat. Chelsea sendiri melakukan penyesuaian skuad dengan mempertimbangkan Quenda, termasuk situasi Alejandro Garnacho yang disebut bisa dilepas dan Jesse Derry yang dijadwalkan bergabung ke Sporting untuk memberi ruang.
Dalam rencana yang mungkin, Quenda juga dapat digunakan sebagai wing-back. Opsi ini dianggap selaras dengan karakter yang dibutuhkan Xabi Alonso, yang sebelumnya menggunakan pemain sayap lebih dalam di Bayer Leverkusen.












